0 Shares Views
[posts type=carousel-post-slider]

Ideologi Mahasiswa Arsitektur Indonesia

Oleh:Abd. Shalim tehupelarsury

 

di rangkai Dengan Reuni akbar, Mengenang kawan kawan Seperjuangan dari berbagai daerah dan Suku.semua satu dalam arsitektur

Sebuah catatan tentang  Kilas balik masyarakat Arsitektur Indonesia TKI-MAI (Temu Karya Ilmiah Mahasiswa arsitekture Indonesia)yang di sembahkan pada momentum temu karya ilmiah mahasiswa arsitektur Indonesia tahun 2017 di Jakarta yang berlangsung dari tanggal 27 Juli hingga 31 Juli 2017.

Kami Mahasiswa Indonesia Bicara  Tentang Arsitektur Indonesia
Pengaruh asing yang masuk ke Indonesia tanpa adanya kemampuan untuk menyaring pengaruh tersebut. Kecenderungan terjadinya Hegemoni sebagai dampaknya adalah terjadinya distorsi nilai dan dekadensi identitas nasional, kegamangan bangsa Indonesia atas identitasnya mengakibatkan hilangnya keyakinan dan semangat juang bangsa Indonesia sehingga identitas bangsa Indonesia tidak lagi mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dan mahasiswa sebagai penggerak perubahan sangar diperlukan untuk melakukan resistensi guna menjaga identitas nasional dan mempertahankan serta memperjuangkan resistensi bangsa dalam panggung percaturan dunia. Arsitektur sebagai faktor struktural pembentuk identitas bangsa menempati posisi yang sangat strategis untuk mewujudkan resistensi nasional dalam menyaring pengaruh asing. Medekadensi identitas bangsa Indonesia.                                                                ‘Ideologi Mahasiswa Arsitektur Indonesia’Kondisi Obyektif Secara redaksional, Kondisi Obyektif dalam Ideologi MAI (mahasiswa arsitek Indonesia) berbunyi:

Alumni MAI-Lubis ISTN, Atho Tadulako Pak, Andi UI, Asep Unbor, Manto Untar, Denny ISTN, Joyo univ. Jayabaya (Kiri ke kanan)

Perihal Arsitektur Indonesia Adanya kesan ekslusifitas arsitektur Belum adanya inplementasi nyata di lapangan terhadap ilmu arsitektur Indonesia. Tidak adanya kejelasan orientasi M.A.I terhadap arsitektur Indonesia pada saat menjadi mahasiswa dan pasca mahasiswa Kurangnya kesadaran M.A.I untuk mencari,meneliti dan menyimpulkan arsitektur Indonesia Kurangnya literatur arsitektur Indonesia Kurang kritisnya M.A.I
Prihal Pendidikan Nasional Adanya interfensi asing terhadap format pendidikan arsitektur Indonesia Adanya interfensi dosen terhadap MAI yang mendistorsi kreativitas mahasiswa. Institusi pendidikan arsitektur Indonesia miskin literatur arsitektur Indonesia Tidak adanya pemahaman kritis terhadap arsitektur luar untuk memberikan pemikiran objektif dalam pemilihan dan penggunaan arsitektur asing.
Prihal Masyarakat Indonesia Sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahui dan memehami ilmu arsitektur khususnya arsitektur Indonesia. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggali arsitektur Indonesia. Kurangnya pemberdayaan MAI dalam masalah penentuan kebijakan yang berhubungan dengan arsitektur Indonesia. Tidak/belum maksimalnya ketelibatan MAI dalam pendampingan, namun pada saat menjadi mahasiswa dan pasca menjadi mahasiswa getol akan adanya apresiasi masyarakat.

