Jalaluddin Rakhmat : Ideologi Wahabi Sama Dengan ISIS

Dalam sebuah laman membahas tentang wahabi asal usul, ideologi dan hubungannya kelompok gerakan ISIS, serta penyebarannya di indonesia. Tokoh Syiah juga anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Dr Jalaluddin Rakhmat menjelaskan jika konflik intoleran ini memang bermuara dari perseteruan Arab Saudi dan Iran. Dia pun mengatakan jika konflik antara Sunni berwujud Al Qaidah sampai ISIS diyakini seideologi dengan Wahabi.

“Karen Armstrong, menyebut bahwa ISIS itu merupakan produk ideologi di dunia Islam, yang dikembangkan mulai abad ke-18, yaitu Wahabisme,” ujar Jalaluddin. di lansir dari laman merdeka.comL

Bukankah perbedaan itu juga terjadi di kalangan NU dan Muhammadiyah, di mana NU memperbolehkan tradisi ziarah kubur sementara Muhammadiyah melarangnya? Tetapi apakah di antara mereka saling tuduh menistakan agama? Kan tidak juga. Maka, ketika perbedaan itu tidak dapat dihakimi secara sepihak oleh siapa pun, hal utama yang harus dijunjung tinggi adalah hak kewarganegaraan dari tiap-tiap pemeluk agama atau kepercayaan itu, untuk menjalani ibadahnya masing-masing. Karena kekerasan dalam memperlakukan kelompok-kelompok itu sama sekali bukanlah sebuah solusi.

Ada sebagian kelompok dari kalangan Sunni yang militan, dimulai dari Al Qaidah, dilanjutkan oleh Jabhat Al Nusra, Free Syrian Army (FSA), yang bermetamorfosis menjadi Islamic State of Iraq and Levant (ISIL), kemudian menjadi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), hingga kemudian hari ini kita kenal dengan nama Islamic State (IS). Mereka mempunyai garis ideologi yang sama, yakni Wahabisme.

Seorang penulis buku-buku bertema agama yang ternama, Karen Armstrong, menyebut bahwa ISIS itu merupakan produk ideologi di dunia Islam, yang dikembangkan mulai abad ke-18, yaitu Wahabisme. Ciri Wahabisme itu hanya satu, yakni Takfiri. Jadi mereka akan mengkafirkan semua orang yang pahamnya berbeda dengan mereka, bahkan pengkafiran itu dilakukan di antara kalangan mereka sendiri. Itulah ideologi yang sama yang saat ini bisa kita lihat melalui Al Qaidah, Jabhat Al Nusra, dan ISIS.

Dalam kajian-kajian internasional pun, sudah banyak pemerhati politik dan para akademisi yang mengetahui bagaimana Kerajaan Arab Saudi ini mengekspor ideologi Wahabinya ke seluruh dunia. Bahkan, banyak di antara mereka yang menjuluki kerajaan Saudi itu sebagai ‘Kerajaan Kebencian’ atau Hatred Kingdom. Paham Wahabi itu tadinya tidak terkenal di dunia Islam, sampai akhirnya mereka membentuk kerajaan, dan ditemukanlah minyak di tanah mereka sehingga membuat mereka kaya raya. Kekayaan itulah yang kemudian menjadi alat mereka menyebarkan paham Wahabinya.

Bahkan yang makin marak saat ini adalah penggelontoran dana dari Kerajaan Arab Saudi untuk membangun masjid di manapun, termasuk di Indonesia, untuk menyebarkan ajarannya tersebut. Bahkan di Malaysia, kemarin tersebar berita bahwa PM Najib Razak terbukti menerima 681 juta Dollar dana dari kerajaan Saudi, hingga akhirnya mereka berhasil membuat ajaran Syiah dinyatakan sebagai aliran sesat dan terlarang di Malaysia.

Jadi di sini bisa kita lihat bahwa Iran dan citra Islam Syiah-nya, selalu menjadi target bagi Kerajaan Arab Saudi untuk disingkirkan di manapun, baik di Malaysia, Indonesia, maupun di negara muslim lainnya. Bahkan hal itu juga ditegaskan dengan dieksekusinya ulama Syiah asal Arab Saudi, yakni Syeikh Nimr al-Nimr. Dan Arab Saudi dalam hal ini selalu memakai kedok Sunni, padahal mereka itu Wahabi, yang benci terhadap Iran dan aliran Syiahnya.

Di Indonesia, invasi ideologi Wahabi itu memakai pola yang sama, Sekarang saja banyaklah contohnya di mana ada gelontoran dana dari Kerajaan Arab Saudi untuk membangun mesjid, tetapi di masjid itu tidak diperbolehkan mengadakan tahlilan, shalawatan, dan lain sebagainya yang merupakan ciri-ciri Wahabi. Kalau mau ditelusuri, sudah banyak mesjid yang dibangun atas dana-dana aliran dari Arab Saudi tersebut.

Kaitannya antara ideologi Wahabi radikal dan intoleran dengan gerakan teror yang marak di dunia Islam saat ini, memperhatikan bahwa siapa pun orang yang membicarakan masalah terorisme di Indonesia ini, tidak pernah menyebut bahwa akar dari terorisme itu adalah ideologi Wahabi.
Karena kalau menyebut paham Wahabi, itu sama saja langsung menuding Arab Saudi. Sebab agama resmi dan paham yang dibenarkan di Arab Saudi itu ya hanya Wahabisme.
Kita bisa lihat contoh dari ideologi Wahabisme itu sendiri adalah larangan menziarahi kubur, dan perusakan-perusakan situs sejarah Islam dari zaman Rasulullah.
Oleh Wahabi di Arab Saudi, bahkan situs bersejarah bekas rumah Nabi saja dijadikan toilet umum. Kuburan para sahabat Nabi di pemakaman Baqi, itu sama mereka di buldoser dan tidak dirawat, biar tidak ada yang berziarah karena hal itu bid’ah dan terlarang menurut mereka.

