0 Shares 200 Views
00:00:00
20 Sep

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (BAGIAN PERTAMA)

15 Oktober 2018
200 Views

Oleh, Achmad Baiquni

‘Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah’

Editor: Budhy Munawar-Rachman

Telah  banyak  kitab  yang   ditulis   ulama   masyhur   untuk menafsirkan   ayat-ayat   suci   al-Qur’an   –yang  merupakan garis-garis  besar  ajaran  Islam  itu–  dengan   menggunakan ayat-ayat   lain   di   dalam  kitab  suci  tersebut,  sebagai bandingan, dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan.  Namun, dalam  al-Qur’an  sendiri, ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini  secara  jelas  disebutkan  sebagai   “ayat-ayat   Allah”, misalnya  dalam  surah  ‘Ali  Imran  190 disebut, Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi, serta silih  bergantinya  malam dan  siang,  terdapat  ayat-ayat  Allah  bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Karenanya, maka sebagai padanan untuk mendapatkan  arti  ayat-ayat al-Qur’an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran  ayat-ayat  al-Qur’an  yang berisi  konsep-konsep  Kauniyah  sangat bervariasi, tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam  semesta  itu  sendiri.

Untuk  memberikan  contoh  yang  nyata,  kita  dapat  menelaah ayat-ayat  berikut,  Dan  tidakkah   orang-orang   kafir   itu mengetahui  bahwa  agama  sama,  [1]  dan  ardh [2] itu dahulu sesuatu  yang  padu,  kemudian  kami  pisahkan  keduanya  (QS.

al-Anbiya’:  30. Dan sama’ itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. al-Dzariyat: 47).

Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama’  artinya  langit;  pengertiannya  ialah bahwa langit itu adalah  sebuah  bola  super  raksasa  yang  panjang  radiusnya tertentu,   yang  berputar  mengelilingi  sumbunya.  Dan  pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan  di malam hari. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia merasa yakin  bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari,  kapan  pun  juga.  Bintang-bintang tampak  tidak  berubah posisinya yang satu terhadap yang lain, dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu  hari  (siang dan malam).

Apa  yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia  diminta  memberikan  penafsiran  (bukan  sekadar   salinan kata-kata)  ayat-ayat  tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan  persepsinya  tentang  langit, serta  ardh  yaitu  bumi  yang  datar  yang dikurung oleh bola langit. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan  bahwa  ayat  30 surah   al-Anbiya’   itu  melukiskan  peristiwa  ketika  Tuhan menyebutkan  langit  menjadi  bola,  setelah  ia  sekian  lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa  konsep kosmologis  dalam al-Qur’an, mengenai penciptaan alam semesta, yang  dikemukakan  orang  itu  sangatlah  sederhana.  Dan  itu tidaklah     benar,    karena    konsepsinya    tidak    mampu mengakomodasikan  gejala  yang   dinyatakan   ayat   4   surah al-Dzariyat. (baca bagia Selanjutnya)

FOLLOW & SUBSCRIBE

Most from this category