Whats on TKI FKMAI (Temu Karya Ilmiah-Forum Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia)Dengan berlatar-belakang perkembangan dunia Arsitektur Indonesia dengan berbagai permasalahannya serta tantangan yang harus dihadapi. Peranan maupun tanggung jawab bersama semua pihak di lingkungan disiplin ilmu Arsitektur dalam perguruan tinggi, dituntut secara nyata untuk turut aktif dalam menghadapi masalah dan tantangan tersebut. Sehubungan dengan hal ini,TKI-FK MAI merupakan kegiatan Mahasiswa Arsitektur Indonesia yang berlangsung dengan baik pada setiap tahunnya, sejak tahun 1982 dan merupakan suatu harapan untuk terus intens dan berkesinambungan.

Kenangan Jam gadang| Padang-Bukit Tinggi |TKI MAI 2002|

Bahwasanya berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serat jiwa kebangsaan yang tinggi dan idialisme yang dimiliki oleh Mahasiswa Arsitektur Indonesia, maka lahirlah suatu kesatuan atau kesepakatan pandangan mengenai “Temu Karya Ilmiah-Forum Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia” (TKI-FK MAI), yaitu:
1. Kesatuan pendapat Mahasiswa Arsitektur Indonesia di Jakarta tanggal 3 Oktober 1982 yang berbunyi “Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta sikap penuh tanggung jawab sebagai insan akademis dalam menjunjung tinggi TRI DARMA PERGURUAN TINGGI, Kami, Mahasiswa Arsitektur Indonesia telah sepakat dan berhasil melahirkan suatu kesatuan pendapat dalam menghadapi tantangan yang berkaitan dengan ruang lingkup Arsitektur”.
Dalam perjalanannya TKI-FK MAI tentunya banyak mendapatkan rintangan dan hambatan sebagai dinamikanya, baik pada tingkat pertemuan tahunan tersebut sampai pada implementasi hasil-hasil pertemuan. Hal ini sangat disadari dan dirasakan oleh seluruh Mahasiswa Arsitektur Indonesia yang tergabung dalam TKI-FK MAI. Dari rasa sadar akan hambatan-hambatan tersebut, maka dianggap perlu untuk kembali mengkomunikasikan hal-hal yang berhubungan dengan pengaplikasian kearsitekturan serta pengabdian kepada masyarakat.

Kenangan Kapal Ganda Dewata|TKI MAI.2000-Makassar

Maka munculah sebuah kesepakatan yang lahir dari hati nurani Mahasiswa Arsitektur Indonesia yang paling dalam yang dilandasi atas azas musyawarah dan mufakat. Yaitu:1. Perlu kejelasan suatu pandangan akan keberadaan dan identitas Arsitektur Nusantara.2. Perlu penekanan ideologi sebagai jiwa TKI-FK MAI yang bersumber.3. Perlu suatu cara untuk mengimplementasikan nilai-nilai ideologi sebagai jiwa Mahasiswa Arsitektur Indonesia.4. Perlu reposisi TKI-FK MAI dalam menghadapi kebutuhan dan tantangan masa depan.
Yang bertujuan untuk memperkenalkan lebih jauh akan pendidikan dan dunia Arsitektur Indonesia bagi masyarakat. Sebagai forum komunikasi ilmu pengetahuan antara pihak pemerintah, swasta, stakeholder dan masyarakat umum dalam menemukenali mencari pemecahan berbagai permasalahan di bidang arsitektur, kecerdasan lokal, memperkenalkan potensi sosial-budaya dan pariwisata Sulawesi Tenggara di tingkat nasional dan membumingkannya ke taraf international.
Dengan berpandangan umum, atas dasar kesadaran yang tinggi tentang perlunya Temu Karya Ilmiah-Forum Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia (TKI-FK MAI) dan menjadi suatu tantangan serta tanggung jawab moral bagi setiap insan Mahasiswa Arsitektur Indonesia sebagai suatu jiwa.
Pengertian jiwa Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia:a. Kebersamaan dan kekeluargaanb. Saling menghargaic. Rasa tanggung jawab
Berdasarkan uraian diatas Mahasiswa Arsitektur Indonesia telah sepakat untuk:1. Meningkatkan komunikasi dengan saling memperkuat serta tukar menukar pendapat antara Mahasiswa Arsitektur Indonesia.2. Turun memperkenalkan dunia arsitektur Indonesia kepada masyarakat.3. Mengambil bagian turun meberi sumbangih, menyumbangkan gagasan pemikiran dari pendidikan Arsitektur untuk masyarakat.4. Mencari dan menerima masukan-masukan dari semua unsur guna menunjang pendidikan Arsitektur yang berorientasi pengabdian masyarakat.