Gerakan yang coba menghalau ideologi Wahabi ini di Indonesia, Selain dari kelompok-kelompok Syiah yang memang menjadi target mereka, kalangan Nahdlatul Ulama juga gencar menangkal paham Wahabisme itu dengan konsep mereka yang disebut Islam Nusantara. Jadi mereka menggencarkan Islam yang nasionalis, yang tidak termakan tipu daya stigma bahwa apapun yang berasal dari Arab pasti islami. Ya contohnya Wahabisme ini, mereka kan mengaku Sunni, tetapi ideologinya radikal.

Makanya, NU mengejawantahkan paham Islam Nusantara tersebut, sebagai penyadaran bahwa tidak semua tentang Arab itu Islam. Bahwa Islam itu bukan janggut tebal, celana cingkrang (mengatung), atau bahkan gamis panjang. Islam itu bukan Arab.

Pengaruh Wahabisme di Indonesia saat ini, Salah satu ciri Wahabisme adalah simplifikasi, yaitu menyimpulkan segala sesuatu itu secara sepihak dan subjektif. Jadi orang bodoh yang masuk Wahabi itu biasanya selalu merasa paling pintar sendiri, dan yang lain yang berbeda pendapat dengannya langsung di-cap kafir dan sesat. Padahal belajar agamanya juga baru kemarin sore istilahnya.

Kalau pernah dengar beberapa waktu yang lalu, ada sebagian takfiri yang menuding Prof. Quraish Shihab itu sesat dan kafir, tentunya itu sangat mengherankan buat saya. Selama ini kita tahu bahwa kitab tafsir karangan beliau yang terkenal yakni Tafsir Al Misbah, sudah banyak diakui di dunia internasional. Namun, dengan kebodohan sebagian orang yang berpaham Wahabi ini, maka dituduh lah Quraish Shihab ini sebagai Syiah, sesat dan kafir. Ini kan lucu, anak kemarin sore menuduh sesat ke seorang Profesor Al Quran, yang kredibilitasnya sudah diakui secara internasional.

Bahkan pernah ada buku yang berjudul “50 Orang Penyebar Kesesatan di Indonesia”, yang diterbitkan oleh kelompok takfiri ini. Di tulis di buku tersebut, penyebar kesesatan nomor 1 itu Gus Dur, nomor 2 Ustadz Quraish Shihab, nomor 3 Nurcholis Majid (Cak Nur), dan nomor 4 saya, Jalaluddin Rakhmat.

Dikatakan demikian, wah, bangga dong saya. Disebut kafir tetapi saya disandingkan dengan Ustadz Quraish Shihab, Cak Nur, Gus Dur, ya enggak apa-apa deh. Daripada saya dianggap sebagai orang paling berpengaruh di dunia Islam, tetapi disandingkan dengan nomor 1 Abu Bakar Al Baghdadi, dan nomor 2 Jalaluddin Rakhmat, ih amit-amit saya mah. Demikian Jalaluddin rahmat membahas tentang Wahabi dan gerakan Syiah, pada laman merdeka.com.

(Admin)

Mengenal Metafisika Yin-Yan China

Metafisika Yin-Yan China- Konsep Yin Yang atau Yinyang (Hanzi) berasal dari filsafat Cina dan metafisika kuno yang menjelaskan setiap benda di alam semesta memiliki polaritas abadi berupa dua kekuatan utama yang selalu berlawanan tapi selalu melengkapi. Yin bersifat pasif, sedih, gelap, feminin, responsif, dan dikaitkan dengan malam. Yang bersifat aktif, terang, maskulin, agresif, dan dikaitkan dengan siang. Yin disimbolkan dengan air, sedangkan Yang disimbolkan dengan api.

Yin (feminin, hitam, bersifat pasif) dan Yang (maskulin, terang, bersifat aktif) adalah dua elemen yang saling melengkapi. Setiap kekuatan di alam dianggap memiliki keadaan Yin dan Yang.

Kemungkinan besar teori Yin dan Yang berasal dari ajaran agama agraris zaman kuno. Konsep Yin Yang dikenal dalam Taoisme dan Konfusianisme, walaupun kata Yin Yang hanya muncul sekali dalam kitab Tao Te Ching yang penuh dengan contoh dan penjelasan tentang konsep keseimbangan. Konsep Yin Yang merupakan prinsip dasar dalam ilmu pengobatan tradisional Cina yang menetapkan setiap organ tubuh memiliki Yin dan Yang.

Segala sesuatu tampak merupkaan dualitas, Yin dan Yang, tetapi apabila kita perhatikan didalam simbol Yin Yang itu sendiri, terdapat Yin didalam Yang dan terdapat Yang didalam Yin, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada segala sesuatu yang mutlak Yin atau mutlak Yang. Kedua nya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang pada akhir nya akan menyadarkan kita bahwa tidak ada Yin dan Yang, hanya Kekosongan.

Metafisika Yin-Yan China Posted: 6 September 2010- Penulis. Ahmad Elqorni

Dalam BUDAYA CHINABUDAYA DUNIA

Filsafat Tag:yin yang

Bisakah Tuhan di Buktikan Dengan Akal?

Akal dan Konsep Ketuhanan

Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah Fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya Fitrah mereka redup atau bahkan padam.

Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para Ahli ma’rifat berkata,”Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al-Qur’an dan hadis). Merka beralasan dengan adanya sejumlah ayat atau riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al-Qur’an dan hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) Aqli. Pada edisi berikutnya, Insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur’an, hadis dan konsep ketuhanan.

Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya Harus dibatasi pada sisi peribadatan saja.

Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal?

Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal, dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal.

Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan yang sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur’an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al-Qur’an itu sendiri, yaitu Allah Ta’ala.

Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al-Qur’an lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal itu berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur’an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah.
Mereka menjawab,”Karena Al-Qur’an mengatakan demikian.” Maka terjadilah daur (Lingkaran Setan?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al-Qur’an dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli.

Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofis.Pada kesempatan ini Insya Allah kami mencoba menjelaskan keduanya secara sederhana dan ringkas.
Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala

  1. Burhan Nidham (Keteraturan)

Burhan ini dibangun atas beberapa muqaddimah (premis).
Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati.

