0 Shares Views
[posts type=carousel-post-slider]

Kapal Ini Penyebab Ledakan Hebat di Pelabuhan Bairut

TRIBUNCELEBES.COM – JAKARTA– Dari penyelidikan terhadap ledakan yang terjadi di pelabuhan Beirut, Lebanon, pada Selasa lalu (4/8/2020), menemukan bahwa kelalaian sebagai penyebab utama ledakan dahsyat tersebut.Selain itu, tidak adanya tindakan pemerintah untuk memastikan keamanan bahan-bahan yang bersifat sangat eksplosif yang disimpan di gudang pelabuhan juga turut andil menjadi penyebab ledakan.

Menurutnya tata cara penyimpanan materi yang mudah meledak itu sudah beberapa kali dibahas di komite dan hakim. “[Tapi] tidak ada yang dilakukan untuk memerintahkan bahan tersebut untuk dipindahkan atau dibuang,” ujarnya. “Ini adalah kelalaian,” kata sumber resmi yang terkait penyidikan kepada Reuters, Kamis (6/8/2020)

Dikutip dari CNBC.Sebelumnya pascakejadian yang telah menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai 5.000 lebih orang itu, perdana menteri dan presiden negara itu mengonfirmasi bahwa ada 2.750 ton amonium nitrat yang sudah disimpan selama enam tahun di pelabuhan tanpa langkah-langkah keamanan. Amonium nitrat merupakan bahan yang lumrah digunakan dalam pupuk dan bom.

Sumber tersebut juga menjelaskan kronologi ledakan. Ia mengatakan awalnya ada kebakaran yang terjadi di gudang 9 pada hari Selasa (4/8/2020. Kebakaran itu kemudian menjalar ke gudang 12, di mana amonium nitrat disimpan.

Ledakan yang terjadi pukul 18.02 waktu setempat di Port of Beirut itu sendiri merupakan yang paling kuat yang pernah dialami ibu kota itu. Kejadian itu telah menambah tekanan pada kota yang masih dilanda perang saudara dan juga dampak panjang dari krisis keuangan akibat korupsi dan salah urus ekonomi oleh pemimpin negara selama beberapa dekade lalu.

Sumber lain yang dekat dengan seorang karyawan pelabuhan mengatakan bahwa sebuah tim yang memeriksa materi enam bulan lalu, telah memperingatkan bahan-bahan itu bisa “meledakkan seluruh Beirut” jika tidak dipindahkan.

Kemarin, kepala pelabuhan Beirut dan kepala bea cukai telah mengatakan bahwa mereka juga telah mengirim beberapa surat ke pengadilan. Surat itu berisi permintaan agar materi berbahaya disingkirkan, tetapi tidak ada tindakan yang diambil.

Manajer Umum Pelabuhan Hassan Koraytem mengatakan kepada OTV bahwa materi tersebut telah disimpan di gudang atas perintah pengadilan, dan menambahkan bahwa mereka tahu bahwa bahan itu berbahaya tetapi tidak membayangkan akan separah ini dampaknya.

“Kami meminta agar diekspor kembali tetapi itu tidak terjadi. Kami menyerahkannya kepada para ahli dan mereka yang berkepentingan untuk menentukan alasannya,” kata Badri Daher, direktur jenderal Bea Cukai Lebanon.

Dari pantauan Reuters, dua dokumen menunjukkan Bea Cukai Lebanon telah meminta pengadilan pada tahun 2016 dan 2017 untuk memerintahkan “agen maritim yang bersangkutan” untuk mengekspor kembali atau menyetujui penjualan amonium nitrat, yang telah dikumpulkan dari kapal kargo Rhosus dan disimpan di gudang 12 itu.

Satu dokumen lainnya menunjukkan permintaan serupa sudah dikirim pada 2014 dan 2015.

Menurut Shiparrested.com, jaringan industri yang menangani kasus-kasus hukum, dari laporan tahun 2015 diketahui bahwa kapal kargo Rhosus, yang berlayar di bawah bendera Moldova, berlabuh di Beirut pada September 2013 ketika mengalami masalah teknis saat berlayar dari Georgia ke Mozambik. Kapal itu membawa 2.750 ton amonium nitrat.

Situs itu mengatakan bahwa, setelah diperiksa, kapal itu dilarang berlayar dan tak lama kemudian ditinggalkan oleh pemiliknya, yang menyebabkan berbagai kreditor mengajukan tuntutan hukum.

“Karena risiko yang terkait dengan mempertahankan amonium nitrat di atas kapal, otoritas pelabuhan membuang kargo ke gudang pelabuhan,” tambahnya, demikian di kutip dari CNBC Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published.