Aliran Wahabi Dan Siapa Muhammad Bin Abdul Wahhab.

Orang-orang biasa menuduh “Wahabi ” kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid’ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo’a (memohon) hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Suatu kali, di depan seorang Syaikh, penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba’in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi.

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ،

“Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]

Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau mengatakan, “Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya -menurut tradisi- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela.” sebagaimana dikutip dari laman blog almanhaj.or.id

Lalu kepada Syaikh tersebut penulis katakan, “Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah.” Ia lalu menyergah, “Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!”

Penulis lalu bertanya, “Apa dalil anda?” Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, “Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa’d![1]” dan Aku bertanya padanya, “Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa’d dapat memberi manfaat kepadamu?” Ia menjawab, “Aku berdo’a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku.”

Lalu penulis berkata, “Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu.”

Ia lalu berkata, “Pola pikirmu adalah pola pikir Wahabi. Engkau pergi ber-umrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab Wahabi.”

Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang Wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang Wahabi, “Orang-orang Wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya.”

Jika orang-orang Wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal Wahabi lebih jauh.”

Kemudian penulis tanyakan jama’ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.

Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang Syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, “Ini adalah seorang Syaikh yang tawadhu’ (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati).”

Lalu Syaikh membuka pelajaran dengan ucapan:

الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ

“Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan.“, dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa membuka khutbah dan pelajarannya.

Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur’anul Karim dan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.[2]. Sebagian orang menuduh kita orang-orang Wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya.

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” [Al-Hujurat/49: 11]

Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi’i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, “Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah.”

Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita Wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, “Jika pengikut Ahmad adalah Wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku Wahabi.”

Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, “Inilah Syaikh yang sesungguhnya!”

PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama Wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa).

Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya Wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, “Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.”

Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo’a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Al-Qur’an menegaskan:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” [Yunus/10 : 106]

Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ،

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo’a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.

1. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya
Para ahli bid’ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” [Shaad/38 : 5]

Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta’ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima[3], padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang Wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.

Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah- telah menulis kitab “Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam “. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.

Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur’an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.

Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.

2. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan:

اللَّهُمَ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنا، اللَّهُمَ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا، فَقَالَهَا مِرَارًا، فَلَمَّا كَانَ فِيْ الشَالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ، قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ! وَفِيْ عِرَاقِنَا؟ قَالَ : إِنَّ بِهَا الزَّلاَزِلَ وَالْفِتَنَ وَبِهَا يَطْلَعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, ‘Dan di negeri Nejed.’ Rasulullah berkata, ‘Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali Radhiyallahu anhuma dibunuh.

Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.

3. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Adalah Salah Seorang Mujaddid (Pembaharu) Abad 12H.
Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang “Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah“, di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin ‘Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke negeri India dan negeri-negeri lainnya melalui jama’ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, pemerintah Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut.

Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka. Selanjutnya penjajah Inggris memerintahkan kepada kaum Murtaziqah[4] agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata Wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid’ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo’a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma’ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.

Oleh
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Sumber : almanhah.or.id

Mengenal Metafisika Yin-Yan China

Metafisika Yin-Yan China- Konsep Yin Yang atau Yinyang (Hanzi) berasal dari filsafat Cina dan metafisika kuno yang menjelaskan setiap benda di alam semesta memiliki polaritas abadi berupa dua kekuatan utama yang selalu berlawanan tapi selalu melengkapi. Yin bersifat pasif, sedih, gelap, feminin, responsif, dan dikaitkan dengan malam. Yang bersifat aktif, terang, maskulin, agresif, dan dikaitkan dengan siang. Yin disimbolkan dengan air, sedangkan Yang disimbolkan dengan api.

Yin (feminin, hitam, bersifat pasif) dan Yang (maskulin, terang, bersifat aktif) adalah dua elemen yang saling melengkapi. Setiap kekuatan di alam dianggap memiliki keadaan Yin dan Yang.

Kemungkinan besar teori Yin dan Yang berasal dari ajaran agama agraris zaman kuno. Konsep Yin Yang dikenal dalam Taoisme dan Konfusianisme, walaupun kata Yin Yang hanya muncul sekali dalam kitab Tao Te Ching yang penuh dengan contoh dan penjelasan tentang konsep keseimbangan. Konsep Yin Yang merupakan prinsip dasar dalam ilmu pengobatan tradisional Cina yang menetapkan setiap organ tubuh memiliki Yin dan Yang.

Segala sesuatu tampak merupkaan dualitas, Yin dan Yang, tetapi apabila kita perhatikan didalam simbol Yin Yang itu sendiri, terdapat Yin didalam Yang dan terdapat Yang didalam Yin, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada segala sesuatu yang mutlak Yin atau mutlak Yang. Kedua nya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang pada akhir nya akan menyadarkan kita bahwa tidak ada Yin dan Yang, hanya Kekosongan.

Metafisika Yin-Yan China Posted: 6 September 2010- Penulis. Ahmad Elqorni

Dalam BUDAYA CHINABUDAYA DUNIA

Filsafat Tag:yin yang

Bisakah Tuhan di Buktikan Dengan Akal?

Akal dan Konsep Ketuhanan

Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah Fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya Fitrah mereka redup atau bahkan padam.

Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para Ahli ma’rifat berkata,”Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al-Qur’an dan hadis). Merka beralasan dengan adanya sejumlah ayat atau riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al-Qur’an dan hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) Aqli. Pada edisi berikutnya, Insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur’an, hadis dan konsep ketuhanan.

Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya Harus dibatasi pada sisi peribadatan saja.

Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal?

Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal, dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal.

Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan yang sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur’an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al-Qur’an itu sendiri, yaitu Allah Ta’ala.

Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al-Qur’an lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal itu berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur’an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah.
Mereka menjawab,”Karena Al-Qur’an mengatakan demikian.” Maka terjadilah daur (Lingkaran Setan?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al-Qur’an dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli.

Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofis.Pada kesempatan ini Insya Allah kami mencoba menjelaskan keduanya secara sederhana dan ringkas.
Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala

  1. Burhan Nidham (Keteraturan)

Burhan ini dibangun atas beberapa muqaddimah (premis).
Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati.

Kedua, bahwa alam bendawi (tabi’at) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam.

Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas (‘ilaliyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab (‘illat), dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab-akibat, adalah sebuah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa, atau ‘illatul ‘ilal).
Keempat, “sebab” atau ‘illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu “sebab” yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup.

Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu.
Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, di antaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang palin menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah manusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ?

Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai “sebab” atau ‘illat, dan “sebab” tersebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai “sebab” segala sesuatu itu dengan sebutan Allah Ta’ala.

2.Burhanal-Huduts(Kebaruan).
Al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada. Burhan ini terdri atas beberapa hal :
Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi.
Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena “sebab” sesuatu.
Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada ‘sesuatu’ yang keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Kaum muslimin menamakan ‘sesuatu’ itu dengan sebutan Allah Ta’ala.
Burhan-burhan Aqli-Filosofi tentang kenicayaan wujud Allah Ta’ala.

  1. Burhan Imkan Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu :

Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang lain.

Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan ‘adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-‘adam). Artinya sesutu yang ketika ‘ada’ disebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika ‘tidak ada’ disebabkan faktor eksternal pula, atau ketiadaannya juga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosuf, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi).

Mumtani’ atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (ijtima’un naqidhain).

Daur (siklus atau lingkaran setan). Misal, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, sedangkan B keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ad tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada saat yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima’un naqidhain (lihat Mumtani’).

Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B kebradaannya tergantung membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak mungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikin pula C tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya.

Tasalsul, yaitu susunan sejumlah ‘illat dan ma’lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi ‘illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tasalsul sama dengan daur, mustahil adanya.

Burhan Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa point berikut ini :
Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib atau mumkin.

Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membutuhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) atau tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil.
Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang wajib adalah ‘sebab’ dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau ‘illatul ‘ilal). Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta’ala.

  1. Burhan ash-Shiddiqin

Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Ahlibait as. yang berbunyi,”Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya.” (Doa Shabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, burhan ini ingin menjelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahli mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama dengan penjelasan burhan Imkan.

Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Di antaranya penafsiran Mulla Shadra. Beliau mengatakan, “Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak membutuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama adalah wujud yang wajib, yaitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua , adalah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tegak kecuali dengan -Nya. (Nihayah al-Hikmah, hal. 269).

Allamah al-Hilli , dalam kitab Tajrid al-‘I’tiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan, “Diluar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala) , dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (ntuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib , maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mustahil adanya.

Sumber Referensi ‘Akal dan Konsep Ketuhanan’. Oleh : Comrad Eka Trotski

KitabRujukan :
1.NihayahalHikmah,karyaAllamahThabathabai.
2.Kasyfal-MuradfiSyarhat-tajrid,karyaAllamahal-Hilli.
3.Babal-Hadi’Asyr,karyaAllamahal-Hilli
4.Al-Ilahiyyat,karyaSyekhJa’farSubhani.5. Muhadharah fi Ilmi al-Kalam (kaset), ceramah Sayyid Kamal Haydari.

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (BAGIAN 2)

Bagian Sebelumnya.

‘Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa  konsep kosmologis  dalam al-Qur’an, mengenai penciptaan alam semesta, yang  dikemukakan  orang  itu  sangatlah  sederhana.  Dan  an  itu tidaklah     benar,    karena    konsepsinya    tidak    mampu mengakomodasikan  gejala  yang   dinyatakan   ayat   4   surah al-Dzariyat’.

Sebuah  langit  yang  berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah  langit  yang  bertambah  luas.  Apalagi   kalau   ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya; tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. Pada hemat saya, sesuatu konsepsi   mengenai   alam  semesta  yang  benar  harus  dapat dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat   dalam   kitab   suci;   ia   harus  sesuai  dengan konsep-konsep kosmologis dalam  al-Qur’an.  Untuk  mendapatkan konsepsi  yang  benar  itu  pada  hakekatnya  telah  diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat  101  surah  Yunus, Katakanlah  (wahai Muhammad), Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama’ dan di ardh (QS. Yunus: 101). Dalam  teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah, Maka apakah mereka itu tak   memperhatikan   onta-dalam   intighon,   bagaimana    ia diciptakan.   Dan   sama’,   bagaimana  ia  ditinggikan.  (QS. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). Serta dalam ayat 190  dan  191  surah Ali Imran, Sesungguhnya dalam penciptaan sama’ dan ardh, serta silih bergantinya siang dan  malam,  terdapat  ayat-ayat  bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan  berbaring,  dan pikirkan  tentang penciptaan sama’ dan ardh, wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia; Maha suci Engkau, maka  peliharalah kami dari siksa azab neraka. (QS. Ali Imran: 190 dan 191).

Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini, maka muncullah di lingkungan   umat  Islam  suatu  kegiatan  observasional  yang disertai dengan pengukuran, sehingga ilmu tidak lagi  bersifat kontemplatif  belaka,  seperti  yang  berkembang di lingkungan Yunani,  tapi  mempunyai  ciri  empiris  sehingga  tersusunlah dasar-dasar  sains.  Penerapan metode ilmiah ini, yang terdiri atas  pengukuran  teliti   pada   observasi   dan   penggunaan pertimbangan  yang  rasional, telah mengubah astrologi menjadi astronomi. Karena telah menjadi kebiasaan para  pakar  menulis hasil   penelitian   orang  lain,  maka  tersusunlah  himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita  kenal  sebagai  sains. Jelaslah  di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar.

