0 Shares 150 Views
00:00:00
30 Mar

Jalaluddin Rakhmat : Ideologi Wahabi Sama Dengan ISIS

17 Oktober 2018
150 Views

Dalam sebuah laman membahas tentang wahabi asal usul, ideologi dan hubungannya kelompok gerakan ISIS, serta penyebarannya di indonesia. Tokoh Syiah juga anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Dr Jalaluddin Rakhmat menjelaskan jika konflik intoleran ini memang bermuara dari perseteruan Arab Saudi dan Iran. Dia pun mengatakan jika konflik antara Sunni berwujud Al Qaidah sampai ISIS diyakini seideologi dengan Wahabi.

“Karen Armstrong, menyebut bahwa ISIS itu merupakan produk ideologi di dunia Islam, yang dikembangkan mulai abad ke-18, yaitu Wahabisme,” ujar Jalaluddin. di lansir dari laman merdeka.comL

Bukankah perbedaan itu juga terjadi di kalangan NU dan Muhammadiyah, di mana NU memperbolehkan tradisi ziarah kubur sementara Muhammadiyah melarangnya? Tetapi apakah di antara mereka saling tuduh menistakan agama? Kan tidak juga. Maka, ketika perbedaan itu tidak dapat dihakimi secara sepihak oleh siapa pun, hal utama yang harus dijunjung tinggi adalah hak kewarganegaraan dari tiap-tiap pemeluk agama atau kepercayaan itu, untuk menjalani ibadahnya masing-masing. Karena kekerasan dalam memperlakukan kelompok-kelompok itu sama sekali bukanlah sebuah solusi.

Ada sebagian kelompok dari kalangan Sunni yang militan, dimulai dari Al Qaidah, dilanjutkan oleh Jabhat Al Nusra, Free Syrian Army (FSA), yang bermetamorfosis menjadi Islamic State of Iraq and Levant (ISIL), kemudian menjadi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), hingga kemudian hari ini kita kenal dengan nama Islamic State (IS). Mereka mempunyai garis ideologi yang sama, yakni Wahabisme.

Seorang penulis buku-buku bertema agama yang ternama, Karen Armstrong, menyebut bahwa ISIS itu merupakan produk ideologi di dunia Islam, yang dikembangkan mulai abad ke-18, yaitu Wahabisme. Ciri Wahabisme itu hanya satu, yakni Takfiri. Jadi mereka akan mengkafirkan semua orang yang pahamnya berbeda dengan mereka, bahkan pengkafiran itu dilakukan di antara kalangan mereka sendiri. Itulah ideologi yang sama yang saat ini bisa kita lihat melalui Al Qaidah, Jabhat Al Nusra, dan ISIS.

Dalam kajian-kajian internasional pun, sudah banyak pemerhati politik dan para akademisi yang mengetahui bagaimana Kerajaan Arab Saudi ini mengekspor ideologi Wahabinya ke seluruh dunia. Bahkan, banyak di antara mereka yang menjuluki kerajaan Saudi itu sebagai ‘Kerajaan Kebencian’ atau Hatred Kingdom. Paham Wahabi itu tadinya tidak terkenal di dunia Islam, sampai akhirnya mereka membentuk kerajaan, dan ditemukanlah minyak di tanah mereka sehingga membuat mereka kaya raya. Kekayaan itulah yang kemudian menjadi alat mereka menyebarkan paham Wahabinya.

Bahkan yang makin marak saat ini adalah penggelontoran dana dari Kerajaan Arab Saudi untuk membangun masjid di manapun, termasuk di Indonesia, untuk menyebarkan ajarannya tersebut. Bahkan di Malaysia, kemarin tersebar berita bahwa PM Najib Razak terbukti menerima 681 juta Dollar dana dari kerajaan Saudi, hingga akhirnya mereka berhasil membuat ajaran Syiah dinyatakan sebagai aliran sesat dan terlarang di Malaysia.

Jadi di sini bisa kita lihat bahwa Iran dan citra Islam Syiah-nya, selalu menjadi target bagi Kerajaan Arab Saudi untuk disingkirkan di manapun, baik di Malaysia, Indonesia, maupun di negara muslim lainnya. Bahkan hal itu juga ditegaskan dengan dieksekusinya ulama Syiah asal Arab Saudi, yakni Syeikh Nimr al-Nimr. Dan Arab Saudi dalam hal ini selalu memakai kedok Sunni, padahal mereka itu Wahabi, yang benci terhadap Iran dan aliran Syiahnya.

