0 Shares 209 Views
00:00:00
29 May

Sel Saraf Otak Bayi Meningkat Seiring Dengan Semakin Aktif Ia Bergerak, Bukan Soal Gen

Tribuncelebes.com-HEALTH- Masa depan kesehatan dan phisikologi anak akan banyak di tentukan oleh potensi perkembangan phisik saraf otak sejak dari masa Janin dalam kandungan hingga anak beranjak dewasa, baik kondisi pertumbuhan otak pula kondisi phisik yang dari luar lingkungan bayi berkembang.

Foto; Diva Album colect

Sebuah studi di Norwegia menunjukkan bahwa bayi yang dirangsang akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan bayi yang dibiarkan tumbuh secara alami.di rilis oleh Doktersehat.com

“Penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam budaya dimana merangsang tumbuh kembang dianggap penting, tumbuh lebih cepat dibandingkan anak-anak yang berada di Barat,” tambahnya.

Foto; Diva Album colect

Prof. Meer juga mengungkapkan bahwa otak dari anak-anak yang masih kecil sangatlah lunak, sehingga bisa beradaptasi dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Jika sel saraf synapsisyang baru terbentuk tidak digunakan, maka sel tersebut akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia anak-anak dan otak mereka akan kehilangan sedikit elastisitasnya.

Selama ini, kita selalu menganggap bahwa tumbuh kembang bayi harus dibiarkan berjalan secara alami. Contohnya, kita tidak perlu melatih bayi untuk bisa merangkak jika dia baru bisa tengkurap. Sebuah studi terbaru di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) menyatakan bahwa pemberian stimulasi akan merangsang otak bayi untuk tumbuh lebih cepat.

Penelitian ini mematahkan anggapan bahwa kecepatan seorang anak dalam tumbuh kembang bergantung pada keturunan atau gen dan tidak dapat dipengaruhi.

Van der Meer, seorang profesor neuropsychology  di NTNU menggunakan teknologi EEG selama bertahun-tahun untuk mempelajari aktifitas otak ratusan bayi.

Hasil studinya menunjukkan bahwa sel saraf di dalam otak bayi meningkat secara jumlah dan spesialisasinya seiring dengan kemampuan baru yang mereka pelajari dan semakin banyaknya mereka bergerak.

Sel saraf pada anak bayi membentuk ribuan sambungan setiap detik.

Penelitian Van der Meer juga menunjukkan bahwa perkembangan otak dengan tanggapan pancaindera serta kemampuan motorik terjadi secara seimbang. Dia percaya bahwa bayi harus dirangsang sejak ia dilahirkan.

Bayi perlu menggunakan semua indera yang dimilikinya untuk menjelajahi berbagai benda di sekelilingnya, baik di dalam maupun di luar rumah. Termasuk juga merasakan perbedaan cuaca.

Van der Meer menekankan bahwa bayi perlu merasakan semua hal itu sendiri, tidak cukup hanya dengan menaruhnya di stroller atau menggendongnya saat berjalan-jalan.

“Banyak orang yang percaya bahwa sebelum anak berusia 1 tahun, mereka hanya perlu tidur siang dan berganti popok. Tapi penelitian menunjukkan bahwa tikus yang dibesarkan di dalam kandang memiliki lebih sedikit cabang yang berkembang di saraf otaknya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan di tempat yang memiliki area untuk menanjak dan bersembunyi.” Prof. Van der Meer memaparkan.

Menurut Prof. Meer, bayi memiliki kemampuan untuk membedakan berbagai jenis suara dari bermacam-macam bahasa saat mereka berusia empat bulan. Tapi mereka kehilangan kemampuan tersebut saat mereka berusia delapan bulan.

Ia mencontohkan bayi di China yang mendengar perbedaan suara R dan L saat mereka berusia 4 bulan, tapi mereka tidak mendengarnya lagi saat mereka tumbuh besar.

Dikarenakan anak-anak di China tidak perlu membedakan kedua suara tersebut untuk mempelajari bahasa ibu mereka, sel synapsis yang membawa pengetahuan ini menghilang karena tak digunakan.

Di era 1970an, terdapat anggapan bahwa anak-anak hanya bisa mengerti satu bahasa secara sempurna. Orang tua yang berasal dari luar negeri dianjurkan untuk tidak berbicara bahasa asing  ke anak-anak, karena ditakutkan akan mengganggu perkembangan bahasa anak (*)

Sumber; Doktersehat.com

Tinggalkan komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan

Most from this category