Kita ingat ayat 3,  4  dan  5  surah  al-‘Alaq,  Bacalah,  dan Tuhanmulah  Yang Maha Pemurah. yang mengajar dengan qalam. [3] Dia mengajar manusia apa yang  tidak  diketahuinya.  Penalaran tentang    “bagaimana”    dan   “mengapa”,   yang   menyangkut proses-proses alamiah di  langit  itu,  menyebabkan  timbulnya cabang  baru  dalam  sains  yang  dinamakan  astrofisika, yang bersama-sama  astronomi  membentuk  konsep-konsep   kosmologi. Meskipun  ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama, kiranya perlu kita pertanyakan  apakah  benar  konsep  kosmologi  yang berkembang dalam  sains  itu  sejalan  dengan  apa  yang  terdapat  dalam al-Qur’an.  Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada  para  cendekiawan  bukan  Islam sejak  pertengahan  abad  ke  13 sampai selesai dalam abad 17, sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka  acuan  budaya, mental  dan  spiritual  yang  bukan  Islam,  dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. (Baca bagian Selanjutnya’ Konsep konsep kosmologi bagian-3).

Oleh Achmad Baiquni- dalam ‘Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (BAGIAN PERTAMA)

Oleh, Achmad Baiquni

‘Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah’

Editor: Budhy Munawar-Rachman

Telah  banyak  kitab  yang   ditulis   ulama   masyhur   untuk menafsirkan   ayat-ayat   suci   al-Qur’an   –yang  merupakan garis-garis  besar  ajaran  Islam  itu–  dengan   menggunakan ayat-ayat   lain   di   dalam  kitab  suci  tersebut,  sebagai bandingan, dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan.  Namun, dalam  al-Qur’an  sendiri, ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini  secara  jelas  disebutkan  sebagai   “ayat-ayat   Allah”, misalnya  dalam  surah  ‘Ali  Imran  190 disebut, Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi, serta silih  bergantinya  malam dan  siang,  terdapat  ayat-ayat  Allah  bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Karenanya, maka sebagai padanan untuk mendapatkan  arti  ayat-ayat al-Qur’an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran  ayat-ayat  al-Qur’an  yang berisi  konsep-konsep  Kauniyah  sangat bervariasi, tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam  semesta  itu  sendiri.

Untuk  memberikan  contoh  yang  nyata,  kita  dapat  menelaah ayat-ayat  berikut,  Dan  tidakkah   orang-orang   kafir   itu mengetahui  bahwa  agama  sama,  [1]  dan  ardh [2] itu dahulu sesuatu  yang  padu,  kemudian  kami  pisahkan  keduanya  (QS.

al-Anbiya’:  30. Dan sama’ itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. al-Dzariyat: 47).

Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama’  artinya  langit;  pengertiannya  ialah bahwa langit itu adalah  sebuah  bola  super  raksasa  yang  panjang  radiusnya tertentu,   yang  berputar  mengelilingi  sumbunya.  Dan  pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan  di malam hari. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia merasa yakin  bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari,  kapan  pun  juga.  Bintang-bintang tampak  tidak  berubah posisinya yang satu terhadap yang lain, dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu  hari  (siang dan malam).

Apa  yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia  diminta  memberikan  penafsiran  (bukan  sekadar   salinan kata-kata)  ayat-ayat  tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan  persepsinya  tentang  langit, serta  ardh  yaitu  bumi  yang  datar  yang dikurung oleh bola langit. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan  bahwa  ayat  30 surah   al-Anbiya’   itu  melukiskan  peristiwa  ketika  Tuhan menyebutkan  langit  menjadi  bola,  setelah  ia  sekian  lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa  konsep kosmologis  dalam al-Qur’an, mengenai penciptaan alam semesta, yang  dikemukakan  orang  itu  sangatlah  sederhana.  Dan  itu tidaklah     benar,    karena    konsepsinya    tidak    mampu mengakomodasikan  gejala  yang   dinyatakan   ayat   4   surah al-Dzariyat. (baca bagia Selanjutnya)

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (BAGIAN 2)

Kajian Eksistensialisme Tentang Ontologi (Bagian 3)

 Di kutip dari buku Pemikiran Jean-Paul Sartre

Bagian sebelumnya:Tahap ketiga adalah bentuk religio atau keagamaan. Sebagai orang Kristen, manusia harus mengikat dirinya total ke Tuhan. Hanya dengan demikian manusia berdiri di depan Tuhan, dan hanya dengan didepan Tuhanlah dengan penuh dosa yang membebaninya-manusia mempunyai eksistensi yang wajar. ‘ada’nya manusia adalah manusia dihadapan Tuhan dengan penuh kesadaran bahwa dirinya penuh dosa dan dalam ketakutan.

Tetapi justru dalam suasana suram itulah Tuhan menolongnya.

Heidegger:

Membicarakan Heidegger disini amat penting, sebab pengaruhnya terhadap Sartre cukup besar.

Heidegger merumuskan kembali pertanyan tentang “ada”. pertanyaannya adalah “apa makna mengada” (what is meant to be). Dan karena ‘ada’ tidak bisa diungkapkan dengan positif, maka dilakukan dengan pernyataan negasi terhadap ‘ada’. (Siswanto :1998) Dasein (being-there) merupakan eksistensi manusia didunia empiris ini.

Baginya manusia selalu ada dalam dunia, bersama seluruh benda-benda (being-in-the-world).

