0 Shares 174 Views
00:00:00
20 Sep

Konflik Ethiopia, Pemerkosaan Perempuan Suku Tigray Oleh Tentara Eritrea adalah Genosida

24 Maret 2021
174 Views

TRIBUNCELEBES.COM- Berdasarkan catatan medis dan kesaksian para penyintas yang dibagikan kepada CNN, para perempuan diperkosa beramai-ramai, dibius, dan disandera. Dalam satu kasus, kelamin seorang perempuan dimasuki batu, paku, dan plastik, berdasarkan video yang dilihat CNN dan kesaksian dari salah satu dokter yang merawat korban.

Seorang Korban mengungkapkan “Dia mendorongku dan mengatakan, ‘Kalian orang Tigray tak memiliki sejarah, kalian tidak punya budaya. Saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan dan tidak ada yang peduli’,” ungkap seorang perempuan menceritakan penyerangnya, dikutip dari CNN, Selasa (23/3).

Pemerkosaan Perempuan Suku Tigray Oleh Tentara Eritrea dalam Konflik Berkepanjangan di Ethiopia adalah Genosida. di mana sekitar 40 perempuan yang terlalu trauma untuk kembali ke keluarga mereka menerima perlindungan dan dukungan.Salah seorang penyintas mengungkapkan bahwa dia dan lima perempuan lainnya diperkosa massal oleh 30 tentara Eritrea yang melontarkan candaan dan berfoto selama serangan itu.

Di wilayah Tigray, Ethiopia, kekerasan seksual digunakan sebagai senjata perang. Belakangan semakin banyak bukti yang muncul terkait hal ini. Tigray adalah wilayah di utara Ethiopia yang dilanda konflik bersenjata selama berbulan-bulan.

CNN mewawancarai sembilan dokter di Ethiopia dan satu dokter di kamp pengungsi Sudan. Mereka mengatakan melihat adanya peringatan peningkatan kekerasan seksual dan kasus pemerkosaan sejak Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed meluncurkan operasi militer terhadap para pemimpin di Tigray, mengirim pasukan nasional dan pejuang dari wilayah Amhara. Pasukan keamanan dari negara tetangga Eritrea juga terlibat dalam operasi tersebut, mendukung pemerintah Ethiopia.

Menurut para dokter, hampir semua perempuan yang mereka tangani menceritakan kisah yang sama, diperkosa tentara Ethiopia dan Eritrea. Para perempuan mengungkapkan, pasukan itu dalam misi pembalasan yang diproklamirkan sendiri dan beroperasi dengan hampir impunitas penuh di wilayah tersebut.

Di kota Sudan yang sepi di perbatasan Ethiopia tempat ribuan pengungsi dari Tigray berkumpul dalam beberapa bulan terakhir, berbicara dengan beberapa perempuan yang menggambarkan pemerkosaan saat mereka melarikan diri dari pertempuran. “Dia mendorongku dan mengatakan, ‘Kalian orang Tigray tak memiliki sejarah, kalian tidak punya budaya. Saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan dan tidak ada yang peduli’,” ungkap seorang perempuan menceritakan penyerangnya, dikutip dari CNN, Selasa (23/3).

Sekarang  Korban itu hamil. Banyak yang mengatakan mereka diperkosa pasukan Amhara. Pasukan ini mengatakan kepada korbannya mereka bertujuan melakukan pembersihan orang Tigray. Demikian disampaikan seorang dokter yang bertugas di kamp pengungsi itu di Hamdayet itu kepada CNN.

“Para perempuan yang telah diperkosa mengatakan hal yang mereka katakan kepada mereka ketika mereka memperkosa para perempuan ini adalah mereka ingin mengubah identitas mereka – menjadikan mereka Amhara atau setidaknya meninggalkan status Tigray mereka, dan mereka datang ke sana untuk membersihkan mereka, membersihkan garis keturunan,“

jelas Dr Tedros Tefera. “Sebenarnya ini adalah sebuah genosida,” lanjutnya.