Kedua, bahwa alam bendawi (tabi’at) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam.

Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas (‘ilaliyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab (‘illat), dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab-akibat, adalah sebuah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa, atau ‘illatul ‘ilal).
Keempat, “sebab” atau ‘illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu “sebab” yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup.

Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu.
Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, di antaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang palin menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah manusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ?

Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai “sebab” atau ‘illat, dan “sebab” tersebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai “sebab” segala sesuatu itu dengan sebutan Allah Ta’ala.

2.Burhanal-Huduts(Kebaruan).
Al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada. Burhan ini terdri atas beberapa hal :
Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi.
Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena “sebab” sesuatu.
Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada ‘sesuatu’ yang keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Kaum muslimin menamakan ‘sesuatu’ itu dengan sebutan Allah Ta’ala.
Burhan-burhan Aqli-Filosofi tentang kenicayaan wujud Allah Ta’ala.

  1. Burhan Imkan Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu :

Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang lain.

Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan ‘adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-‘adam). Artinya sesutu yang ketika ‘ada’ disebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika ‘tidak ada’ disebabkan faktor eksternal pula, atau ketiadaannya juga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosuf, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi).

Mumtani’ atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (ijtima’un naqidhain).

Daur (siklus atau lingkaran setan). Misal, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, sedangkan B keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ad tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada saat yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima’un naqidhain (lihat Mumtani’).

Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B kebradaannya tergantung membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak mungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikin pula C tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya.

Tasalsul, yaitu susunan sejumlah ‘illat dan ma’lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi ‘illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tasalsul sama dengan daur, mustahil adanya.

Burhan Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa point berikut ini :
Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib atau mumkin.

Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membutuhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) atau tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil.
Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang wajib adalah ‘sebab’ dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau ‘illatul ‘ilal). Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta’ala.

  1. Burhan ash-Shiddiqin

Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Ahlibait as. yang berbunyi,”Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya.” (Doa Shabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, burhan ini ingin menjelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahli mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama dengan penjelasan burhan Imkan.

Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Di antaranya penafsiran Mulla Shadra. Beliau mengatakan, “Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak membutuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama adalah wujud yang wajib, yaitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua , adalah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tegak kecuali dengan -Nya. (Nihayah al-Hikmah, hal. 269).

Allamah al-Hilli , dalam kitab Tajrid al-‘I’tiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan, “Diluar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala) , dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (ntuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib , maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mustahil adanya.

Sumber Referensi ‘Akal dan Konsep Ketuhanan’. Oleh : Comrad Eka Trotski

KitabRujukan :
1.NihayahalHikmah,karyaAllamahThabathabai.
2.Kasyfal-MuradfiSyarhat-tajrid,karyaAllamahal-Hilli.
3.Babal-Hadi’Asyr,karyaAllamahal-Hilli
4.Al-Ilahiyyat,karyaSyekhJa’farSubhani.5. Muhadharah fi Ilmi al-Kalam (kaset), ceramah Sayyid Kamal Haydari.

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (BAGIAN 2)

Bagian Sebelumnya.

‘Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa  konsep kosmologis  dalam al-Qur’an, mengenai penciptaan alam semesta, yang  dikemukakan  orang  itu  sangatlah  sederhana.  Dan  an  itu tidaklah     benar,    karena    konsepsinya    tidak    mampu mengakomodasikan  gejala  yang   dinyatakan   ayat   4   surah al-Dzariyat’.

Sebuah  langit  yang  berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah  langit  yang  bertambah  luas.  Apalagi   kalau   ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya; tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. Pada hemat saya, sesuatu konsepsi   mengenai   alam  semesta  yang  benar  harus  dapat dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat   dalam   kitab   suci;   ia   harus  sesuai  dengan konsep-konsep kosmologis dalam  al-Qur’an.  Untuk  mendapatkan konsepsi  yang  benar  itu  pada  hakekatnya  telah  diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat  101  surah  Yunus, Katakanlah  (wahai Muhammad), Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama’ dan di ardh (QS. Yunus: 101). Dalam  teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah, Maka apakah mereka itu tak   memperhatikan   onta-dalam   intighon,   bagaimana    ia diciptakan.   Dan   sama’,   bagaimana  ia  ditinggikan.  (QS. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). Serta dalam ayat 190  dan  191  surah Ali Imran, Sesungguhnya dalam penciptaan sama’ dan ardh, serta silih bergantinya siang dan  malam,  terdapat  ayat-ayat  bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan  berbaring,  dan pikirkan  tentang penciptaan sama’ dan ardh, wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia; Maha suci Engkau, maka  peliharalah kami dari siksa azab neraka. (QS. Ali Imran: 190 dan 191).

Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini, maka muncullah di lingkungan   umat  Islam  suatu  kegiatan  observasional  yang disertai dengan pengukuran, sehingga ilmu tidak lagi  bersifat kontemplatif  belaka,  seperti  yang  berkembang di lingkungan Yunani,  tapi  mempunyai  ciri  empiris  sehingga  tersusunlah dasar-dasar  sains.  Penerapan metode ilmiah ini, yang terdiri atas  pengukuran  teliti   pada   observasi   dan   penggunaan pertimbangan  yang  rasional, telah mengubah astrologi menjadi astronomi. Karena telah menjadi kebiasaan para  pakar  menulis hasil   penelitian   orang  lain,  maka  tersusunlah  himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita  kenal  sebagai  sains. Jelaslah  di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar.

Kita ingat ayat 3,  4  dan  5  surah  al-‘Alaq,  Bacalah,  dan Tuhanmulah  Yang Maha Pemurah. yang mengajar dengan qalam. [3] Dia mengajar manusia apa yang  tidak  diketahuinya.  Penalaran tentang    “bagaimana”    dan   “mengapa”,   yang   menyangkut proses-proses alamiah di  langit  itu,  menyebabkan  timbulnya cabang  baru  dalam  sains  yang  dinamakan  astrofisika, yang bersama-sama  astronomi  membentuk  konsep-konsep   kosmologi. Meskipun  ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama, kiranya perlu kita pertanyakan  apakah  benar  konsep  kosmologi  yang berkembang dalam  sains  itu  sejalan  dengan  apa  yang  terdapat  dalam al-Qur’an.  Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada  para  cendekiawan  bukan  Islam sejak  pertengahan  abad  ke  13 sampai selesai dalam abad 17, sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka  acuan  budaya, mental  dan  spiritual  yang  bukan  Islam,  dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. (Baca bagian Selanjutnya’ Konsep konsep kosmologi bagian-3).