Manusia terlemparkan kedalam realitas dengan tidak tahu karena apa , atau asal usulnya (gewoerfen-sein). Karena ituah manusia menjadi cemas (Angst).

Karena cemas, manusia sibuk dengan Zuhadenes (lingkup dunia sarana-sarana) dan Vorhandenes (lingkup dunia benda-benda), sampai lupa mengurus ‘ada’-nya sendiri. Kecemasannya semakin menjadi karena sadar bahwa perjalanannya ternyata harus bermuara adalah kematian. Proyek kehidupannya berakhir dengan kematian (Sein Zum Tode).

Dengan demikian, realitas dunia menampakkan diri sebagai tiada. ada-dalam-dunia, itu tanpa arti dan tanda guna, ‘ada’ itu berawal dari ‘tiada’ dan menuju ‘tiada’.

Kesadaran manusia akan ‘tiada’ itu membuat manusia cemas dan putus adsa. Ia hanya tinggal menanti ‘tiada’ itu. tiada’ itu pengingkaran total terhadap semua ‘pengada (das Seienden), namun ‘tiada’ itu sendiri bukanlah ‘pengada’. ‘tiada’ itu meniadakan ‘pengada’.

Mengada ialah terjadinya aletheia, yaitu proses mengada itu menampakkan dan menyembunyikan diri (tertutup ) secara anonim, dalam historisitasnya, manusia tepasksa selalu memilih, sehigga ia tidak dalat menguasai segala kemunginan, kecuali dengan memilih menutrup kemungkinan tertentu, karena itulah manusia selalu bersalah.

Selain Perasaan bersalah ini didalam ketertutupannya ini juga terkandung unsur kesemuan. Semua ini diakibatkan oleh kecemasan manusia menghadapi ‘mengada’.

Sehingga manusia melarikan diri ke dalam keadaan kemerosotan, yang dikongkretkan dalam kegagalan manusia untuk menghayati tiga aspek hakiki manusia dalam eksistensinya (kepekaan, pemahaman, berbicara). Inilah tragedi manusia yang tidak dapat dihindari.

Tetapi ada harapan, bahwa melalui penderitaan kegagalan itu, manusia akan memahami ‘mengada’, dan pemahaman itu akan membuat manusia utuh (heil) dan menyembuhkan (heilen). Untuk mengatasi kecemasan, ada dua cara. Pertama, melarikan diri dari dirinya dengan tidak mengakui bahwa Dasein itu menuju kematian. Manusia

terus bersibuk menggarap sarana. Dasein dihayati sebagai Eksistenz, sehingga ia mengalami dirinya sungguh sungguh ada. Sedangkan cara kedua adalah sadar tentang kematian dan menghayatinya dengan kesadaran dan ketegaran, dan inilah hidup yang sejati.

Kajian Eksistensialisme Tentang Ontologi (Bagian 2)

Bagian sebelumnya: Jadi, manusia hanyalah akibat dari proses-proses unsur kimia, fisik, fisiologis, sosial yang dari luar diri manusia semata, sehingga menjadikannya sebuah benda diantara benda-benda lainya. Sifat khusus tentang cara manusia berada disangkal dan dilalaikan. Manusia hanya diposisikan sebagai objek. Menurut Rene Le Senne, kesalahan materialisme adalah detotalisation, detotalisasi, memungkiri totalitas manusia dengan cara mereuksi manusia hanya dari unsur materi saja.

Padahal menurut kaum eksistensialis, manusia mempunyai kehendak bebas, mengerti etika, dan membangun kebudayaan. Manusia tidak hanya berada didalam dunia, tetapi juga menghadapi manusia. Manusia menjalani kehidupan yang selalu berarti membuat dan menjalankan makna-makna.

Itu berarti manusia mempunyai kesadaran. Sadar akan dirinya sendiri, sadar akan objek-objek yang disadarinya. Manusia yang memiliki kesadaran ini menjadi Subjek, bukan lagi objek semata.

Mengutip Maurice-Merleau Ponty : “manusia tidak hanya dimuat (englobe) oleh dunia, tetapi juga memuat (englobant) dunia.”. Manusia yang disebutkan oleh materialisme, meminjam istilah Sartre, hanyalah etre-en-soi (ada-dalam-diri) saja, belum etre-pour-soi (ada-bagi-diri).

Eksistensialisme juga memberontak terhadap idealisme. Bagi idealisme, antara kesadaran dan alam di luar kesadaran tidak ada sangkut pautnya. Sedangkan kedudukan manusia adalah melulu sebagai Subjek.

Padahal, manusia juga bisa menjadi objek. Bagi Eksistensialisme, manusia bisa menjadi Subjek sekaligus Objek.

Bagi kaum eksistensialis, semangat “aku berpikir maka aku ada” dibalik menjadi “aku ada maka aku berpikir” (Sutrisno : 1987). Bagi mereka, Eksistensi mendahului esensi.

Karena itulah, meskipun banyak dipengaruhi oleh Fenomenologi Hurssel, tetap saja Sartre menolak “Eidos” (esensi) karena mengasumsikan adanya tujuan akhir (Bertens : 1996). Sebelum melihat pemikiran Sartre, akan dipaparkan pemikiran eksistensialis lainnya secara sekilas.

Kiekergaard

Baginya, bentuk kehidupan manusia ada tiga macam.

Pertama, estesis, yaitu yang pikirannya hanya diarahkan ke hal-hal di luar dirinya.Manusia berpikir untuk berpikir. Kiekergaard membenci alam pikiran seperti itu.

Kedua adalah etis, manusia memusatkan pikirannya kedalam dirinya sendiri. Ini juga masih ada dialam kekaburan, belum lepas dari alam estesi.

Ini masih belum cukup.

Tahap ketiga adalah bentuk religio atau keagamaan.