 

Ungkapan Cinta mahasiswa Arsitek makassar Univ.Bosowa (Univ 45)

Lets start with History…….
Apakah TKI itu? Dalam pembahasannya di Simposium, TKI secara ideal dapat di bedah melalui lafal penamaannya, seperti:• Temu Karya Ilmiah di bedah menjadi Temu, Karya, dan Ilmiah.• Temu merepresentasikan kegiatan bertemu-berinteraksi-berkomunikasi- seperti layaknya semangat yang ada pada awal-awal geraknya kita. Kegiatan ini di terjemahkan kedalam bentuk Forum Komunikasi, Komisi 1, 2, dan 3, serta Pameran.• Karya merepresentasikan aksi langsung-grounded-dan hasil nyata seperti layaknya semangat yang ada pada kisaran gerak kita yang kedua. Kegiatan ini diterjemahkan kedalam bentuk paket Pengabdian Masyarakat dan Klinik Arsitektur.• Sedangkan Ilmiah merepresentasikan unsur akademis-obyektifitas-dan potensi diri yang diterjemahkan kedalam bentuk Ekskursi, Diskusi Ilmiah, dan Seminar.• Secara konseptual, ketiga item diatas juga merepresentasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dalam bentuk fungsi atur (FK), fungsi pendidikan (Disil) dan fungsi Pengabdian Masyarakat (PengMasy).• Dan secara urutan penamaannya, Temu Karya Ilmiah seharusnya memiliki penekanan pada kegiatan ilmiahnya.!

Kenangan TKI MAI.2001

Apakah FK- MAI Itu? Pada dasarnya pertanyaan ini muncul dari sebuah dilematika tentang hubungan antara FK dengan TKI. Secara teknis, memang memasukkan FK kedalam paket TKI adalah cara paling efisien, tetapi secara konseptual, hal ini dapat menimbulkan pengaburan paradigma berpikir kita tentang hubungan keduanya. Hingga kitapun perlu untuk meng-clear-kan posisi keduanya, bahwa sebenarnya, diantara FK dan TKI, siapa yang lebih dulu ada? Siapa yang dapat mengatur siapa? Mengapa keduanya dilaksanakan pada saat yang bersamaan? Apakah hubungan keduanya seperti layaknya lembaga eksukutif dan legeslatif? Dalam sesi gugatan sejarah, terbukti bahwa TKI memang diawali dengan pameran yang diadakan di Jakarta. Dan pameran inipun tidak pernah diawali oleh sebuah forum komunikasi, karena sifatnya adalah sebuah undangan institusi. Baru ketika akan diadakan pameran kedua pada tahun berikutnya, ada forum bersama (yang menyerupai FK). Jadi, FK baru lahir pada TKI yang kedua. Sementara itu, dilain sisi, ada sebuah penekanan, bahwa sebenarnya TKI baru lahir di Bandung dan bukan di Jakarta. Pemberian nama TKI MAI I Jakarta, justru diberikan di Bandung, setahun setelah pelaksanaan pameran yang di Jakarta, dengan tujuan untuk menghormati pameran institusi yang ada di Jakarta tersebut, sebagai ujung tonggak sejarah berdirinya TKI, dan FK. Sehingga kalau FK memang lahir di Bandung, maka sebenarnya FK lahir sebelum TKI itu sendiri ada.