Diperkosa Hingga 30 tentara

Pada Kamis, afiliasi CNN Channel 4 News menerbitkan laporan mengerikan tentang kekerasan seksual terhadap perempuan di Tigray. Laporan tersebut mencakup wawancara dari sebuah rumah persembunyian – satu-satunya yang diyakini beroperasi di Tigray untuk para korban pemerkosaan – di mana sekitar 40 perempuan yang terlalu trauma untuk kembali ke keluarga mereka menerima perlindungan dan dukungan.

Salah seorang penyintas mengungkapkan kepada Channel 4 News, dia dan lima perempuan lainnya diperkosa massal oleh 30 tentara Eritrea yang melontarkan candaan dan berfoto selama serangan itu. Dia tahu mereka pasukan Eritrea karena logat dan seragam mereka. Dia kemudian bisa kembali ke rumahnya hanya untuk diperkosa lagi. Ketika dia berusaha melarikan diri, dia ditangkap, dibius, diikat ke bebatuan, ditelanjangi, dibacok, dan diperkosa oleh para tentara selama 10 hari.

Di luar rumah persembunyian, lebih banyak perempuan dan anak gadis dirawat di Rumah Sakit Rujukan Ayder, fasilitas medis utama di ibu kota daerah Mekelle. Sebagian besar dirujuk ke sana oleh rumah sakit di daerah pedesaan yang tidak dilengkapi peralatan untuk menangani kasus pemerkosaan.

Seorang dokter di rumah sakit mengatakan kepada CNN, lebih dari 200 perempuan telah dirawat karena kekerasan seksual dalam beberapa bulan terakhir, tetapi lebih banyak kasus telah dilaporkan di pedesaan dan pusat-pusat pengungsian, dengan terbatasnya akses ke perawatan medis.

Pertempuran di Tigray, yang termasuk serangan terhadap fasilitas perawatan kesehatan, sangat membatasi akses ke perawatan medis, menurut sebuah laporan yang diterbitkan Kamis oleh organisasi kemanusiaan medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF). Dari 106 fasilitas medis yang dikunjungi MSF di wilayah tersebut, hanya satu dari 10 yang masih beroperasi, dan satu dari lima ditempati pasukan bersenjata. Menurut MSF, satu fasilitas digunakan sebagai pangkalan militer.

Antara kurangnya akses ke layanan medis dan stigma seputar kekerasan seksual, dokter yang diwawancarai CNN mengatakan mereka menduga jumlah sebenarnya kasus pemerkosaan jauh lebih tinggi daripada laporan resmi.

Korban pemerkosaan tertular IMS dan HIV

Pada 10 Februari, Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia (EHRC) yang ditunjuk negara mengakui perang di Tigray telah “menyebabkan peningkatan kekerasan berbasis gender di wilayah tersebut.”

Pada 4 Maret, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, menuntut “penilaian yang objektif dan independen” atas situasi di Tigray.

Menurut pernyataan PBB, lebih dari 136 kasus pemerkosaan dilaporkan di rumah sakit wilayah timur di Mekelle, Ayder, Adigrat dan Wukro antara Desember dan Januari.

Seorang koordinator di pusat krisis kekerasan berbasis gender di Tigray mengatakan kepada CNN, mereka biasa mendengar kasus tersebut setiap beberapa hari atau sekali seminggu. Sejak konflik pecah, bisa sampai 22 perempuan dan anak perempuan korban pemerkosaan ditangani setiap hari.

Dokter mengatakan kepada CNN, permintaan kontrasepsi darurat dan pemeriksaan penyakit infeksi menular seksual (IMS) juga melonjak dalam beberapa bulan terakhir. Banyak perempuan korban pemerkosaan tertular penyakit menular seksual, termasuk HIV.

Seorang dokter mengatakan banyak perempuan yang dia rawat juga dianiaya secara fisik, menderita patah tulang dan bagian tubuh yang memar. Dia mengatakan gadis termuda yang dia rawat berusia 8 tahun, sedangkan yang tertua berusia 60 tahun.

Seorang juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengatakan kepada CNN, mereka akan melakukan penyelidikan bersama dengan EHRC atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang serius di Tigray

FOLLOW & SUBSCRIBE

Most from this category