Sebagai orang Kristen, manusia harus mengikat dirinya total ke Tuhan.

Hanya dengan demikian manusia berdiri di depan Tuhan, dan hanya dengan didepan Tuhanlah dengan penuh dosa yang membebaninya-manusia mempunyai eksistensi yang wajar. ‘ada’nya manusia adalah manusia dihadapan Tuhan dengan penuh kesadaran bahwa dirinya penuh dosa dan dalam ketakutan.

Tetapi justru dalam suasana suram itulah Tuhan menolongnya.

Kajian Eksistensialisme Tentang Ontologi (Bagian 1)

Penulis: om agu/Di kutip dari buku Pemikiran Jean-Paul Sartre

“Eksistensialisme adalah corak pemikiran jaman modern yang merupakan pemberontakan terhadap model pemikran sebelumnya.”

Eksistensialisme menyeruak dunia filsafat semenjak Perang Dunia II (Sutrisno : 1987). Diantara para tokohnya adalah Heidegger, Gabriel Marcel, Nietsze, Kieerkegaard, Sartre, Jaspers, dan Levinas. Yang dianggap bapak Eksistensialisme adalah Soren Kiekeergaard.

Dalam perkembangannya eksistensialisme, Sartre memetakannya ke dua kubu. Pertama adalah kubu Katolik seperti Jaspers dan Marcel yang bergerak menuju Tuhan. Kubu lainnya adalah eksistensialis ateis yaitu Sartre, Heidegger, dan eksistensialis Perancis lainnya (Bertens :1987) . Tetapi ada kesamaan dalam pemikiran kaum eksistensialis itu, yaitu :

  1. Motif pokoknya adalah eksistensi, cara khas manusia berada. Pusat perhatian adalah manusia.
  2. Bereksistensi adalah dinamis, menciptakan dirinya secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan. Manusia, setiap saat, selalu berubah kurang atau lebih dari keadaan sebelumnya. Tidak ada ‘state of being’.
  3. Manusia dipandang terbuka, sebagai realitas yang belum selesai. Pada hakikatnya, manusia terikat kepada dunia sekitar, terutama kepada sesama manusia
  4. Memberikan tekanan pada pengalama eksistensial kongkrit manusia misalnya kepada kematian, penderitaan, kesalahan, perjuangan. (Hadiwijono : 1980)

Paper ini berusaha memaparkan tentang kajian eksistensialisme tentang ontologi, dengan menitik beratkan pada masalah ‘ada’-nya manusia.

Eksistensialisme dalam kajian Ontologi

Dalam kaitannya dengan masalah ontologi dan metafisika, memakai metode yang agak berbeda dengan cara-cara yang pernah dikenal sebelumnya, misalnya materialisme dan idealisme. Yang dimaksud dengan eksistensi disini adalah cara manusia berada di dunia ini. Cara yang khusus, berbeda dengan benda-benda, dan hanya berlaku bagi manusia.

Eksistensi disini tidak sama dengan ‘mengada’. Sebagai ilustrasi, manusia sibuk dengan dunia luar, dia mencurahkan dirinya untuk dunia luar, karena itu seolah-olah dia ada diluar dirinya sendiri. Tetapi, justru karena keluar dari dirinya itulah dia sampai ke dirinya sendiri .

Itulah yang disebut eksistensi : berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri. Heidegger mengistilahkannya dengan Dasein. Dan ‘ada’nya manusia ini, kata Sartre, bukanlah etre, tetapi a etre, yaitu, manusia tidak hanya ada (being) tetapi juga selamanya harus membangun ada-nya tersebut. Ada-nya terus menjadi (becoming), berproses tanpa henti, tidak pernah selesai. Heidegger mengistilahkannya dengan “zu sein”, sedangkan gerakan memperbaharui diri ini disebutnya eksistensial.

Eksistensialisme adalah corak pemikiran jaman modern yang merupakan pemberontakan terhadap model pemikran sebelumnya, yaitu materialisme dan idealisme (Drijarkara :1981). Bagi materialisme, pada dasarnya segalanya sesuatu pada instansi yang terakhir hanyalah materi, termasuk manusia.

Jadi, manusia hanyalah akibat dari proses-proses unsur kimia, fisik, fisiologis, sosial yang dari luar diri manusia semata, sehingga menjadikannya sebuah benda diantara benda-benda lainya. Sifat khusus tentang cara manusia berada disangkal dan dilalaikan. Manusia hanya diposisikan sebagai objek. Menurut Rene Le Senne, kesalahan materialisme adalah detotalisation, detotalisasi, memungkiri totalitas manusia dengan cara mereuksi manusia hanya dari unsur materi saja.

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Merebaknya peradaban baru di Yunani kuno tidak dapat dipisahkan dari beberapa pengaruh dari daerah sekitarnya. Sebutkan dan jelaskan beberapa pengaruh dari kebudayaan Mesir kuno dan Mesopotamia dan Babilonia terhadap perkembangan awal peradaban dan pemikiran di Yunani kuno (sebelum abad ke-5 S.M)?

filsafat

Munculnya peradaban baru di Yunani memang dirasakan mengejutkan. Hal ini karena berbagai unsur yang membentuk peradaban sebenarnya sudah hadir ribuan tahun sebelumnya di Mesir kuno dan Mesopotamia, dan dari sana menyebar ke negeri-negeri tetangga. Peradaban Mesir dan Babilonia, yang berdiri di sekitar sungai-sungai besar, pada dasarnya bersifat pertanian.

Penyebaran peradaban ini dimungkinkan karena adanya perdagangan, yang pada awalnya hampir seluruhnya bersifat maritim. Penyebaran ini antara lain berlangsung lewat pelaut-pelaut dari Pulau Crete, yang lalu sampai ke Yunani.

