Shares Views
[posts type=carousel-post-slider]

Capai Tinggi 30m Semburan Lumpur Panas Kesongo di Blora, ini Penjelasan Ahli

TRIBUNCELEBES.COM- JATENG– Semburan lumpur panas bercampur gas Jawa Tengah, merupakan fenomena lumpur gunung api atau mud volcano di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Randublatung, Desa Gabusan, Kecamatan jati Kabupaten Blora, Jawa Tengah diduga sebagai mud volcano. Semburan lumpur panas yang mencapai puluhan meter itu terjadi pada pukul 05.00 WIB, Kamis (27/8/2020).

Fenomena itu mengagetkan warga karena telah menelan 17 hewan kerbau ternak yang sedang digembala milik warga sekitar. Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Prof Dr Ir Jan Sopaheluwakan MSc menyarankan enam hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah,
institusi berwenang, maupun masyarakat di sekitar wilayah itu sendiri terkait fenomena ini. Baca juga: Fenomena Semburan Lumpur di Blora Diduga Mud Volcano, Apa Itu? Ini Penjelasannya Di kutip dari Kompas.com
1. Butuh rapid assessment Jan berkata, rapid assessment precedures (RAP) menjadi hal yang paling penting dan paling utama yang seharusnya dilakukan untuk menjawab semua pertanyaan dan kegelisahan masyarakat serta banyak pihak saat ini. “Perlu rapid assessment untuk menjawab ini,” kata Jan Jumat (27/8/2020).
Hasil dari rapid assessment ini jugalah yang nantinya akan membantu pemangku kebijakan untuk bisa memetakan langkah mitigasi dan evakuasi seperti apa yang harus segera dilakukan agar tidak berdampak pada korban jiwa dan kerugian harta yang jelas tidak diharapkan. Untuk diketahui, RAP merupakan cara penilaian cepat dengan tujuan memperoleh informasi yang mendalam tentang hal apa saja yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Investigasi geologi detail dan rapid risk dan impact assessment yang dilakukan akan dapat memperkirakan berapa lama jika semburan itu berlangsung terus.
2. Tanggap darurat evakuasi Setelah nantinya hasil RAP diketahui, maka tindakan selanjutnya adalah tanggap darurat evakuasi penduduk. “Tanggap darurat evakuasi penduduk yang berdasarkan kejadian di lapangan dan hasil rapis assessment bakal terdampak,” ujarnya.
3. Perhatikan protokol kesehatan Seperti diketahui, saat ini kita masih berada di tengah pandemi Covid-19 yang terus saja menginfeksi manusia. Oleh sebab itu, Jan mengingatkan agar masyarakat dan seluruh pihak berwenang yang menjalankan tugasnya di pusat hingga wilayah sekitar semburan lumpur panas itu tetap menjalankan protokol kesehatan. Utamanya protokol kesehatan untuk mencegah penularan infeksi Covid-19 yang tetap berisiko di manapun berada dan dalam kondisi apapun. “Perhatikan protokol (pencegahan) Covid-19 selama dan paska evakuasi,” ujarnya.
4. Minta pendapat ahli tentang potensi durasi semburan Adapun pemerintah atau institusi-institusi yang terlibat ada baiknya untuk mempertimbangkan langkah mitigasi dan evakuasi juga berdasarkan pendapat para ahli. “Minta pendapat ahli tentang kira-kira durasi semburan,” kata Jan. Mengetahui prakira durasi semburan lumpur panas itu, kata dia, menjadi salah satu hal yang penting karena bisa mengetahui akankah berpotensi sama terjadinya seperti kejadian lumpur lapindo di Sidoarjo sejak tahun 2006 lalu. Sementara, menurut pengamatan Jan sendiri, melihat dari lokasi terjadinya semburan tersebut seperti tergambar di Google Eart, potensi semburan berkemungkinan sudah ada sejak tahun 1984 atau sebelum mud vulcanism itu ada. Terjadinya mud vulcanism atau mud vulcano yang lebih tua terjadi pada tahun 2013, dan ditunjukkan berupa penampakan area yang berbentuk lingkaran putih di Goggle Earth. Area mud vulcano yang lebih tua itu tida jauh dari lokasi semburan lumpur panas Kesongo di Gabusan tersebut. Oleh sebab itu, Jan mengatakan bahwa gejala mud vulcanism di sana sudah terjadi sebelum yang terjadi sekarang. “Artinya yang sekarang dapat saja juga terus berlangsung selama 30 tahunan atau lebih. Ini masih spekulasi berdasarkan kejadian sebelumnya,” ucap Jan. Baca juga: Apakah Semburan Lumpur Blora Akan Berakhir seperti Lapindo Sidoarjo?
5. Pertimbangkan penurunan tanah Kewaspadaan tetap perlu dilakukan oleh masyarakat dan instansi berwenang, terhadap potensi semburan yang bisa terjadi dalam durasi yang lama. Jika hal itu terjadi, maka dampak lainnya yang juga harus diwaspadai adalah adanya penurunan tanah di area sekitar pusat lokasi semburan lumpur panas tersebut. “Pertimbangkan adanya penurunan tanah pasca semburan yang terus menerus,” tuturnya.
6. Pertimbangkan relokasi Jan mengatakan, jika semburan melimpah ke tanah warga, maka perlu dipertimbangkan relokasi dan pembuatan struktur seperti lumpur lapindo di Sidoarjo. “Ini bisa dilakukan dengan belajar dari kasus Lapindo. Menteri PUPR sekarang sangat berpengalaman,” kata dia. Mengingat area di sekitar Grobogan, Cepu dan Blora adalah daerah cekungan minyak. (*)diva

Leave a Comment

Your email address will not be published.