0 Shares 220 Views
00:00:00
30 Mar

Kajian Eksistensialisme Tentang Ontologi (Bagian 3)

16 April 2018
220 Views

 Di kutip dari buku Pemikiran Jean-Paul Sartre

Bagian sebelumnya:Tahap ketiga adalah bentuk religio atau keagamaan. Sebagai orang Kristen, manusia harus mengikat dirinya total ke Tuhan. Hanya dengan demikian manusia berdiri di depan Tuhan, dan hanya dengan didepan Tuhanlah dengan penuh dosa yang membebaninya-manusia mempunyai eksistensi yang wajar. ‘ada’nya manusia adalah manusia dihadapan Tuhan dengan penuh kesadaran bahwa dirinya penuh dosa dan dalam ketakutan.

Tetapi justru dalam suasana suram itulah Tuhan menolongnya.

Heidegger:

Membicarakan Heidegger disini amat penting, sebab pengaruhnya terhadap Sartre cukup besar.

Heidegger merumuskan kembali pertanyan tentang “ada”. pertanyaannya adalah “apa makna mengada” (what is meant to be). Dan karena ‘ada’ tidak bisa diungkapkan dengan positif, maka dilakukan dengan pernyataan negasi terhadap ‘ada’. (Siswanto :1998) Dasein (being-there) merupakan eksistensi manusia didunia empiris ini.

Baginya manusia selalu ada dalam dunia, bersama seluruh benda-benda (being-in-the-world).

Manusia terlemparkan kedalam realitas dengan tidak tahu karena apa , atau asal usulnya (gewoerfen-sein). Karena ituah manusia menjadi cemas (Angst).

Karena cemas, manusia sibuk dengan Zuhadenes (lingkup dunia sarana-sarana) dan Vorhandenes (lingkup dunia benda-benda), sampai lupa mengurus ‘ada’-nya sendiri. Kecemasannya semakin menjadi karena sadar bahwa perjalanannya ternyata harus bermuara adalah kematian. Proyek kehidupannya berakhir dengan kematian (Sein Zum Tode).

Dengan demikian, realitas dunia menampakkan diri sebagai tiada. ada-dalam-dunia, itu tanpa arti dan tanda guna, ‘ada’ itu berawal dari ‘tiada’ dan menuju ‘tiada’.

Kesadaran manusia akan ‘tiada’ itu membuat manusia cemas dan putus adsa. Ia hanya tinggal menanti ‘tiada’ itu. tiada’ itu pengingkaran total terhadap semua ‘pengada (das Seienden), namun ‘tiada’ itu sendiri bukanlah ‘pengada’. ‘tiada’ itu meniadakan ‘pengada’.

Mengada ialah terjadinya aletheia, yaitu proses mengada itu menampakkan dan menyembunyikan diri (tertutup ) secara anonim, dalam historisitasnya, manusia tepasksa selalu memilih, sehigga ia tidak dalat menguasai segala kemunginan, kecuali dengan memilih menutrup kemungkinan tertentu, karena itulah manusia selalu bersalah.

Selain Perasaan bersalah ini didalam ketertutupannya ini juga terkandung unsur kesemuan. Semua ini diakibatkan oleh kecemasan manusia menghadapi ‘mengada’.

Sehingga manusia melarikan diri ke dalam keadaan kemerosotan, yang dikongkretkan dalam kegagalan manusia untuk menghayati tiga aspek hakiki manusia dalam eksistensinya (kepekaan, pemahaman, berbicara). Inilah tragedi manusia yang tidak dapat dihindari.

Tetapi ada harapan, bahwa melalui penderitaan kegagalan itu, manusia akan memahami ‘mengada’, dan pemahaman itu akan membuat manusia utuh (heil) dan menyembuhkan (heilen). Untuk mengatasi kecemasan, ada dua cara. Pertama, melarikan diri dari dirinya dengan tidak mengakui bahwa Dasein itu menuju kematian. Manusia

terus bersibuk menggarap sarana. Dasein dihayati sebagai Eksistenz, sehingga ia mengalami dirinya sungguh sungguh ada. Sedangkan cara kedua adalah sadar tentang kematian dan menghayatinya dengan kesadaran dan ketegaran, dan inilah hidup yang sejati.

Tinggalkan komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan

Most from this category