Aritmatika dan semacam ilmu geometri sudah dikenal di kalangan orang Mesir kuno dan Babilonia, namun umumnya dalam bentuk yang sederhana. Namun, penalaran deduktif dari premis-premis umum adalah hasil inovasi orang Yunani.

Dari Babilonia, juga ada sumbangsih dalam hal sains. Pembagian hari menjadi 24 jam, pembagian lingkaran menjadi 360 derajat, siklus gerhana (yang bisa memastikan tanggal gerhana bulan, dan memperkirakan tanggal gerhana matahari) adalah hasil temuan orang Babilonia, yang kemudian dipelajari oleh filsuf Yunani, Thales.

Seni penulisan sudah ditemukan di Mesir kuno sekitar tahun 4.000 SM, dan di Mesopotamia tak lama sesudahnya. Di masing-masing negara ini, penulisan dimulai dalam bentuk gambar-gambar dari obyek yang dimaksudkan. Gambar-gambar ini dengan cepat dikonvesionalkan, sehingga kata-kata diwakili oleh ideogram, sebagaimana saat ini tetap dipakai di Cina.

Selama ribuan tahun, sistem ini kemudian berkembang menjadi penulisan alphabet. Melalui perantaraan orang Phoenicia, seni penulisan ini akhirnya sampai di Yunani, dan versi modernnya terus kita gunakan sampai sekarang ini.

Dari segi agama, agama-agama kuno di Mesir dan Babilonia pada awalnya adalah pemujaan pada kesuburan (fertilitas). Bumi dianggap sebagai perempuan, dan matahari sebagai laki-laki. Di Babilonia, Ishtar, dewi-bumi, adalah yang tertinggi di antara dewi-dewi lain. Di seluruh Asia Barat, Ibu Agung ini disembah dengan berbagai nama.

Ketika kaum koloni Yunani di Asia Kecil menemukan kuil-kuil pemujaan Ishtar, mereka menamainya Artemis dan mengambil alih kultus yang ada. Ini adalah asal-usul Diana dari Ephesia, yang merupakan sebutan Latin untuk Artemis. Penganut Nasrani kemudian mentransformasikannya menjadi Perawan Maria, yang kemudian dilegitimasikan menjadi “Mother of God.”

Jelaskan mengapa seorang filsuf perlu mempelajari filsafat Yunani?

Mempelajari filsafat Yunani itu tak ubahnya seperti membuka koridor, sebelum kita belajar ke pemikiran filsafat modern. Harus diakui, pemikiran para filsuf Yunani itu tak ubahnya benih-benih atau kecambah-kecambah pemikiran, yang batang dan rantingnya tumbuh sampai ke zaman sekarang.

Mempelajari filsafat Yunani membuat kita sadar bahwa pemikiran filsafat kontemporer sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang, dan ini bisa dirunut ke belakang sampai ke filsafat Yunani.

Sebenarnya, sangatlah menakjubkan bahwa lebih dari 2.000 tahun yang lalu, filsuf-filsuf Yunani sudah mengembangkan pemikiran, yang meskipun masih dalam bentuk dasar dan kasar, menjadi benih-benih berharga yang terus dikembangkan sampai zaman sekarang oleh filsuf-filsuf kontemporer.

Pengaruh matematika dalam pemikiran filsafat, misalnya, bisa dirunut ke pemikiran Pythagoras. Teori evolusi Wallace dan Darwin, dalam bentuk yang kasar dan fantastis sebetulnya sudah didahului oleh Empedokles.

Argumen-argumen metafisika, yang kemudian antara lain ditunjukkan oleh Hegel, sudah diawali oleh Permenides. Sedangkan atomisme, pandangan bahwa segala sesuatu terdiri dari atom-atom yang sangat kecil dan tidak bisa dibagi, sudah diajarkan oleh Leucippus dan Democritus.

Para filsuf Yunani telah melahirkan teori-teori yang kemudian seolah-olah memiliki kehidupan dan pertumbuhan independen. Meskipun pada awalnya teori-teori itu terlihat sangat sederhana, teori-teori itu terbukti mampu bertahan dan terus berkembang melampaui masa 2.000 tahun. Kini, hampir semua hipotesis yang pernah mendominasi filsafat modern, pertama kali telah diajarkan oleh para filsuf Yunani.

Apa peranan Pythagoras dan Heraclitus terhadap perkembangan pemikiran Yunani kuno?

Pythagoras berperan penting dalam perkembangan pemikiran Yunani kuno. Ada dua aspek dari figur Pyhthagoras. Dia dipandang sebagai seorang nabi yang religius sekaligus ahli matematika, dan dalam dua posisi itu dia sangat berpengaruh. Pythagoras adalah orang yang memulai penggunaan matematika, dalam arti argumen deduktif yang bisa diperagakan. Pengaruh matematika terhadap pemikiran filsafat, sebagian adalah sumbangan dari Pythagoras.

Pythagoras, yang penduduk asli Pulau Samos, pernah pergi ke Mesir dan belajar tentang banyak hal di sana. Sesudah kembali ke Croton, di selatan Italia, Pythagoras mendirikan sekolah matematika, dan mengembangkan masyarakat dari murid-muridnya, di mana keberadaan mereka pernah sangat berpengaruh. Sekolah Pythagoras ini mewakili apa yang kini bisa disebut tradisi mistik, yang kontras dengan kecenderungan ilmiah.