Oleh Achmad Baiquni- dalam ‘Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (BAGIAN PERTAMA)

Oleh, Achmad Baiquni

‘Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah’

Editor: Budhy Munawar-Rachman

Telah  banyak  kitab  yang   ditulis   ulama   masyhur   untuk menafsirkan   ayat-ayat   suci   al-Qur’an   –yang  merupakan garis-garis  besar  ajaran  Islam  itu–  dengan   menggunakan ayat-ayat   lain   di   dalam  kitab  suci  tersebut,  sebagai bandingan, dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan.  Namun, dalam  al-Qur’an  sendiri, ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini  secara  jelas  disebutkan  sebagai   “ayat-ayat   Allah”, misalnya  dalam  surah  ‘Ali  Imran  190 disebut, Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi, serta silih  bergantinya  malam dan  siang,  terdapat  ayat-ayat  Allah  bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Karenanya, maka sebagai padanan untuk mendapatkan  arti  ayat-ayat al-Qur’an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran  ayat-ayat  al-Qur’an  yang berisi  konsep-konsep  Kauniyah  sangat bervariasi, tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam  semesta  itu  sendiri.

Untuk  memberikan  contoh  yang  nyata,  kita  dapat  menelaah ayat-ayat  berikut,  Dan  tidakkah   orang-orang   kafir   itu mengetahui  bahwa  agama  sama,  [1]  dan  ardh [2] itu dahulu sesuatu  yang  padu,  kemudian  kami  pisahkan  keduanya  (QS.

al-Anbiya’:  30. Dan sama’ itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. al-Dzariyat: 47).

Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama’  artinya  langit;  pengertiannya  ialah bahwa langit itu adalah  sebuah  bola  super  raksasa  yang  panjang  radiusnya tertentu,   yang  berputar  mengelilingi  sumbunya.  Dan  pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan  di malam hari. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia merasa yakin  bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari,  kapan  pun  juga.  Bintang-bintang tampak  tidak  berubah posisinya yang satu terhadap yang lain, dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu  hari  (siang dan malam).

Apa  yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia  diminta  memberikan  penafsiran  (bukan  sekadar   salinan kata-kata)  ayat-ayat  tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan  persepsinya  tentang  langit, serta  ardh  yaitu  bumi  yang  datar  yang dikurung oleh bola langit. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan  bahwa  ayat  30 surah   al-Anbiya’   itu  melukiskan  peristiwa  ketika  Tuhan menyebutkan  langit  menjadi  bola,  setelah  ia  sekian  lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa  konsep kosmologis  dalam al-Qur’an, mengenai penciptaan alam semesta, yang  dikemukakan  orang  itu  sangatlah  sederhana.  Dan  itu tidaklah     benar,    karena    konsepsinya    tidak    mampu mengakomodasikan  gejala  yang   dinyatakan   ayat   4   surah al-Dzariyat. (baca bagia Selanjutnya)

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (BAGIAN 2)

Kuburan Kuno Desa Dayeuhluhur, Cilacap Jawa Tengah

Kuburan Kuno Desa Dayeuhluhur, Cilacap Jawa Tengah

Kuburan Pangeran Arya Sacanata (Arya Salingsingan) di Desa Bingkeng

Oleh Ceceng Rusmana

-Siapakah Pangeran Arya Sacanata?

-Prabu Hariang Kunang Natabaya

Menurut Sejarah Panjalu. Ayahnya Arya Sacanata adalah Dipati Natabaya  sedangkan ibunya bernama Apun Emas, putri dari Maharaja Kawali dan Apunianjung (dalam Legenda Panji Boma dikenal dengan nama Nyi Anjung Sari, dalam versi cerita yang berbeda).

Dipati Hariang Kunang Natabaya menduduki tahta Adipati di  Panjalu menggantikan ayahnya , Prabu Hariang Kadacayut Martabaya

Dipati Natabaya menikah dengan Nyai Apun Emas. Nyai Apun Emas adalah anak dari Nyai Tanduran di Anjung yang menikah dengan Prabu di Galuh Cipta Permana (16101618), jadi Apun Emas adalah saudari dari Adipati Panaekan. Sementara Nyai Tanduran di Anjung adalah puteri Maharaja Kawali.

Dari perkawinannya dengan Nyai Apun Emas, Prabu Hariang Kunang Natabaya mempunyai tiga orang putera yaitu :

1) Raden Arya Sumalah,

2) Raden Arya Sacanata,

3) Raden Arya Dipanata.

Pada masa kekuasaan Prabu Hariang Kunang Natabaya ini, Panembahan Senopati (15861601) berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya termasuk Panjalu. Pusara Prabu Hariang Kunang Natabaya terletak di Buninagara, Simpar, Panjalu.

Pangeran Arya Sacanata juga memperisteri Ratu Tilarnagara puteri Bupati Talaga Sunan Ciburuy yang merupakan janda Arya Sumalah.

Pangeran Arya Sacanata mempunyai banyak keturunan, baik dari garwa padminya yaitu Ratu Tilarnagara maupun dari isteri-isteri selirnya (ada sekitar 20 orang anak), anak-anaknya itu dikemudian hari menjadi pembesar-pembesar di tanah Pasundan.

Sementara itu Dua belas di antara putera-puteri Pangeran Arya Sacanata itu adalah:

1) Raden Jiwakrama (Cianjur),

2) Raden Ngabehi Suramanggala,

3) Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu),

4) Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu),

5) Raden Dalem Singalaksana (Cianjur),

6) Raden Dalem Jiwanagara (Bogor),

7) Raden Arya Wiradipa (Maparah, Panjalu),

8) Nyi Raden Lenggang,

9) Nyi Raden Tilar Kancana,

10) Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi),

11) Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi), dan

12) Raden Ngabehi Dipanata.