Keluar dari konteks sejarah, ada sebuah pemikiran, bahwa TKI adalah sebuah kegiatan. Ia adalah reaksi dari sebuah aksi pemikiran. Kegiatan ada karena ada pemikiran untuk mebuat kegiatan. Sehingga TKIpun ada karena ada FK yang merencanakannya, dan ini memberi hak kepada FK untuk mengawasi, mengevaluasi/mengkoreksi, dan memperbaiki TKI. Bukan dalam pola hubungan lembaga eksekutif-legeslatif, tetapi dalam hubungan bapak-anak, dimana FK berperan sabagai Bapak yang mendidik anaknya (TKI). Berangkat dari tiga poin diatas, maka memang seharusnya, secara teknis FK dipisah dari TKI, sebab FK tidak sama dengan TKI, apalagi menjadi bagian darinya. Secara ideal, mungkin justru seharusnya FK diadakan sebelum TKI. Tetapi apakah mungkin MAI berkumpul dua kali setahun? Tidakkah hal tersebut terlalu mahal cost kapital, dan akademiknya? Dalam menjawab pertanyaan diatas, ada sebuah konsep yang diadaptasikan dari Kesepakatan Padang, yang menyatakan bahwa secara teknis, tidak menjadi soal kalau FK dan TKI dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Asalkan ada pembedaan job description yang jelas. FK adalah forum, ia bertugas untuk mengkomunikasikan isu-isu nasional, dan mengkontrol jalannya TKI, dan merekomendasikan hal-hal baru untuk TKI berikutnya. Sedangkan TKI adalah kegiatan yang mengacu pada ketentuan FK tahun-tahun sebelumnya. Jadi seharusnya, FK yang sekarang ada di Palu, mulai membicarakan tentang perbaikan-perbaikan untuk TKI mendatang, sedangkan TKI di Palu, seharusnya sudah mengacu pada ketentuan-ketentuan yang kemarin ditetapkan oleh FK Padang. Satu hal lain yang menjadi alasan kenapa kita harus repot-repot memposisikan kedudukan FK dengan TKI, adalah bahwa sebenarnya, TKI hanyalah satu dari berbagai macam kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh FK. Oleh karenanya, urutan penyebutan nama seharusnya dilakukan dengan urutan: TKI FK MAI, atau gampangnya TKInya FK MAI. Sehingga FKpun dapat mengadakan kegiatan-kegiatan lain seperti Simposium FM MAI, atau mungkin Liga Sepak Bola FK MAI. Siapa tahu,