Pythagoras mengajarkan, pertama, bahwa jiwa (soul) itu abadi, dan jiwa itu bertransformasi menjadi berbagai makhluk bernyawa. Apapun yang ada (eksis) dilahirkan kembali dalam revolusi-revolusi dengan siklus tertentu. Jadi, tak ada yang secara mutlak baru. Segala sesuatu yang lahir dengan kehidupan di dalamnya sepatutnya diperlakukan sebagai kerabat.

Dalam komunitas yang dibentuk Pythagoras, laki-laki dan perempuan diperlakukan setara. Barang dan properti dimiliki bersama, serta ada jalan hidup bersama. Bahkan temuan matematika dan ilmiah dianggap temuan kolektif. Ini semua terkait dalam etika yang memuja kehidupan kontemplatif.

Pythagoras juga mengatakan, segala sesuatu yang ada dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan. Ia berpendapat demikian, karena menemukan bahwa not-not tangga nada sepadan dengan perbandingan-perbandingan antara bilangan-bilangan. Jika ternyata sebagian realitas terdiri dari bilangan-bilangan, mengapa tidak mungkin bahwa segala-galanya yang ada terdiri dari bilangan-bilangan.

Pythagoras dan murid-muridnya berjasa besar dalam pengembangan ilmu pasti, dan sampai saat ini di sekolah-sekolah masih diajarkan “dalil Pythagoras.”

Sementara itu, Heraclitus adalah filsuf yang juga warga bangsawan di Ephesus. Heraclitus sangat dikenal dengan doktrinnya bahwa segala sesuatu mengalir. Namun, ini hanya salah satu dari ajaran metafisikanya. Ia adalah seorang mistik.

Heraclitus beranggapan, api adalah substansi dasar, dan segala sesuatu –seperti kobaran api—terlahir akibat kematian sesuatu yang lain. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja terbakar menjadi abu.

Menurut Heraclitus, yang abadi adalah yang fana, dan yang fana adalah yang abadi. Yang satu menghidupi kematian yang lain, dan mematikan kehidupan yang lain. Ada kesatuan (unity) di dunia, namun kesatuan itu terbentuk dari kombinasi hal-hal yang berlawanan. Segala sesuatu berasal dari satu, dan yang satu berasal dari segala sesuatu. Namun, yang banyak memiliki realitas di bawah yang satu, yaitu Tuhan (Dewa).

Doktrin bahwa segala sesuatu dalam keadaan mengalir, adalah pandangan Heraclitus yang paling terkenal. Kita tak bisa melangkah dua kali ke sungai yang sama, karena air segar selalu mengalir ke arah kita. Matahari selalu baru setiap hari. Artinya, tidak ada yang definitif. Segala sesuatu tidaklah tetap, tetapi selalu dalam proses menjadi.

Jelaskan beberapa aspek penting dalam pemikiran Empedokles dan Parmenides?

Figur Empedokles adalah campuran dari sosok filsuf, rasul, ilmuwan, dan seorang pengecoh. Kontribusi Empedokles dalam sains adalah ketika ia menemukan udara sebagai suatu substansi terpisah. Ini dibuktikan dengan observasi, yaitu memasukkan ember secara terbalik ke dalam air. Air tak bisa masuk ke ember, karena adanya udara.

Ia juga menemukan gaya sentrifugal, serta adanya jenis seks (jantan-betina) pada tumbuh-tumbuhan. Ia bahkan menemukan teori evolusi dan kebertahanan hidup bagi makhluk yang paling pas (survival of the fittest), meski dalam bentuk yang amat fantastik. Empedokles juga paham astronomi, bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, dan bahwa cahaya memerlukan waktu untuk sampai ke obyek tertentu. Empedokles mendirikan sekolah pengobatan di Italia.

Empedokles menyatakan, tanah, air, udara dan api adalah empat unsur utama. Masing-masing unsur itu bersifat abadi, namun mereka dapat dicampurkan dalam proporsi yang berbeda-beda, dan dengan demikian menghasilkan substansi kompleks yang berubah, yang kita temukan di dunia.

Mereka dikombinasikan oleh Cinta dan dipisahkan oleh Pertentangan/Konflik. Cinta dan Pertentangan adalah substansi-substansi primitif yang setingkat dengan udara, tanah, air, dan api. Ada periode di mana Cinta menguat, tapi juga ada periode di mana Pertentangan lebih kuat.

Perubahan-perubahan dalam dunia bukan diatur oleh adanya tujuan tertentu, tetapi hanya oleh adanya Peluang (chance) dan Kebutuhan (necessity). Ada suatu siklus: ketika unsur-unsur secara mendalam telah dicampurkan oleh Cinta, maka Pertentangan secara bertahap memisahkan mereka kembali. Sebaliknya, ketika Pertentangan sudah memisahkan unsur-unsur itu, pada gilirannya Cinta akan menyatukannya kembali.

Jadi setiap substansi yang dikumpulkan cuma bersifat sementara. Hanya unsur-unsur, bersama dengan Cinta dan Pertentangan, yang bersifat abadi. Jadi di sini ada kemiripan dengan ajaran Heraclitus, meski lebih lunak, karena bukan hanya Pertentangan, melainkan Pertentangan bersama Cinta, yang menghasilkan perubahan.

Empedokles menolak Monisme, dengan mengatakan bahwa perubahan alam lebih diatur oleh peluang dan kebutuhan, ketimbang oleh tujuan tertentu. Dalam hal ini, filsafat Empedokles lebih bersifat ilmiah ketimbang ajaran Permenides, Plato, dan Aristoteles.

Sementara itu, Parmenides adalah filsuf dan penduduk asli Elea di selatan Italia. Ia menyatakan, indera manusia itu bersifat mengecoh, sehingga segala hal yang bisa diinderai itu sebenarnya hanya sekadar ilusi. Satu-satunya kebenaran adalah “Yang Satu” (The One), yang tidak terbatas dan tidak bisa dibagi-bagi. “Yang Satu” yang dimaksud oleh Permenides bukanlah kesatuan dari hal-hal yang berlawanan seperti dinyatakan Heraclitus, karena bagi Permenides tidak ada hal-hal yang berlawanan.

