Pesilat Indonesia Boyong Medali Emas Untuk Indonesia

Tribuncelebes.Com, JAKARTA—Sejumlah Atlet Pesilat Indonesia memboyong medali emas pada pentas Asian Games di Jakarta Palembang 2018, Perjuangan para atlet ini tidak dilalui dengan mudah harus pengorbanan waktu, pikiran dan tenaga untuk mengharumkan nama bangsa dan negaranya.

Meraih suatu kesuksesan pada ajang yang bergensi ini harus mengorbankan waktu hingga meninggalkan keluarga, berlatih dan membangun kekuatan demi persembahan yang terbaik.

Wakil Manager Atlet Silat Asian Games Abdul Karim Aljufri menceritakan awal upaya para pendekar terbaik Indonesia dalam membangun tekad mengharumkan nama baik bangsa dan negaranya, tidak segampan yang dipikirkan untuk meraih suatu prestasi ini. Apalagi para pendekar pesilat Indonesia meraih prestasi di tingkat internasional dan memboyong medali emas untuk Indonesia.

“Padhal latar belakang keluarganya menengah kebawah, dan kebawah-kebawah,” ujar Bang Abdul.

Lanjut manta pesilat Indonesia ini, diketahui para atlet pesilat Indonesia ini dari kalangan keluarga yang tidak mapan ini sangat pertaruhkan pengorbanannya untuk keluarga dan bangsa.

“Kita mesti bersyukur para atlet silat banyak pengorbanan buat bangsa dan negara,” kata pelatih nasional ini.

Sementara sekertaris IPSI DKI Jakarta menyampaikan peran penting ketua IPSI Indonesia bapak Prabowo Subianto dalam melakukan pembinaan kepada para atlet sangat luar biasa.

“Bapak Prabowo ini sudah menjadi bapak bagi para talet ini, jadi kalau bicara bapak dan anak tentu apapun dikorbankan untuk kesuksesan anaknya” Pungkasnya.

Ia juga menjelaskan, sebelum bertanding bapak Prabowo Subianto memberikan pesan kepada para atlet silat agar mereka menampilkan yang terbaik pada perhelatan Asian Games Jakarta Palembang 2018, pesan ini pula yang membuat para atlet bersemangat untuk mempersembahkan medali emas.

“Pesan Bapak kepada atlet saat berkumpul di K4 (istilah lain dari rumah Prabowo Subianto) tidak perlu mengejar emas, cukup tampilkan yang terbaik, hasil akan mengikuti,” Kata Wakil Manager Silat Asian Games 2018 Abdul Karim Al-Jufri.

Hal itu disampaikan saat Para Atlet ini berkumpul dirumah Prabowo Subianto jauh hari sebelum pembukaan Asian games dilaksanakan.

”jadi mereka tidak menargetkan berapa emas yang didapat, hanya bilang siapa yang berhak menang itu yang dapat emas, sehingga atlit tidak terbebani secara mental,”tutupnya.

El-Anchu

Refleksi HUT RI 73, Nurul Safitri Ajak Pemuda Jadi Penggerak Perubahan

Tribuncelebes.Com, SOPPENG—Merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-73 Tahun secara serentak digelar di seluruh Indonesia menjadi bagian terpenting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme sebagai anak bangsa.

Namun kata Ketua DPC Gerindra Soppeng, Hj. Nurul Safitri Fathullah mengingatkan kepada msyarakat khususnya para pemuda untuk tidak larut dalam eforia HUT RI semata, akan tetapi hal ini ia harapkan agar generasi muda menjadi motor penggerak untuk mewujudkan Indonesia lebih baik lagi.

“Saatnya generasi muda menjadi motor penggerak perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik,”kata Nurul Safitri Fathullah.

Selanjutnya kata dia pemuda-pemuda dalam menyambut tahun Politik, pemilihan presiden 2019 agar tidak menodai pesta demokrasi dengan hal yang merugikan masyarakat banyak.

“Mari kita menjadikan semangat kemerdekaan kita, untuk menyambut pilpres 2019 agar pemimpin yang dilahirkan adalah pemimpin yang tidak melukai semangat kemerdekaan,” terang Nurul yang kini menerima tugas dari Prabowo Subianto untuk maju di Pileg 2019 DPRD Provinsi Dapil Soppeng Wajo.