 

SUKESI DI PANJALU
Raden Arya Sumalah wafat dalam usia muda dan meninggalkan putera-puterinya yang masih kecil.  Yang salahsatu putranya adalah Arya Wirabaya yang oleh Sultan Agung diambil ke keraton Mataram Untuk dididik bersama pangeran-pangeran Mataram supaya kelak jadi Adipati yang tunduk kepada Mataram.

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Kabupaten Panjalu Raden Arya Sacanata diangkat oleh Sultan Agung (1613-1645) sebagai Bupati menggantikan kakaknya dengan gelar Pangeran Arya Sacanata.

KISAH ARIA SACANATA : KETIKA KUMIS SULTAN MATARAM DICUKUR SEBELAH

Dalam Babad Panjalu banyak diceritakan berbagai peristiwa yang terjadi sesudah era pemerintahan Prabu Borosngora.

Salah satu kisah menarik yang mulai samar terlupakan adalah sepak terjang tokoh kharismatik bernama Raden Aria Sacanata yang merupakan turunan ke lima atau udeg-udeg dari Prabu Borosngora.

Tokoh ini memiliki riwayat hidup yang luar biasa karena terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Aria Sacanata menjabat sebagai bupati Panjalu sementara mewakili keponakannya yang masih kecil bernama Aria Wirabaya, putra dari Aria Sumalah, kakaknya yang meninggal saat menjabat bupati Panjalu.

Ketika Arya Wirabaya sudah Cukup dewasa di keraton Mataram ,Putera Sultan Agung, Sunan Amangkurat I (1645-1677) yang dalam sejarah memang dikenal kurang bijaksana pada tahun 1656-1657 secara sepihak mencopot jabatan Pangeran Arya Sacanata sebagai Bupati Panjalu yang diangkat oleh Sultan Agung serta menghapuskan Kabupaten Panjalu dengan membagi wilayah Priangan menjadi 12 Ajeg; salah satunya adalah Ajeg Wirabaya yang meliputi wilayah Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang serta dikepalai oleh keponakan sekaligus anak tirinya (diduga Arya Sancanata juga menikahi Janda dari Arya Sumalah) yaitu Raden Arya Wirabaya sehingga membuat Pangeran Arya Sacanata mendendam kepada Mataram.

Saat itu Panjalu merupakan bagian dari Kesultanan Cirebon yang tunduk kepada Mataram. Ketika keponakannya menginjak remaja maka diutuslah ia ke Mataram untuk seba upeti. Namun Sultan Mataram langsung melantik Aria Wirabaya menjadi bupati Panjalu tanpa sepengetahuan Aria Sacanata yang kemudian merasa tersinggung.

Bukan karena masalah tahta, karena keponakannya memang berhak atas jabatan Bupati, namun cara Sultan Mataram dianggap tidak menghargainya dan telah mempermalukannya karena mencopotnya secara sepihak tan konfirmasi dengan dirinya.

Karena sakit hati Aria Sacanata pergi ke Gandakerta dan bertapa di pohon Soka dengan posisi Waringin Sungsang yaitu kaki di atas dan kepala di bawah (Ngalong). Dalam tapanya selama tiga tahun, Aria Sacanata memohon diberikan kedigjayaan dan bersumpah  agar keturunananya menjadi bupati-bupati di tatar Priangan. Dan demi harga diri dia akan membalas untuk mempermalukan orang yang memecatnya dengantidak adil. Setelah berhasil Aria Sacanata tinggal di kediaman mertuanya, Sinuhun Ciburuy di Talaga, wilayah kerajaan Majalengka saat ini.

Suatu ketika Pangeran Arya Sacanata ditunjuk oleh mertuanya yang juga Bupati Talaga Sunan Ciburuy untuk mewakili Talaga mengirim seba (upeti) ke Mataram.

Setibanya di keraton Mataram, Pada kesempatan itu Pangeran Arya Sacanata  untuk membalas sakit hatinya beliau menyelinap ke peraduan Sinuhun Mataram dan mempermalukanya dengan memotong sebelah kumisnya sehingga menimbulkan kegemparan besar di Mataram. Arya Sacanata menggunakan aji halimunan untuk  menyelinap ke lingkungan kraton Mataram. Ketika sang sinuhun terlelap di peraduannya Aria Sacanata mencukur kumis dan rambut Sinuhun hanya bagian kanannya saja sehingga tampang sultan Mataram ini menjadi aneh dan lucu. Singkat cerita, Sang Sinuhun murka. Semua bupati Sunda yang hadir pada acara seba diperiksa. Cirebon pun dituduh, namun menolak dan melemparkan tuduhan terhadap Talaga yang mengutus Aria Sacanata. Ketika hendak ditangkap, Aria Sacanata sudah menghilang Segera saja Pangeran Arya Sacanata menjadi buruan pasukan Mataram,

. Mataram pun segera mengirimkan pasukannya untuk mencari dan membekuknya. Namun  usaha itu sia-sia, walau pernah berpapasan dan menangkapnya, Aria Sacanata berhasil melepaskan diri dengan mengaku bernama Aria Salingsingan. (Dalam bahasa Sunda (pa)Salingsingan artinya (ber)papas an Lambat laun setelah puas mempermainkan Sang Sinuhun dan pasukannya, Serta Sultan Mataram mulai Mengancam untuk menghukum keluarganya, Aria Sacanata pun menyerahkan diri,  dan langsung dijatuhi hukuman mati dengan cara dijadikan peluru meriam sundut.  Eksekusi pun berlangsung di Alun-alun keraton dan disaksikan banyak orang. Tubuh Aria Sacanata yang diikat rantai segera dimasukan ke lubang meriam yang telah siap dinyalakan.