Parmenides tampaknya beranggapan, “dingin” bukanlah lawan dari “panas,” tapi bahwa “dingin” hanyalah berarti “tidak panas”. Atau “gelap” berarti “tak ada cahaya.” “Yang Satu” di sini bukanlah yang biasa kita anggap sebagai Tuhan, namun ia bersifat material dan meluas, seperti suatu sphere.

Parmenides membagi ajarannya menjadi “jalan kebenaran” dan “jalan opini.” Rumusannya tentang “jalan kebebaran”, antara lain. Sesuatu yang dapat dipikirkan dan demi hal itu pikiran itu eksis, adalah sama. Kita tak bisa menemukan pikiran tanpa sesuatu yang dipikirkan, sebagaimana terhadap mana sesuatu itu diucapkan.

Esensi argumen Parmenides adalah: Ketika kita berpikir, kita berpikir tentang sesuatu. Ketika kita menggunakan sebuah nama, itu pasti nama dari sesuatu. Karena itu baik pikiran maupun bahasa membutuhkan obyek di luar dirinya. Dan karena kita bisa berpikir tentang sesuatu atau bicara tentang sesuatu pada suatu waktu atau kapan saja, apapun yang dapat dipikirkan atau diucapkan itu pasti eksis sepanjang waktu.

Sebagai konsekuensinya, berarti tidak ada perubahan, karena perubahan itu terdiri dari hal-hal yang menjadi ada atau berhenti ada. Pandangan Parmenides ini dengan demikian kontras bertentangan dengan Heraclitus, yang menyatakan segala sesuatu selalu berubah, selalu mengalir.

Parmenides juga mengatakan, “Yang ada ada, dan yang tidak ada tidak ada”. Pernyataan ini tampaknya sudah jelas bagi setiap orang, namun mengandung konsekuensi-konsekuensi yang besar. Dari pendapat tadi harus disimpulkan, bahwa yang ada (=segala-galanya!) tidak dapat dipertentangkan dengan sesuatu yang lain. Akibatnya, harus dikatakan juga bahwa yang ada itu sama sekali satu, sempurna, dan tidak dapat dibagi-bagi. Artinya, tidak ada pluralitas.

Arti penting sumbangan Parmenides adalah ia menemukan sebentuk argumen metafisika, yang dalam satu dan lain bentuk, dapat ditemukan warisannya pada filsuf-filsuf metafisika sesudahnya, termasuk Hegel. Parmenides sering disebut menemukan logika, namun sebenarnya ia menemukan metafisika yang berlandaskan logika.

Berikan gambaran tentang peran para Sofis bagi perkembangan pemikiran Yunani dan apa kritik orang terhadap kelompok pemikir ini?

Kata Sofis (Sophist) pada awalnya tidak memiliki konotasi yang buruk. “Sofis” berarti semacam “profesor,” yang kita kenal sekarang. Sofis adalah orang yang mencari nafkah dengan mengajar kaum muda tentang hal-hal tertentu, yang dipandang bermanfaat bagi kehidupan praktis.

Karena tak ada sarana atau pendanaan publik untuk pendidikan semacam tu, kaum sofis hanya mengajar mereka yang mampu membayar, atau yang orangtuanya memiliki dana untuk itu. Hal ini cenderung memberikan semacam bias kelas (class biased) pada mereka, yang semakin meningkat oleh situasi politik pada masa itu.

Demokrasi Athena pada masa itu, walau membatasi hak-hak kaum budak dan perempuan, sudah memiliki sistem pengadilan. Namun, para hakim dan eksekutif utamanya adalah orang biasa, bukan kaum profesional. Mereka dipilih untuk menjalankan fungsi itu untuk periode yang pendek. Masing-masing mereka tampil bertugas, namun dengan masing-masing prasangkanya sendiri seperti warga biasa. Terdakwa juga tampil secara pribadi tanpa didampingi ahli hukum profesional.

Dalam sistem semacam itu, keberhasilan atau kegagalan di sidang pengadilan, tergantung pada kemampuan retorika dan bersilat lidah, dalam memenangkan atau meyakinkan para pendengarnya. Walaupun tiap orang harus menyampaikan pembelaannya sendiri, ia bisa menyewa orang lain untuk menuliskan pidatonya, atau membayar orang untuk mengajari taktik-taktik memenangkan perdebatan. Di sinilah para sofis berperan. Hal ini juga menjelaskan, mengapa kaum sofis populer dan dekat dengan kelas tertentu, tetapi dibenci oleh kelas yang lain.

Maka, sumbangan kaum sofis bagi pemikiran Yunani adalah lebih pada seni berargumentasi dan keterampilan retorika. Dengan kemampuan retorika dan berolah kata, sebuah opini bisa dipandang lebih baik daripada opini yang lain, walaupun tidak berarti opini itu lebih benar daripada opini yang lain.

Hal ini karena, tujuan si pelaku bukan untuk mencari kebenaran, tetapi sekadar untuk memenangkan perdebatan. Jadi, ajaran kaum sofis tidak berkaitan dengan kebajikan atau ajaran agama, bahkan oleh kalangan agama bisa dianggap tidak serius dan tidak bermoral. ***

Depok, Oktober 2008

(Tulisan Satrio Arismunandar, sebagai tugas mata kuliah Sejarah Filsafat Yunani, yang diajar oleh Vincensius J. Jolasa, Ph.D, di program S-3 Ilmu Filsafat, FIB-UI)