Laporan: El-Anchu

MERDEKA ATAU MEDDE’KA (Bagian.1)

Oleh: Andi Irwandi Natsir

Nun jauh disana, di pelosok negeri ini, pelosok Bone ini. Hiruk pikuk kemerdekaan dirayakan dengan penuh sukacita. Berbagai perlombaan di gelar, juara tak juara mereka tertawa. Bahagia rasanya menyaksikan itu, di tempat kami di besarkan. Kebetulan saja, perayaan 17-an kecamatan Bontocani kali ini, di tempatkan di desa Watang Cani, desa jika ditarik garis lingkar luarnya telah berbatas Gowa dengan Maros, sudut Bone.

Ditengah sukacita warga itu, berbangga rasanya melihat semangat nasionalisme membumbung tinggi. Masih ada diantara mereka menjadi saksi, begitu susahnya hidup di zaman penjajahan Nippon dan Kolonial, cerita itu mengalir mensemangati generasi dalam ber 17-an. Tetapi taukah kalian, selepas perayaan itu di gelar, hidup mereka kembali dihantui oleh bayang kemiskinan apalagi di tengah musim kemarau, lahan pertanian susah di taklukkan, biasanya yang paling bersahabat adalah bertanam kacang tanah. Dan toh pun, jika kacang tanah yang mereka tanam di musim kemarau berhasil, jangan bandingkan dengan harga normal karena biaya transport memotong setengah harga, maklum tebing terjal dan licin. Ini baru satu contoh kasus, di negeri kita masih banyak yang demikian bahkan masih ada yang lebih parah, terkhusus di daerah kita tercinta, Bone ini. Sesungguhnya yang demikian itu, subtansi kemerdekaan belum mereka dapatkan.

Kemerdekaan banyak ditafsirkan dalam berbagai model, seperti kebebasan. Kebebasan sendiri bisa liar, seperti liarnya demokrasi yang kita rasakan saat ini. Tetapi dalam amanat pembukaan UUD 1945, jelas disebutkan subtansi kemerdekaan itu adalah, meningkatkan kecerdasan bangsa, membangun ketertiban dunia abadi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Poin terakhir masihlah menjadi “Pekerjaan Rumah”, tak tuntas dari sembilan Presiden telah berlalu…(lanjut ke ‘Merdeka atau Medde’ka bagian.2)

MERDEKA ATAU MEDDE’KA (Bagian.2)

MERDEKA ATAU MEDDE’KA (Bagian.3)

Edisi ‘Indonesiaku Terlacur’

Penulis : Agus Baldie

Dulu Dikala fajar menyingsing, dimasa abjad abjad mulai diejakan dlm memori kecilku, aku terbuai gambar2 indah Indonesiaku.

Dulu dikala pagi menyongsong, dimasa geografi negeriku disaji berlimpah Rahmat dalam nalar bocahku, aku sumringah, akan masa nyaman yg akan kureguk.

Dulu dikala mentari mulai menggoda, dimasa nikmat ber Indonesia ditawarkan sebagai warisan para syuhada negeri pada logika remajaku, aku berbinar membayang gemah ripah loh jinawi.

Kemarin, ketika daya kritisku terbentuk akibat pendidikan tinggiku yg liar, aku terpekur lunglai menyaksi kebohongan kebohongan dongeng masa tumbuhku.

Kemarin ketika signal radar dan gelombang sonar mulai menggambar fakta Indonesia, aku merintih dalam radang murka menonton pelacuran ibu pertiwiku.

Kini, bukan hanya dongeng indah masa kecil Indonesiaku yg terenggut, bukan saja sumringah asa hatiku yg diberangus, namun martabat ibu bapak negeriku yg diperkosa oleh penghianat penghianat yg berwajah saudara. Ya mereka lebih memilih menjadi anjing tunggangan kafir harby dari pada menjadi khalifah dlm khilafah yg berbama Indonesia.

Ya… Mereka lebih memilih melakukan tost gelas gelas yg berisi limbah logam berat, dibanding mereguk jenih segar aliran sungai sungai alam Indonesiaku dan berbagi dgn saudaranya.

Mereka, baik nenek tambun yg tak kenyang keyang, ataupun petruk oey yg lugu menyimpan rencana sendiri, bahkan belalang tua yg gagal unggul dimasanya, kini berasap hio menggadai kesadarannya, menjual martabat ibu pertiwi.

Ya asap hio itu telah menghijab nalarnya. Hingga tak lagi mampu melukis wajah saudaranya.