Apa itu MAI? Dalam pencarian jati diri-nya, eksplorasi identitas diarahkan dengan pengenalan ‘Arsitektur Nusantara’. Bahkan dalam pelaksanaannya, Arsitektur Nusantara yang secara teori tersebar dari Madagaskar hingga Oceania, dikerucutkan ke apa yang disebutkan dengan ‘Arsitektur Indonesia’ dalam bentuk sebuah Ideologi MAI di Padang, dan telah muncul sebagai sebuah paket independen di Palu. Karenanya dalam menyikapi pertanyaan ‘Apa MAI itu?’, Maka jawabnya jelas, Mahasiswa yang bergelut dengan Identitas Arsitektur Indonesia),sesuai dengan Ideologi MAI.
Periodesasi dalam sejarah ‘gerak’ MAI Sebelum kita berbincang-bincang mengenai ideologi MAI itu sendiri, ada satu hal yang perlu dibedah terlebih dahulu, yaitu latar belakang sejarah yang telah melahirkan ideologi MAI, sehingga penyikapan pasca-pencetusan tersebut dapat berjalan secara kontinyu.Dalam pembahasan identitas MAI di Simposium Nasional MAI, seingat saya pernah ada lontaran yang kurang lebih berbunyi seperti ini:‘Kesepakatan Padang sebagai acuan pelaksanaan TKI-MAI adalah pendokumentasian konseptual acara yang sangat rapi hingga dapat dijadikan sebagai sistem pengatur rangkaian acara tersebut. Tetapi janganlah sampai kita men-sakral-kannya, hingga kitapun tidak berani menggubahnya sesuai dengan perkembangan zaman’.
Kutipan tersebut diatas keluar ketika sidang FKK di Simposium sedang membahas tentang akan dirombak-tidak-nya Kesepakatan Padang sebagai acuan operasional TKI-MAI. Dan pelajaran yang dapat kita ambil disini adalah: bahwa sebenarnya, ideologi MAI-pun –secara individu- bukan merupakan aturan sakral, justru sebaliknya, ideologi MAI hanyalah bagian dari sebuah gerak atau pergerakan yang dilakukan oleh MAI. Hanya saja, kalau kita bedakan gerak tersebut kedalam beberapa periode pergerakan, maka seperti halnya Kesepakatan Padang, Ideologi MAI adalah salah satu titik kulminasi yang mengawali sebuah periode baru dalam gerak kita. Dan hal ini terjadi ketika FK sebagai wujud sebuah komunitas, telah mengalami pergeseran visi dan misi yang notabene secara formal sebenarnya belum pernah kita cetuskan. Untuk lebih memahami tentang gerak MAI ini, marilah kita tengok beberapa periodesasi yang pernah terjadi:
Periodesasi dalam ‘gerak’ MAI
Jakarta (1982)Kesatuan pendapat mahasiswa Arsitektur Indonesia yang menjadi Landasan awal tata atur pelaksanaan teknis kegiatan TKI MAI.Padang (1989)Disusunnya Kesepakatan Padang ( yang mengacu pada poin poin utama Tri Darma Perguruan Tinggi , Ruang Lingkup Arsitektur, dan Mahasiswa Arsitektur Indonesia sesuai dengan kesatuan pendapat MAI 1982, yang memuat aturan aturan teknis pelaksanaan TKI MAI  untuk tahun tahun selanjutnya

Saat sukses hal yang paling berkesan adalah ngopi bareng,berbagi cerita banyak hal.

1. Periode Nasionalisasi Forum Informal.Secara gamblang, gerak diawali oleh Pameran Arsitektur di Jakarta, yang kemudian di pameran serupa di Bandung yang dilaksanakan setahun kemudian dianggap sebagai tonggak sejarah berdirinya TKI MAI, dan diberi slogan TKI MAI pertama. Berangkat dari modal pameran tersebut, semangat yang diusung adalah pembudidayaan kegiatan cangkruk (kumpul-kumpul) sebagai forum tukar-pendapat, dan berbagi (sharing) ilmu antar Mahasiswa Arsitektur. Dan trend yang berjalan adalah untuk me-nasional-kan kegiatan tersebut, hingga pada tahun-tahun berikutnya, muncullah rayon-rayon baru yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.2. Periode Rekonstruksi Aksi.Periode ini mencapai klimaksnya dengan dikeluarkannya Kesepakatan Padang sebagai landasan operasional pelaksanaan TKI-MAI. Disini telah terjadi pergeseran semangat dengan adanya keinginan untuk pembakuan forum melalui pengeluaran aturan-aturan main, sehingga TKI-MAIpun tidak menjadi sekedar forum kumpul-kumpul saja. Selain itu, trend yang terjadi adalah dengan adanya pembakuan tema umum diskusi ilmiah: permukiman, maka arah gerak yang tadinya mengacu pada forum tukar-pendapat, mulai bergeser pada pengabdian masyarakat.