Di Indonesia, invasi ideologi Wahabi itu memakai pola yang sama, Sekarang saja banyaklah contohnya di mana ada gelontoran dana dari Kerajaan Arab Saudi untuk membangun mesjid, tetapi di masjid itu tidak diperbolehkan mengadakan tahlilan, shalawatan, dan lain sebagainya yang merupakan ciri-ciri Wahabi. Kalau mau ditelusuri, sudah banyak mesjid yang dibangun atas dana-dana aliran dari Arab Saudi tersebut.

Kaitannya antara ideologi Wahabi radikal dan intoleran dengan gerakan teror yang marak di dunia Islam saat ini, memperhatikan bahwa siapa pun orang yang membicarakan masalah terorisme di Indonesia ini, tidak pernah menyebut bahwa akar dari terorisme itu adalah ideologi Wahabi.
Karena kalau menyebut paham Wahabi, itu sama saja langsung menuding Arab Saudi. Sebab agama resmi dan paham yang dibenarkan di Arab Saudi itu ya hanya Wahabisme.
Kita bisa lihat contoh dari ideologi Wahabisme itu sendiri adalah larangan menziarahi kubur, dan perusakan-perusakan situs sejarah Islam dari zaman Rasulullah.
Oleh Wahabi di Arab Saudi, bahkan situs bersejarah bekas rumah Nabi saja dijadikan toilet umum. Kuburan para sahabat Nabi di pemakaman Baqi, itu sama mereka di buldoser dan tidak dirawat, biar tidak ada yang berziarah karena hal itu bid’ah dan terlarang menurut mereka.

Gerakan yang coba menghalau ideologi Wahabi ini di Indonesia, Selain dari kelompok-kelompok Syiah yang memang menjadi target mereka, kalangan Nahdlatul Ulama juga gencar menangkal paham Wahabisme itu dengan konsep mereka yang disebut Islam Nusantara. Jadi mereka menggencarkan Islam yang nasionalis, yang tidak termakan tipu daya stigma bahwa apapun yang berasal dari Arab pasti islami. Ya contohnya Wahabisme ini, mereka kan mengaku Sunni, tetapi ideologinya radikal.

Makanya, NU mengejawantahkan paham Islam Nusantara tersebut, sebagai penyadaran bahwa tidak semua tentang Arab itu Islam. Bahwa Islam itu bukan janggut tebal, celana cingkrang (mengatung), atau bahkan gamis panjang. Islam itu bukan Arab.

Pengaruh Wahabisme di Indonesia saat ini, Salah satu ciri Wahabisme adalah simplifikasi, yaitu menyimpulkan segala sesuatu itu secara sepihak dan subjektif. Jadi orang bodoh yang masuk Wahabi itu biasanya selalu merasa paling pintar sendiri, dan yang lain yang berbeda pendapat dengannya langsung di-cap kafir dan sesat. Padahal belajar agamanya juga baru kemarin sore istilahnya.

Kalau pernah dengar beberapa waktu yang lalu, ada sebagian takfiri yang menuding Prof. Quraish Shihab itu sesat dan kafir, tentunya itu sangat mengherankan buat saya. Selama ini kita tahu bahwa kitab tafsir karangan beliau yang terkenal yakni Tafsir Al Misbah, sudah banyak diakui di dunia internasional. Namun, dengan kebodohan sebagian orang yang berpaham Wahabi ini, maka dituduh lah Quraish Shihab ini sebagai Syiah, sesat dan kafir. Ini kan lucu, anak kemarin sore menuduh sesat ke seorang Profesor Al Quran, yang kredibilitasnya sudah diakui secara internasional.

Bahkan pernah ada buku yang berjudul “50 Orang Penyebar Kesesatan di Indonesia”, yang diterbitkan oleh kelompok takfiri ini. Di tulis di buku tersebut, penyebar kesesatan nomor 1 itu Gus Dur, nomor 2 Ustadz Quraish Shihab, nomor 3 Nurcholis Majid (Cak Nur), dan nomor 4 saya, Jalaluddin Rakhmat.

Dikatakan demikian, wah, bangga dong saya. Disebut kafir tetapi saya disandingkan dengan Ustadz Quraish Shihab, Cak Nur, Gus Dur, ya enggak apa-apa deh. Daripada saya dianggap sebagai orang paling berpengaruh di dunia Islam, tetapi disandingkan dengan nomor 1 Abu Bakar Al Baghdadi, dan nomor 2 Jalaluddin Rakhmat, ih amit-amit saya mah. Demikian Jalaluddin rahmat membahas tentang Wahabi dan gerakan Syiah, pada laman merdeka.com.

(Admin)

Tinggalkan komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan

Most from this category