Kasihan, dimataku kini, mereka hanya produck akhir kegelapan. Bocah bocah dgn suara melebah kemarin disurau langgar, kini bersiap panah, dipunggung kuda, menyebar obor menghalau gelapnya.

Sungguh merugi mereka, disaat melata unmikroskopis merayapi waktu, menantinya, ia sibuk berkuyah ritual bersembah vahalanya.

Ternyata dogeng itu punya pemilik. Dan sewanya telah jelang tunai.

Bersiaplah membayar.

Opini: Sang Merah Putih Terbalik di Malaysia

Menyikapi Kasus Terbaliknya Bendera Merah Putih di buku panduan Sea games Malaysia 2017.
Miris dan teriris dada ini melihat bendera kita dicetak terbalik, rasa nasionalisme ini ingin berontak, marah, tersinggung, sedih dan kecewa.

Tapi sayangnya kita tidak bisa berbuat apa apa selain melampiaskan rasa marah melalui status di medsos..FB, WAG, Line dll. Apakah serendah itu harga diri bangsa ini?. Apakah semudah itu bangsa ini dilecehkan orang lain?.

Pertanyaan Pertanyaan itu bagai lingkaran setan yg mengusik relung relung hati ini. Tidak adakah yg bisa dilakukan oleh anak bangsa agar kita bisa berdiri tegak dengan penuh kebanggaan diantara bangsa bangsa lain di dunia?.

Jawabannya hanya satu…Tingkatkan Sumber daya manusia anak bangsa. Bangun patriotisme nasionalisme,professionalitas sehingga kita mampu berdiri di kaki sendiri.

Seharusnya kejadian kejadian seperti ini mampu membuka mata seluruh anak negeri,bahwa yg dibutuhkan negara ini adalah generasi yang mampu mengelola bangsa ini, yang menguasai ilmu dan teknologi sehingga tidak tergantung dari negara lain.

Saat ini kita seperti macan ompong yang cuma bisa teriak tapi tidak bisa berbuat apa apa.
Tahukah saudara sekalian, kalau seandainya hari ini indonesia perang,maka jumlah peluru yg ada di indonesia akan habis hanya dalam wakitau 5 jam saja. sekali lagi hanya 5 jam.

Tahukah saudara, berapa juta rakyat indonesia yg mencari nafkah di malaysia, padahal negara kita kaya.
Sadarkah kita negara kita negara yang memiliki pantai terpanjang di dunia tapi kita krisis garam?.
Pada pembukaan UUD 1945.

Para pahlawan pendiri negara kita sudah mengantarkan ke pintu gerbang kemerdekaan tapi kita sudah 72 tahun merdeka hanya jalan ditempat, cuma sampai di pintu gerbang kemerdakaan, para generasi penerus bangsa ini tidak berbuat apa apa untuk mengelola bangsa ini. Yang terjadi selanjutnya adalah paradox Indonesia.

Kita besar tapi kecil.Besar secara populasi tapi kecil secara produkitaifita Kita kaya tapi miskin. Negara kita kaya tapi kita tidak bisa mengelola dengan baik,akhirnya kekayaan negara tidak bisa membuat masyarakatnya jadi kaya tapi malahan semakin miskin.

Kita merdeka tapi tidak berdaulat. Kita sudah merdeka tapi segalanya ditentukan asing, kurs rupiah tergantung dollar, segalanya tergantung asing.. Kita pintar tapi bodoh. Kita pintar berbicara tapi bodoh dalam inplementasi.

Sadarlah kawan.,harus kita akui kita jadi bangsa yg bodoh. Bangsa yg mudah menengadahkan tangan utk meminta minta. Bangsa yg lebih mementingkan gengsi dari pada bekerja dan berkarya
Musuh kita yg utama adalah kebodohan karna mindset and cultureset kita sendiri.

cukup sudah kita diolok-olok,cukup sudah kita dilecehkan bangsa lain, bangun dan tingkatkan SDM kita, rubah mindset and cultureset kita. Jangan wariskan kebodohan kepada anak-anak kita agar Indonesia tetap ada dan tidak terhapus dari peta dunia.

…sebuah catatan kecil saat ngopi di borneo (Jalan kalimantan).

