0 Shares 1261 Views
00:00:00
30 Mar

Kuburan Kuno Desa Dayeuhluhur, Cilacap Jawa Tengah

23 Juli 2018
1261 Views

Kuburan Kuno Desa Dayeuhluhur, Cilacap Jawa Tengah

Kuburan Pangeran Arya Sacanata (Arya Salingsingan) di Desa Bingkeng

Oleh Ceceng Rusmana

-Siapakah Pangeran Arya Sacanata?

-Prabu Hariang Kunang Natabaya

Menurut Sejarah Panjalu. Ayahnya Arya Sacanata adalah Dipati Natabaya  sedangkan ibunya bernama Apun Emas, putri dari Maharaja Kawali dan Apunianjung (dalam Legenda Panji Boma dikenal dengan nama Nyi Anjung Sari, dalam versi cerita yang berbeda).

Dipati Hariang Kunang Natabaya menduduki tahta Adipati di  Panjalu menggantikan ayahnya , Prabu Hariang Kadacayut Martabaya

Dipati Natabaya menikah dengan Nyai Apun Emas. Nyai Apun Emas adalah anak dari Nyai Tanduran di Anjung yang menikah dengan Prabu di Galuh Cipta Permana (16101618), jadi Apun Emas adalah saudari dari Adipati Panaekan. Sementara Nyai Tanduran di Anjung adalah puteri Maharaja Kawali.

Dari perkawinannya dengan Nyai Apun Emas, Prabu Hariang Kunang Natabaya mempunyai tiga orang putera yaitu :

1) Raden Arya Sumalah,

2) Raden Arya Sacanata,

3) Raden Arya Dipanata.

Pada masa kekuasaan Prabu Hariang Kunang Natabaya ini, Panembahan Senopati (15861601) berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya termasuk Panjalu. Pusara Prabu Hariang Kunang Natabaya terletak di Buninagara, Simpar, Panjalu.

Pangeran Arya Sacanata juga memperisteri Ratu Tilarnagara puteri Bupati Talaga Sunan Ciburuy yang merupakan janda Arya Sumalah.

Pangeran Arya Sacanata mempunyai banyak keturunan, baik dari garwa padminya yaitu Ratu Tilarnagara maupun dari isteri-isteri selirnya (ada sekitar 20 orang anak), anak-anaknya itu dikemudian hari menjadi pembesar-pembesar di tanah Pasundan.

Sementara itu Dua belas di antara putera-puteri Pangeran Arya Sacanata itu adalah:

1) Raden Jiwakrama (Cianjur),

2) Raden Ngabehi Suramanggala,

3) Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu),

4) Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu),

5) Raden Dalem Singalaksana (Cianjur),

6) Raden Dalem Jiwanagara (Bogor),

7) Raden Arya Wiradipa (Maparah, Panjalu),

8) Nyi Raden Lenggang,

9) Nyi Raden Tilar Kancana,

10) Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi),

11) Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi), dan

12) Raden Ngabehi Dipanata.

 

SUKESI DI PANJALU
Raden Arya Sumalah wafat dalam usia muda dan meninggalkan putera-puterinya yang masih kecil.  Yang salahsatu putranya adalah Arya Wirabaya yang oleh Sultan Agung diambil ke keraton Mataram Untuk dididik bersama pangeran-pangeran Mataram supaya kelak jadi Adipati yang tunduk kepada Mataram.

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Kabupaten Panjalu Raden Arya Sacanata diangkat oleh Sultan Agung (1613-1645) sebagai Bupati menggantikan kakaknya dengan gelar Pangeran Arya Sacanata.

KISAH ARIA SACANATA : KETIKA KUMIS SULTAN MATARAM DICUKUR SEBELAH

Dalam Babad Panjalu banyak diceritakan berbagai peristiwa yang terjadi sesudah era pemerintahan Prabu Borosngora.

Salah satu kisah menarik yang mulai samar terlupakan adalah sepak terjang tokoh kharismatik bernama Raden Aria Sacanata yang merupakan turunan ke lima atau udeg-udeg dari Prabu Borosngora.

Tokoh ini memiliki riwayat hidup yang luar biasa karena terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Aria Sacanata menjabat sebagai bupati Panjalu sementara mewakili keponakannya yang masih kecil bernama Aria Wirabaya, putra dari Aria Sumalah, kakaknya yang meninggal saat menjabat bupati Panjalu.

