Shares Views
[posts type=carousel-post-slider]

Semburan lumpur di Blora Adalah Fenomena Alam dan Bukan Eksplorasi Minyak, Mengapa?

TRIBUNCELEBES.COM- JATENG– Semburan lumpur bercampur gas di kawasan Kesongo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, merupakan fenomena lumpur gunung api atau mud volcano, kata dua orang ahli geologi.
Mengapa fenomena gunung api lumpur di Kesongo, Blora, Jawa Tengah pada Kamis (27/08), disebut sebagai fenomena alam dan bukan akibat eksplorasi minyak?
Apa bedanya dengan semburan lumpur di Sidoarjo? Dan mengapa volume letupan terkadang besar dan sesekali kecil?
Apakah kemunculan gas dari setiap terjadi lumpur gunung api berbahaya bagi manusia dan hewan?
Mengapa disebut fenomena alam dan bukan akibat eksplorasi minyak?
“Fenomena alam seperti ini sudah biasa terjadi,” ujar Tri Winarno tentang mud volcano di Kesongo, Blora.
“Kalau di zona tektonik jalur ring of fire itu hal biasa. Di luar negeri, seperti Italia, fenomena mud volcano juga terjadi.

Dia kemudian menekankan bahwa fenomena ini bukanlah hal baru di pulau Jawa.
Dia mencontohkan “bleduk Kuwu” alias gunung api lumpur di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, serta satu kawasan di Cepu, Jawa Tengah.
“Ini tidak ada kaitan dengan eksplorasi minyak,” katanya, karena di sekitarnya tidak ada aktivitas penambangan minyak dan gas.
Berikut rangkuman dari hasil wawancara Nonie Arnee, wartawan di Semarang, untuk BBC News Indonesia, dengan dua ahli geologi dari Universitas Diponegoro, Semarang, Tri Winarno, dan Angga Jati Widiatama dari program studi teknik geologi Institut Teknologi Sumatera, Lampung.
Mengapa disebut lumpur gunung api?
Ahli geologi dari Universitas Diponegoro, Semarang, Tri Winarno mengatakan, semburan lumpur bercampur gas di kawasan hutan Kesongo alias oro-oro Kesongo di Desa Gabusan, Kabupaten Blora, Jateng, Kamis (27/08), sebagai fenomena gunung api lumpur atau mud volcano. Dikutip dari BBC News.com 29 Agustus 2020
sumber panas itu bisa macam-macam, tapi biasanya “adalah magma, karena ada pemanasan di bawah permukaan bumi.”
Dia menganalisa gunung api lumpur itu bisa juga terjadi karena faktor lumpur yang jenuh dan ada faktor tekanan yang tinggi. “Sehingga akan muncul ke permukaan, apalagi di dorong [faktor] panas dari bawah.”
Fenomena mud volcano di Kabupaten Blora ini, tidak terlepas dari faktor bahwa pulau Jawa merupakan bagian dari jalur gunung api yang sangat aktif (ring of fire).
“Nah kita bayangkan, kalau misalnya lumpur yang sudah penuh air, dan kalau ada panas di bawahnya, lalu mendidih, [maka] otomatis akan meledak,” paparnya.
“Apalagi kalau didukung adanya jalur berupa rekahan-rekahan di permukaan bumi yang menghubungkan antara yang di permukaan dengan yang ada di dalam bumi. Rekahan itu bisa karena sesar atau rekahan batuan,” tambah Tri Winarno.
Dia kemudian menganalisa secara spesifik tentang kejadian di Kesongo, Blora. Jenis bebatuan yang berada di bawah permukaan kawasan Kesongo adalah “bebatuan lempung”.
“Untuk bisa menjadi mud volcano harus ada pemicunya. Biasanya pemicunya [faktor] panas, yaitu sumber panas di bawah permukaan bumi,” kata Tri Winarno kepada wartawan di Semarang, Nonie Arnee, Jumat (28/08).
Sementara, ahli geologi dari program studi teknik geologi Institut Teknologi Sumatera, Lampung, Angga Jati Widiatama, mengatakan, gunung lumpur di Kesongo itu “terbentuk dari adanya kubah garam atau istilah geologi disebut mud diapir”.
Disebut sebagai batuan formasi kerek, yang terdiri batu pasir dan lempung, diendapkan secara cepat sehingga “menjebak” air di dalam pori-pori batuan.
“Karena ada air dalam pori-pori batuan, tertimbun terus menerus hingga tebal. Batuan yang tertimbun itu akan memunculkan gradien panas bumi,” ungkap Angga kepada wartawan di Semarang, Nonie Arnee.
“Makin terendam, makin panas. Tekanan makin besar. Saat air di pori batuan terkena panas dan sumber suhu dan tekanan tinggi akan berubah jadi uap. Itu yang menyebabkan jadi campuran batuan, air dan uap. Hingga berubah menjadi kubah garam,” paparnya.
Hal itu terbentuk “biasanya ada kaitannya dengan patahan geologi atau struktur geologi.”
“Jadi wilayah dari Semarang hingga Sidoarjo (Jatim) itu sebenarnya batas lempeng mikro kontinen Jawa Timur yang ada di selatan. Karena batas lempeng, maka menjadi titik lemah, banyak patahan atau sesar. Patahan ini yang bisa menjadi jalan keluar dari mud volcano,” papar Angga
“Intinya adalah lempung, air dan panas. Ditambah ada celah dan rekahan sehingga bisa muncul ke permukaan berupa semburan itu,” jelasnya lebih lanjut.
Sementara, ahli geologi dari program studi teknik geologi Institut Teknologi Sumatera, Lampung, Angga Jati Widiatama, mengatakan, pembentukan mud diapir di Kesongo tidak berkaitan dengan eksplorasi tambang atau migas di sekitar kawasan Cepu.
“Peristiwa alami, itu siklus alami. Ada letupan kemudian tenang, lalu muncul lagi. Dalam siklus 1-2 tahun ada letupan besar, setelah itu kecil lagi. Yang kemarin itu ketinggian semburan sekitar empat meter dengan durasi sekirat 10 menit,” papar Angga.
Dia mengakui, belum ada riset geologi yang intensif di Kesongo, meski disebutnya wilayah tersebut memiliki “keunikan geologi”.
Apa perbedaan ‘lumpur Sidoarjo’ dengan gunung api lumpur di Kesongo?
Menurutnya, fenomena ‘lumpur Sidoarjo’ dan gunung api lumpur di Kesongo memiliki kesamaan, yaitu asal-usulnya.
“Hanya saja kalau di Sidoarjo itu pemicunya adalah pengeboran minyak. Pengeboran minyak itu membuat celah atau jalan atau rekahan, [sehingga] bisa menjadi jalan untuk lumpur itu keluar.”
• Lumpur Lapindo ‘kesalahan manusia’
• Mereka ‘yang bertahan hidup’ di Lumpur Lapindo
• Lapindo belum bisa bayar ganti rugi
Banjir lumpur panas Sidoarjo alias lumpur Lapindo adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc. di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, sejak 29 Mei 2006.(*)diva

Leave a Comment

Your email address will not be published.