Penulis.Kepala Badan Kesbangpol Bone yang juga wakil MPO PP Bone
Dray vibrianto S.IP,M.Si

Tarif Tenaga Listrik di Indonesia Termasuk Murah Dibanding Negara ASEAN

TRIBUNCELEBES.com, JAKARTA – Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengemukakan, data bulan Mei 2017 menyebutkan bahwa TTL untuk golongan rumah tangga di Indonesia sebesar Rp1.467 kWh, jauh lebih murah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina sebesar Rp2.359 per kWh, Singapura Rp2.185 per kWh dan Thailand sebesar Rp1.571 per kWh.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan, bahwa Tarif Tenaga Listrik (TTL) di Indonesia bukanlah yang termahal di dunia, bahkan termasuk murah dan kompetitif untuk kawasan ASEAN.

“Hal ini menepis anggapan bahwa tarif tenaga listrik di Indonesia adalah yang termahal di dunia,” kata Dadan, di Jakarta, Selasa (8/8/2017) dilaporkan setkab.go.id.

Tarif yang kompetitif ini, sambung Dadan, bukan hanya untuk golongan rumah tangga saja. Tapi TTL golongan bisnis besar dan industri besar juga kompetitif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Ia menyebutkan, sesuai data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, untuk periode tarif bulan Mei 2017, untuk pelanggan bisnis besar, tarifnya adalah Rp1.115 per kWh, sementara Thailand Rp1.149 per kWh, Singapura Rp1.523 per kWh, Filipina Rp1.464 per kWh, dan Vietnam Rp1.456 per kWh.

Sementara untuk industri besar, pada periode tarif yang sama, tarif di Indonesia adalah Rp. 997 per kWh, sementara Thailand Rp1.034 per kWh, Singapura Rp1.382 per kWh, dan Filipina Rp1.417 per kWh.
Kementerian ESDM: Tarif Tenaga Listrik di Indonesia Termasuk Murah Dibanding Negara ASEAN

TTL (rata-rata semua pengguna) di Indonesia hanya USD 7 sen per kWh atau sekitar Rp945 per kWh (kurs Rp.13.500 per dollar), merupakan yang terendah dibandingkan negara-negara lain yang dikaji, yakni Jepang (wilayah Kansai) sebesar USD 23,3 sen per kWh, Hongkong USD 15,1 sen per kWh, Filipina USD 14,6 sen per kWh, Singapura USD 10,9 sen per kWh, Thailand USD 9,9 sen per kWh, Korea Selatan USD 9,5 sen per kWh, Malaysia USD 8,8 sen per kWh, dan Taiwan sebesar USD 8,7 sen per kWh.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Dadan Kusdiana memastikan, bahwa pemerintah terus meningkatkan tata kelola dan mendorong agar PT PLN (Persero) terus melakukan efisiensi dalam menyediakan tenaga listrik bagi rakyat Indonesia.

Sepanjang tahun 2017, jelas Dana, Pemerintah menerapkan kebijakan subsidi tepat sasaran, yaitu bagi 900 Volt Ampere (VA) rumah tangga mampu, Pemerintah menyesuaikan tarif tenaga listrik secara bertahap sejak 1 Januari s.d. 30 Juni 2017. Selanjutnya, Pemerintah menetapkan bahwa sejak 1 Juli 2017 – 31 Desember 2017, tarif tenaga listrik tidak naik.

Pemerintah, jelas Dadan, juga tetap melindungi masyarakat miskin dan tidak mampu dengan memberikan subsidi yang tepat sasaran. Tarif tenaga listrik bagi pelanggan listrik rumah tangga :

450 Volt Ampere (VA) sebesar Rp415 per kWh (Subsidinya Rp1.052 per kWh);
900 VA miskin dan tidak mampu sebesar Rp586 per kWh (Subsidinya Rp881 per kWh);
900 VA mampu sebesar Rp1.352 per kWh (Subsidinya Rp115 per kWh)

Indonesia Terus Dorong Asia Tenggara Bebas Senjata Nuklir

TRIBUNCELEBES.com, JAKARTA – Indonesia menegaskan bahwa setelah 22 tahun sejak Traktat SEANWFZ ditandatangani oleh 10 Negara anggota ASEAN untuk menjadikan kawasan ASEAN bebas senjata nuklir, belum ada negara pemilik senjata nuklir yang melakukan aksesi kepada Protokol Perjanjian tersebut.

Karenanya, Menlu RI Retno Marsudi dalam pertemuan Komisi SEANWFZ menyatakan, Bagi Indonesia, aksesi Protokol Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ) oleh negara-negara pemilik senjata nuklir adalah suatu keharusan.