Tak lama kemudian ledakan dahasyat pun terdengar diiringi dengan terlontarnya tubuh Aria Sacanata ke angkasa. Namun dengan kesaktiannya ketika mendarat ternyata tubuhnya masih utuh dan tidak terluka sama sekali bahkan mampu berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa terbahak-bahak, kemudian menghilang di tengah kerumunan orang yang masih terpana melihat kejadian itu. Dan melarikan diri (Menghilang) dan kembali dicari pasukan Mataram.

Namun hingga akhir hayatnya Pangeran Arya Sacanata tidak pernah berhasil ditangkap dan selalu jadi buronan oleh pasukan Mataram sehingga ia mendapat julukan Pangeran Arya Salingsingan (dalam Bahasa Sunda kata “salingsingan” berarti saling berpapasan tapi tidak dikenali).

Pangeran Arya Sacanata Tidak pernah kembali ke Panjalu dan menghabiskan hari tuanya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian dan memilih hidup seperti petapa mengasingkan diri di tempat-tempat sunyi di sepanjang hutan pegunungan dan pesisir Galuh. Mula-mula ia mendirikan padepokan di Gandakerta sebagai tempatnya berkhalwat (menyepi), Sang Pangeran kemudian berkelana ke Palabuhan Ratu, Kandangwesi, Karang, Lakbok, kemudian menyepi di Gunung Sangkur, Gunung Babakan Siluman, Gunung Cariu, Kuta Tambaksari dan terakhir di Aria,  Nambo Desa Bingkeng, Kecamatan  Dayeuhluhur.

Tokoh Aria Sacanata diperkirakan hidup antara tahun 1550-1600 M, sejaman dengan Panembahan Ratu yang menjadi Sultan Cirebon, dan Geusan Ulun yang berkuasa di Sumedang sekitar tahun 1570 -1580. .

PEKUBURAN

Pangeran Arya Sacanata wafat dan dipusarakan di Aria Dusun Nombo Desa Bingkeng , Kecamatan DayeuhluhurKabupaten CilacapJawa Tengah, Ditepi Sungai Cibeet. Atau disebut Keramat Arya.

 

 

Komplek Pemakaman Keramat Arya Desa Bingkeng Dimana Dikubur Arya Sacanata Atau Pangeran Salingsingan.

Komplek pekuburan itu selalu diziarahi oleh para keturunan Panjalu dan konon pernah menjadi salahsatu lokasi tempat pengambilan “Air Suci” untuk mencuci Pusaka Panjalu Atau disebut RITUAL NYANGKU.

Pekuburan  Arya Salingsingan Masih terpelihara dengan baik dan diurus oleh Juru Kunci.

  • Mitos Batu Papangkuan

Di komplek pekuburan Arya Salingsingan terdapat sebuah batu yang Diikat dengan Rantai ke Pohon besar yang disebut Batu Papangkuan yang fungsi dari batu tersebut hanya bisa diketahui dan dipergunakan oleh Juru Kunci.

Konon Batu Tersebut dirantai karena dahulu pernah ada orang yang mencurinya, namun orang tersebut tertimpa malapetaka dan anehnya batu tersebut kembali ke tempatnya dengan sendirinya.

Sekarang batu tersebut dirantai supaya hal itu tidak terulang kembali.

Pekuburan Arya Salingsingan di Nambo termasuk salahsatu situs sejarah yang ikut Terancam Terendam dalam Pembangunan Bendung Matenggeng, sehingga Perlu Solusi dari Pemerintah dan keluarganya jika hal itu terjadi.

KONTROVERSI

Entah Kebetulan entah tidak, sampai saat ini Baik tokoh dan asal usul Arya Sacanata atau Pangeran Salingsingan, Baik Sejarah Hidup asal usul serta kepahlawanannya selalu “Tertukar” atau SALINGSINGAN dengan tokoh Pahlawan asal Cianjur yang Juga keturunan Panjalu, yang juga Hidup Pada jaman itu yang juga Dikubur di Kecamatan Dayeuhluhur yang Juga dikuburkan di tepi Sungai Cibeet. Yaitu Raden Haji Alit Prawatasari Yang Kuburannya Diduga di Keramat Tejakembang Desa Cijeruk yang Masih dalam Penelitian.

Dari Berbagai Sumber dan fakta di lokasi

1 Mei 1995: Peringatan May Day Pertama Melawan Soeharto (Bagian 3)

 Ilustrasi: Perayaan 1 Mei 1995 di Semarang dan Jakarta, May Day pertama di masa rezim Soeharto. Tirto/Hafitz

Oleh: Petrus Hariyanto – 30 April 2018

Penuturan orang pertama tentang peringatan Hari Buruh 1 Mei 1995, dan respons kekerasan aparat Orde Baru, tiga tahun sebelum rezim itu kolaps.

Di Semarang Barat: PT Queen Ceramic Setiabudi, sebuah pabrik plastik di seberang Markas Kodam VII/Diponegoro (kini berganti Kodam IV), dan perkampungan buruh di sekitar Markas Brimob Semarang. Organisernya Ignatius Pranowo, Rivani Noer, Hari Sutanta, Bambang, dan Jemek.

“Kami kekurangan kurir yang akan mendampingi buruh menuju kampus. Kendala lain tidak semua buruh memahami tempat start awal di Fakultas Sastra Undip. Agar tak tersesat, sebaiknya ada beberapa titik kumpul yang mudah dikenali buruh. Mereka akan menunggu di titik tersebut untuk bergabung dengan barisan massa yang akan melewati mereka,” ujar Ignatius Pranowo alias Wowok.

Forum rapat menunjuk Ari Trismana bertugas di titik kumpul di Jalan Airlangga. Aan Rusdianto ditunjuk menjadi kurir di titik Matahari Mall di Simpang Lima, jantung Kota Semarang.

Aku menjelaskan bahwa aparat akan melakukan kekerasan untuk menghentikan aksi karena kita berani mengambil tema peringatan hari buruh sedunia. Belum pernah sekalipun hari buruh sedunia diperingati sejak Soeharto berkuasa.

Rezim Orde Baru mengharamkan peringatan 1 Mei dan selalu berpropaganda bahwa Hari Buruh 1 Mei “berbau komunis.” Gantinya, Presiden Soeharto menetapkan 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional sejak 1973, merujuk pada hari lahir Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), wadah tunggal bagi organisasi buruh di masa Orde Baru—sebagaimana pemerintah Soeharto membuat saluran tunggal lain pada banyak organisasi politik dan profesi.