Ketika Arya Wirabaya sudah Cukup dewasa di keraton Mataram ,Putera Sultan Agung, Sunan Amangkurat I (1645-1677) yang dalam sejarah memang dikenal kurang bijaksana pada tahun 1656-1657 secara sepihak mencopot jabatan Pangeran Arya Sacanata sebagai Bupati Panjalu yang diangkat oleh Sultan Agung serta menghapuskan Kabupaten Panjalu dengan membagi wilayah Priangan menjadi 12 Ajeg; salah satunya adalah Ajeg Wirabaya yang meliputi wilayah Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang serta dikepalai oleh keponakan sekaligus anak tirinya (diduga Arya Sancanata juga menikahi Janda dari Arya Sumalah) yaitu Raden Arya Wirabaya sehingga membuat Pangeran Arya Sacanata mendendam kepada Mataram.

Saat itu Panjalu merupakan bagian dari Kesultanan Cirebon yang tunduk kepada Mataram. Ketika keponakannya menginjak remaja maka diutuslah ia ke Mataram untuk seba upeti. Namun Sultan Mataram langsung melantik Aria Wirabaya menjadi bupati Panjalu tanpa sepengetahuan Aria Sacanata yang kemudian merasa tersinggung.

Bukan karena masalah tahta, karena keponakannya memang berhak atas jabatan Bupati, namun cara Sultan Mataram dianggap tidak menghargainya dan telah mempermalukannya karena mencopotnya secara sepihak tan konfirmasi dengan dirinya.

Karena sakit hati Aria Sacanata pergi ke Gandakerta dan bertapa di pohon Soka dengan posisi Waringin Sungsang yaitu kaki di atas dan kepala di bawah (Ngalong). Dalam tapanya selama tiga tahun, Aria Sacanata memohon diberikan kedigjayaan dan bersumpah  agar keturunananya menjadi bupati-bupati di tatar Priangan. Dan demi harga diri dia akan membalas untuk mempermalukan orang yang memecatnya dengantidak adil. Setelah berhasil Aria Sacanata tinggal di kediaman mertuanya, Sinuhun Ciburuy di Talaga, wilayah kerajaan Majalengka saat ini.

Suatu ketika Pangeran Arya Sacanata ditunjuk oleh mertuanya yang juga Bupati Talaga Sunan Ciburuy untuk mewakili Talaga mengirim seba (upeti) ke Mataram.

Setibanya di keraton Mataram, Pada kesempatan itu Pangeran Arya Sacanata  untuk membalas sakit hatinya beliau menyelinap ke peraduan Sinuhun Mataram dan mempermalukanya dengan memotong sebelah kumisnya sehingga menimbulkan kegemparan besar di Mataram. Arya Sacanata menggunakan aji halimunan untuk  menyelinap ke lingkungan kraton Mataram. Ketika sang sinuhun terlelap di peraduannya Aria Sacanata mencukur kumis dan rambut Sinuhun hanya bagian kanannya saja sehingga tampang sultan Mataram ini menjadi aneh dan lucu. Singkat cerita, Sang Sinuhun murka. Semua bupati Sunda yang hadir pada acara seba diperiksa. Cirebon pun dituduh, namun menolak dan melemparkan tuduhan terhadap Talaga yang mengutus Aria Sacanata. Ketika hendak ditangkap, Aria Sacanata sudah menghilang Segera saja Pangeran Arya Sacanata menjadi buruan pasukan Mataram,

. Mataram pun segera mengirimkan pasukannya untuk mencari dan membekuknya. Namun  usaha itu sia-sia, walau pernah berpapasan dan menangkapnya, Aria Sacanata berhasil melepaskan diri dengan mengaku bernama Aria Salingsingan. (Dalam bahasa Sunda (pa)Salingsingan artinya (ber)papas an Lambat laun setelah puas mempermainkan Sang Sinuhun dan pasukannya, Serta Sultan Mataram mulai Mengancam untuk menghukum keluarganya, Aria Sacanata pun menyerahkan diri,  dan langsung dijatuhi hukuman mati dengan cara dijadikan peluru meriam sundut.  Eksekusi pun berlangsung di Alun-alun keraton dan disaksikan banyak orang. Tubuh Aria Sacanata yang diikat rantai segera dimasukan ke lubang meriam yang telah siap dinyalakan.