“Aksesi Negara Negara pemilik senjata nuklir terhadap Protokol Traktat SEANWFZ sangat penting untuk memastikan efektivitas Traktat tersebut dan sekaligus memastikan 600 juta penduduk ASEAN terbebas dari ancaman senjata nuklir,” sebut Menlu Retno, di Manila, Kamis (3/8/2017) kemarin.

Dalam kaitan ini, Indonesia mendorong agar ASEAN meningkatkan engagement dengan kepada negara-negara pemilik senjata nuklir guna mengatasi hambatan untuk aksesi kepada protocol SEANWFZ oleh pemilik senjata nuklir.

Indonesia menyampaikan bahwa ASEAN telah memiliki matriks yang memuat berbagai posisi ASEAN dan kesulitan negara pemilik senjata nuklir untuk lakukan aksesi.

“Saya mengusulkan agar ASEAN dapat kembali tingkatkan intensitas komunikasi dengan Negara-negara pemiliki senjata nuklir untuk bahas langkah maju,” tutur Menlu RI dilaporkan setkab.go.id.

Pertemuan Komisi SEANWFZ, yang mengawali rangkaian pertemuan Menlu ASEAN ke-50, merupakan mekanisme tingkat Menlu untuk mengawasi implementasi Southeast Asian Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ) Treaty.

Pertemuan menyepakati untuk memperpanjang Rencana Aksi SEANWFZ guna memperkuat implementasi Perjanjian tersebut yang berakhir tahun ini untuk periode lima tahun ke depan. (*)

Ideologi Mahasiswa Arsitektur Indonesia

Oleh:Abd. Shalim tehupelarsury

 

di rangkai Dengan Reuni akbar, Mengenang kawan kawan Seperjuangan dari berbagai daerah dan Suku.semua satu dalam arsitektur

Sebuah catatan tentang  Kilas balik masyarakat Arsitektur Indonesia TKI-MAI (Temu Karya Ilmiah Mahasiswa arsitekture Indonesia)yang di sembahkan pada momentum temu karya ilmiah mahasiswa arsitektur Indonesia tahun 2017 di Jakarta yang berlangsung dari tanggal 27 Juli hingga 31 Juli 2017.

Kami Mahasiswa Indonesia Bicara  Tentang Arsitektur Indonesia
Pengaruh asing yang masuk ke Indonesia tanpa adanya kemampuan untuk menyaring pengaruh tersebut. Kecenderungan terjadinya Hegemoni sebagai dampaknya adalah terjadinya distorsi nilai dan dekadensi identitas nasional, kegamangan bangsa Indonesia atas identitasnya mengakibatkan hilangnya keyakinan dan semangat juang bangsa Indonesia sehingga identitas bangsa Indonesia tidak lagi mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dan mahasiswa sebagai penggerak perubahan sangar diperlukan untuk melakukan resistensi guna menjaga identitas nasional dan mempertahankan serta memperjuangkan resistensi bangsa dalam panggung percaturan dunia. Arsitektur sebagai faktor struktural pembentuk identitas bangsa menempati posisi yang sangat strategis untuk mewujudkan resistensi nasional dalam menyaring pengaruh asing. Medekadensi identitas bangsa Indonesia.                                                                ‘Ideologi Mahasiswa Arsitektur Indonesia’Kondisi Obyektif Secara redaksional, Kondisi Obyektif dalam Ideologi MAI (mahasiswa arsitek Indonesia) berbunyi:

Alumni MAI-Lubis ISTN, Atho Tadulako Pak, Andi UI, Asep Unbor, Manto Untar, Denny ISTN, Joyo univ. Jayabaya (Kiri ke kanan)

Perihal Arsitektur Indonesia Adanya kesan ekslusifitas arsitektur Belum adanya inplementasi nyata di lapangan terhadap ilmu arsitektur Indonesia. Tidak adanya kejelasan orientasi M.A.I terhadap arsitektur Indonesia pada saat menjadi mahasiswa dan pasca mahasiswa Kurangnya kesadaran M.A.I untuk mencari,meneliti dan menyimpulkan arsitektur Indonesia Kurangnya literatur arsitektur Indonesia Kurang kritisnya M.A.I
Prihal Pendidikan Nasional Adanya interfensi asing terhadap format pendidikan arsitektur Indonesia Adanya interfensi dosen terhadap MAI yang mendistorsi kreativitas mahasiswa. Institusi pendidikan arsitektur Indonesia miskin literatur arsitektur Indonesia Tidak adanya pemahaman kritis terhadap arsitektur luar untuk memberikan pemikiran objektif dalam pemilihan dan penggunaan arsitektur asing.
Prihal Masyarakat Indonesia Sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahui dan memehami ilmu arsitektur khususnya arsitektur Indonesia. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggali arsitektur Indonesia. Kurangnya pemberdayaan MAI dalam masalah penentuan kebijakan yang berhubungan dengan arsitektur Indonesia. Tidak/belum maksimalnya ketelibatan MAI dalam pendampingan, namun pada saat menjadi mahasiswa dan pasca menjadi mahasiswa getol akan adanya apresiasi masyarakat.