“Selain akan dituduh komunis, aksi reli ini akan mengundang sikap represif aparat,” ujarku.

Kami memutuskan bahwa Lukman Hakim, pengurus pusat PPBI, dan Aan Rusdianto harus siap menghadapi hal paling buruk. Bila ada peserta aksi yang tertangkap, demi perlindungan, mereka harus mengatakan penanggung jawab utama aksi adalah Sekjen SMID. Kartu identitas harus ditinggal, dan harus memakai nama palsu.

Perangkat keamanan akan dikoordinasi oleh Sulaiman Akbar, dibantu kurir dalam dan kurir luar. Yang harus selamat untuk nantinya melanjutkan kepemimpinan SMID di Jakarta adalah Nurul Qoiriyah (Ketua SMID Semarang) dan Andi Arief (Ketua SMID Yogyakarta).

Nezar Patria dan Wirayanti bertugas membuat catatan kronologi peristiwa bila aksi berujung kekerasan, untuk disampaikan ke sejumlah pihak termasuk ke kantor redaksi media massa. Mereka tidak boleh bergabung dalam barisan massa.

Fransisca Ria Susanti dan Rivani Noer juga harus di luar barisan massa, dengan tugas utama membagi rilis kepada awak media.
Peringatan: 1 Mei 1995

Senin pagi, 1 Mei 1995, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro terlihat ramai oleh para mahasiswa. Sudah hampir setahun kampus ini kutinggal ke Jakarta sejak aku ditunjuk sebagai Sekjen SMID.

“Bung, lebih dari seratus buruh baru saja masuk ke kampus Sastra. Aku dan Rivani yang membawanya keluar dari pabrik,” ujar Gombloh, panggilan akrab Hari Sutanta.Teman kuliah satu angkatan pun menceritakan bahwa sejak pagi tentara sudah berjaga di depan pabrik.

“Rivani berhasil mengeluarkan seratus lebih buruh untuk ikut aksi, walau diadang dan direpresi militer. Sayangnya, yang diadang dan dicegah untuk aksi juga banyak,” ujarnya.

Ignatius Pranowo alias Wowok mengatakan sejak pagi para organiser sudah memobilisasi buruh di pabrik untuk mengikuti aksi hari ini. Beberapa di antaranya sudah tiba di Jalan Airlangga Timur dan di Jalan Ahmad Yani, dekat Simpang Lima.

Tepat pukul 10.00, Sardiyoko dari SMID Surabaya sebagai komando lapangan berseru agar para mahasiswa dan buruh segera merapat dan bersiap diri. Ia naik ke sebuah panggung dan mulai membakar semangat peserta aksi lewat pelantang suara.

Di barisan depan terbentang sejumlah spanduk dan poster. Isinya seruan: Peringatan Hari Buruh Se-dunia. Upah Minimum Nasional 7000 Sekarang Juga! Bebaskan Buruh Berorganisasi. SPSI No Way. Kami Emoh SPSI. Buruh Terisap, Rakyat Melarat. Stop Intervensi Militer dalam Kasus Perburuhan. Cabut 5 UU Politik.

Di Kutip dari Tirto.id-Indept

Kesaksian 1 Mei 1995: Peringatan May Day Pertama Melawan Soeharto (Bagian 2)

 Ilustrasi: Perayaan 1 Mei 1995 di Semarang dan Jakarta, May Day pertama di masa rezim Soeharto. Tirto/Hafitz

Oleh: Petrus Hariyanto – 30 April 2018

Bagian Sebelumnya: Aku terpilih menjadi pengurus pusat sebagai ketua departemen pengembangan organisasi. Kemudian, awal tahun 1995, dalam Dewan Nasional SMID di Solo, aku terpilih menjadi sekretaris jenderal.

Setelah gerakan buruh di Semarang membesar, PPBI Semarang dan SMID cabang Semarang mengusulkan Aksi Aliansi Mahasiswa dan Buruh untuk merayakan May Day (Hari Buruh Internasional). Aksinya bersifat nasional, dengan menggerakkan seluruh cabang SMID.

Aku mewakili SMID bertemu Dita Indah Sari, Ketua Umum Pusat Perjuangan Buruh Indonesia. Diputuskanlah aksi 1 Mei di Jakarta, dengan mendatangi kantor Departemen Tenaga Kerja, serta di Semarang. Isu yang kami angkat, di antara hal lain, adalah upah minimum nasional Rp7.000 per hari.

Kami berpendapat bahwa perlawanan kaum buruh adalah pondasi yang paling mungkin untuk diraih dan diorganisir dalam perjuangan demokratik. Jumlah massa yang semakin besar, kesetiaan perlawanan, dan makna strategisnya bagi perekonomian kapitalisme Orde Baru, akan membuat kaum buruh mampu menjadi benteng demokrasi di masa kini dan masa depan. Salah satu kelompok di luar PPBI yang melakukan perlawanan adalah Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Muchtar Pakpahan, Ketua SBSI, bahkan dipenjara.

Dalam persiapan aksi May Day di Semarang, aku telah membuat surat instruksi kepada semua cabang untuk melakukan mobilisasi nasional. Anggota SMID cabang harus dimobilisasi ke Semarang, satu hari menjelang aksi.

Rapat Persiapan Aksi

Aku dijemput seorang kurir dan menuju rumah Radjimo S. Wijono, mahasiswa jurusan sejarah Universitas Diponegoro, angkatan 1993. Kami langsung ke lantai dua di sebuah ruangan seluas sekitar 5 x 5 meter persegi.