Tak lama kemudian ledakan dahasyat pun terdengar diiringi dengan terlontarnya tubuh Aria Sacanata ke angkasa. Namun dengan kesaktiannya ketika mendarat ternyata tubuhnya masih utuh dan tidak terluka sama sekali bahkan mampu berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa terbahak-bahak, kemudian menghilang di tengah kerumunan orang yang masih terpana melihat kejadian itu. Dan melarikan diri (Menghilang) dan kembali dicari pasukan Mataram.

Namun hingga akhir hayatnya Pangeran Arya Sacanata tidak pernah berhasil ditangkap dan selalu jadi buronan oleh pasukan Mataram sehingga ia mendapat julukan Pangeran Arya Salingsingan (dalam Bahasa Sunda kata “salingsingan” berarti saling berpapasan tapi tidak dikenali).

Pangeran Arya Sacanata Tidak pernah kembali ke Panjalu dan menghabiskan hari tuanya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian dan memilih hidup seperti petapa mengasingkan diri di tempat-tempat sunyi di sepanjang hutan pegunungan dan pesisir Galuh. Mula-mula ia mendirikan padepokan di Gandakerta sebagai tempatnya berkhalwat (menyepi), Sang Pangeran kemudian berkelana ke Palabuhan Ratu, Kandangwesi, Karang, Lakbok, kemudian menyepi di Gunung Sangkur, Gunung Babakan Siluman, Gunung Cariu, Kuta Tambaksari dan terakhir di Aria,  Nambo Desa Bingkeng, Kecamatan  Dayeuhluhur.

Tokoh Aria Sacanata diperkirakan hidup antara tahun 1550-1600 M, sejaman dengan Panembahan Ratu yang menjadi Sultan Cirebon, dan Geusan Ulun yang berkuasa di Sumedang sekitar tahun 1570 -1580. .

PEKUBURAN

Pangeran Arya Sacanata wafat dan dipusarakan di Aria Dusun Nombo Desa Bingkeng , Kecamatan DayeuhluhurKabupaten CilacapJawa Tengah, Ditepi Sungai Cibeet. Atau disebut Keramat Arya.

 

 

Komplek Pemakaman Keramat Arya Desa Bingkeng Dimana Dikubur Arya Sacanata Atau Pangeran Salingsingan.

Komplek pekuburan itu selalu diziarahi oleh para keturunan Panjalu dan konon pernah menjadi salahsatu lokasi tempat pengambilan “Air Suci” untuk mencuci Pusaka Panjalu Atau disebut RITUAL NYANGKU.

Pekuburan  Arya Salingsingan Masih terpelihara dengan baik dan diurus oleh Juru Kunci.

  • Mitos Batu Papangkuan

Di komplek pekuburan Arya Salingsingan terdapat sebuah batu yang Diikat dengan Rantai ke Pohon besar yang disebut Batu Papangkuan yang fungsi dari batu tersebut hanya bisa diketahui dan dipergunakan oleh Juru Kunci.

Konon Batu Tersebut dirantai karena dahulu pernah ada orang yang mencurinya, namun orang tersebut tertimpa malapetaka dan anehnya batu tersebut kembali ke tempatnya dengan sendirinya.

Sekarang batu tersebut dirantai supaya hal itu tidak terulang kembali.

Pekuburan Arya Salingsingan di Nambo termasuk salahsatu situs sejarah yang ikut Terancam Terendam dalam Pembangunan Bendung Matenggeng, sehingga Perlu Solusi dari Pemerintah dan keluarganya jika hal itu terjadi.

KONTROVERSI

Entah Kebetulan entah tidak, sampai saat ini Baik tokoh dan asal usul Arya Sacanata atau Pangeran Salingsingan, Baik Sejarah Hidup asal usul serta kepahlawanannya selalu “Tertukar” atau SALINGSINGAN dengan tokoh Pahlawan asal Cianjur yang Juga keturunan Panjalu, yang juga Hidup Pada jaman itu yang juga Dikubur di Kecamatan Dayeuhluhur yang Juga dikuburkan di tepi Sungai Cibeet. Yaitu Raden Haji Alit Prawatasari Yang Kuburannya Diduga di Keramat Tejakembang Desa Cijeruk yang Masih dalam Penelitian.

Dari Berbagai Sumber dan fakta di lokasi

Tinggalkan komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan

Most from this category