3. Periode Pelembagaan.Periode ini diawali di Medan dan Bandung pada awal dekade 90-an, dan terus berlanjut hingga berbuntut pada keluarnya Rayon 4 Yogyakarta dari FK-MAI. Pada periode ini, pergeseran gerak mungkin telah mencapai puncaknya, dimana semangat berkumpul yang tadinya hanya berdasarkan pada keinginan untuk sekedar bertukar-pikiran, mulai bergeser dengan diadakannya pembakuan dan perubahan arah gerak menuju ‘areal pengabdian masyarakat’. Yeng kemudian secara drastis, pergeseran ini kembali di geser menuju pembentukan lembaga formal guna mendapatkan kekuatan legalitas dalam ber-aksi (secara arsitektural tentunya).

4. Periode Pencarian Jati Diri.Dengan berlalunya titik klimaks pergeseran gerak, dan terjadinya ‘missing-link’ sebagai imbas dari vakumnya FK MAI pada awal era reformasi, dan dengan keluarnya Rayon 4, FK seakan mulai kehilangan gaungnya. Secara teknis, telah terjadi keterputusan transfer wacana tentang bagaimana seharusnya TKI MAI dilaksanakan. Dan lebih parah lagi, secara transendental, semangat perjuangan yang dulu sudah menasional, kini mulai padam.

Semangat Persatuan Tak Pernah berubah,
Serasa masih mahasiswa|Kiri ke kanan|Ayan Inten Bandung, Denny ISTN, Lubis ISTN, Lusi (Ambon) Unija, Joyo univ. Jayabaya, Alfian (Gopal) Tadulako-Palu, Atho Tadulako-Palu, Sarkia Tadulako-Palu, adi UPI Bandung, Igun UPI Bandung

Terbukti dengan mulai sepinya TKI, dan makin susahnya FK untuk tampil full-team dengan seluruh rayon-rayon yang dimilikinya. Bahkan, acara-acara pokok seperti Diskusi Ilmiah-pun mulai sepi peminatnya. Hal ini semua telah mebuat FK dan TKI serasa seperti rutinitas saja. Acara reuni para senior, dan debat kontes para juniornya, tidak kurang dan tidak lebih.
Dengan kembalinya Badan Pekerja Rayon yang diawali dari TKIMAI Jawa Barat ‘BDG26’ sebagai cikal bakal perbaikan terhadap tubuh TKIMAI yang terus berlanjut sampai dengan TKIMAI 32 Medan 2016 dengan tidak mengabaikan hal-hal kritis baik kedalam dan keluar TKIMAI untuk keberlangsungannya. hingga kembalinya rayon yang dilakukkan ada periode ini diawali dari kembalinya rayon 7, rayon 4 pada TKIMAI 29 (Jateng),

di bentuknya rayon 19 Lampung pada TKIMAI 30 dan di tandai sebagai aktifnya kalimantan, pada TKIMAI 31 Jatim, kembalinya rayon 6 Bali serta pada TKIMAI 32 Sumut menjadi penanda kembalinya rayon 9 Riau,

Tentu TKIMAI 33 Jakarta 2018 tak luput menjadi penanda aktifnya Papua dan sebagai penggenap rayon 20 Kalimantan. Seiring perkembangan pendidikan arsitektur dengan kembalinya tergabung kekeluargaan TKIMAI yang kini terdiri dari 20 rayon, idealnya cita-cita ulung perihal keilmuan yang mengakar,

Kolektif dan mandiri dengan DNA arsitektur negeri yang dikenal dengan ‘Nusantara’ pada ruang-ruang pendidikan dapat tercapai. Ini menjadi tanggungjawab bersama sekiranya dapat dijangkau TKIMAI hingga pada akar dengan semakin terbangunnya ruang-ruang diskursus dan ragam praktek arsitektur sebagai wujud pengetahuan.

Penulis:
Abd. Shalim tehupelarsury
adalah;Alumni TKI.MAI.angk.28,29,30,31,32Universitas Haluoleo Sulawesi Tenggara

Editor; Om agu|agus mumar Univ.45 makassar

Leave a Comment

Your email address will not be published.