Di rumah Momok, sapaan Radjimo, sudah ada Bimo Petrus dan Sardiyoko dari SMID Surabaya. Ada juga kawan-kawan dari SMID Semarang: Aan Rusdianto, Ari Trismana, Dody Ardiansyah, Fransica Ria Susanti, Nurul Qoiriyah, Rivani Noer, Sulaiman Akbar, dan Wirayanti. SMID Solo diwakili Prijo Warsono dan Sindu. SMID

Kesaksian 1 Mei 1995: Peringatan May Day Pertama Melawan Soeharto (Bagian 1)

Ilustrasi: Perayaan 1 Mei 1995 di Semarang dan Jakarta, May Day pertama di masa rezim Soeharto. Tirto/Hafitz

Oleh: Petrus Hariyanto – 30 April 2018

Penuturan orang pertama tentang peringatan Hari Buruh 1 Mei 1995, dan respons kekerasan aparat Orde Baru, tiga tahun sebelum rezim itu kolaps.

Hari ini, 23 tahun lalu, aku tiba di Semarang setelah menempuh perjalanan semalam penuh dari Jakarta menggunakan bus. Aku turun di Tambak Haji, di daerah Mangkang. Sesuai pesan kawan-kawan, aku dilarang langsung memasuki Kota Semarang.

Tambak Haji terletak di antara perbatasan Kota Kendal dan Semarang. Daerah ini konsentrasi pabrik, basis utama pengorganisasian Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) cabang Semarang.

Sambil menunggu jemputan kurir, aku mampir di sebuah warung mi instan. Menyeruput kopi dan mengisap kretek, lamunanku mengembara saat aku masih beraktivitas di Semarang.

Teringat wajah Irmadi, Boy, Oskar, Supri, Bambang—kawan buruh yang pertama diorganisir sekitar tahun 1991 di Mangkang. Pertama kali yang mengorganisir adalah Sugeng Bahagijo dari Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Setelah berdiri Solidaritas Mahasiswa Semarang, hasil pengorganisasian Sugeng diserahkan ke kawan-kawan Semarang. Ignatius Pranowo alias Wowok adalah salah satu kader mahasiswa di Solidaritas yang diterjunkan ke basis buruh. Wowok adalah mahasiswa IKIP PGRI Semarang, pengelola majalah mahasiswa Vokal.

Tak banyak mahasiswa yang mau ditempatkan di basis buruh karena enggan tercerabut dari kampus. Salah satu syarat menjadi organiser buruh harus fokus ke basis, harus setop dulu beraktivitas di kampus. Tujuannya melindungi basis pengorganisasian buruh, yang harus dilakukan secara tertutup, karena masih tahap awal.

Wowok, pemuda bertubuh kecil berkacamata, mengerjakan tugasnya dengan tekun. Selain memimpin kolektif buruh Semarang, ia bertugas mengorganisir buruh pabrik di daerah Ungaran sampai kawasan industri sekitar Pabrik Jamu Jago.
PPBI berdiri pada 23 Oktober 1994 dalam Kongres Buruh di Bandungan, Jawa Tengah. Wowok dan para organiser buruh di Semarang menjadi peserta kongres itu.

Dua bulan sebelumnya, 3 Agustus 1994, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) terbentuk melalui sebuah kongres yang dihadiri Solidaritas Mahasiswa Semarang, Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Solo, Solidaritas Mahasiswa Surabaya, Solidaritas Mahasiswa Jakarta, Solidaritas Mahasiswa Salatiga, dan Solidaritas Mahasiswa Manado.

Aku terpilih menjadi pengurus pusat sebagai ketua departemen pengembangan organisasi. Kemudian, awal tahun 1995, dalam Dewan Nasional SMID di Solo, aku terpilih menjadi sekretaris jenderal.

Kajian Eksistensialisme Tentang Ontologi (Bagian 6)

Di kutip dari buku Pemikiran Jean-Paul Sartre

Bagian sebelumnya: Peniadaan itu terjadi terus menerus, tidak pernah berhenti sebab manusia tidak pernah berhenti berbuat sesuatu. Dia selalu bukan dia, karena selalu meluncur ke dia. Dia selalu membelum. Jadi, proses itu tidak pernah selesai ,selalu meniadakan dirinya dan berusaha untuk menjadi dia yang lain. Justru karena kebebasannya bereksistensi itu dipandang sebagai sebuah kutukan, hukuman, dan keterpaksaan

Etre-pour-soi selalu ingin menjadi etre-en-soi-pour-soi, sekaligus keduanya, dan itu tidak akan pernah terjadi (kalaupun ada berarti itu milik Tuhan, sesuatu yang ditolak Sartre, karena tidak mungkin en-soi dan pour-soi bersatu). Itulah kesia-siaan, dan itulah eksistensi manusia. Manusia selalu meniada dan tidak bisa tidak harus terus meniada. Tidak ada

aspek membangun,tidak ada ketetapan. Proses itu adalah suatu kesia-siaan karena tidak mungkin bisa menyatu antara en-soi dan pur-soi, dan proses itu berhenti ketika kematian tiba.

Analisa:

Ada beberapa hal yang patut dicermati seputar ada-nya manusia didunia menurut Sartre.

  1. Sejauh yang saya tahu, Sartre tidak membincangkan tentang solusi solusi bagaimana manusia keluar dari ‘lingkaran setan’ yang bermuara pada kesia-siaan itu. Dia hanya menasehati kita agar jangan memandang ke dalam, tetapi memandang keluar, ke pekerjaan dan tugas kita, kepada masa depan yang sedang dibangun (Hadiwijono : 1980, Drijarkara : 1981). Tetapi tetap saja, sulit membangun masa depan jika kita tidak percaya dan selalu curiga kepada orang lain yang dianggapnya neraka. Dalam membangun hdibutuhkan kerjasama dan saling percaya.

Heidegger, yang dianggapnya sealiran atheis dengannya, menyodorkan alternatif. Pertama, melarikan diri dari dirinya dengan tidak mengakui bahwa Dasein itu menuju kematian. Manusia terus bersibuk menggarap sarana. Dasein dihayati sebagai Eksistenz, sehingga ia mengalami dirinya sungguh sungguh ada (pernyataan Sartre diatas mirip dengan pernyataan ini). Dan dengan itu pula manusia bisa membangun peradaban. Kedua adalah sadar tentang kematian dan menghayatinya dengan kesadaran dan ketegaran, dan

inilah hidup yang sejati.