Whats on TKI FKMAI (Temu Karya Ilmiah-Forum Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia)Dengan berlatar-belakang perkembangan dunia Arsitektur Indonesia dengan berbagai permasalahannya serta tantangan yang harus dihadapi. Peranan maupun tanggung jawab bersama semua pihak di lingkungan disiplin ilmu Arsitektur dalam perguruan tinggi, dituntut secara nyata untuk turut aktif dalam menghadapi masalah dan tantangan tersebut. Sehubungan dengan hal ini,TKI-FK MAI merupakan kegiatan Mahasiswa Arsitektur Indonesia yang berlangsung dengan baik pada setiap tahunnya, sejak tahun 1982 dan merupakan suatu harapan untuk terus intens dan berkesinambungan.

Kenangan Jam gadang| Padang-Bukit Tinggi |TKI MAI 2002|

Bahwasanya berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serat jiwa kebangsaan yang tinggi dan idialisme yang dimiliki oleh Mahasiswa Arsitektur Indonesia, maka lahirlah suatu kesatuan atau kesepakatan pandangan mengenai “Temu Karya Ilmiah-Forum Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia” (TKI-FK MAI), yaitu:
1. Kesatuan pendapat Mahasiswa Arsitektur Indonesia di Jakarta tanggal 3 Oktober 1982 yang berbunyi “Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta sikap penuh tanggung jawab sebagai insan akademis dalam menjunjung tinggi TRI DARMA PERGURUAN TINGGI, Kami, Mahasiswa Arsitektur Indonesia telah sepakat dan berhasil melahirkan suatu kesatuan pendapat dalam menghadapi tantangan yang berkaitan dengan ruang lingkup Arsitektur”.
Dalam perjalanannya TKI-FK MAI tentunya banyak mendapatkan rintangan dan hambatan sebagai dinamikanya, baik pada tingkat pertemuan tahunan tersebut sampai pada implementasi hasil-hasil pertemuan. Hal ini sangat disadari dan dirasakan oleh seluruh Mahasiswa Arsitektur Indonesia yang tergabung dalam TKI-FK MAI. Dari rasa sadar akan hambatan-hambatan tersebut, maka dianggap perlu untuk kembali mengkomunikasikan hal-hal yang berhubungan dengan pengaplikasian kearsitekturan serta pengabdian kepada masyarakat.

Kenangan Kapal Ganda Dewata|TKI MAI.2000-Makassar

Maka munculah sebuah kesepakatan yang lahir dari hati nurani Mahasiswa Arsitektur Indonesia yang paling dalam yang dilandasi atas azas musyawarah dan mufakat. Yaitu:1. Perlu kejelasan suatu pandangan akan keberadaan dan identitas Arsitektur Nusantara.2. Perlu penekanan ideologi sebagai jiwa TKI-FK MAI yang bersumber.3. Perlu suatu cara untuk mengimplementasikan nilai-nilai ideologi sebagai jiwa Mahasiswa Arsitektur Indonesia.4. Perlu reposisi TKI-FK MAI dalam menghadapi kebutuhan dan tantangan masa depan.
Yang bertujuan untuk memperkenalkan lebih jauh akan pendidikan dan dunia Arsitektur Indonesia bagi masyarakat. Sebagai forum komunikasi ilmu pengetahuan antara pihak pemerintah, swasta, stakeholder dan masyarakat umum dalam menemukenali mencari pemecahan berbagai permasalahan di bidang arsitektur, kecerdasan lokal, memperkenalkan potensi sosial-budaya dan pariwisata Sulawesi Tenggara di tingkat nasional dan membumingkannya ke taraf international.
Dengan berpandangan umum, atas dasar kesadaran yang tinggi tentang perlunya Temu Karya Ilmiah-Forum Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia (TKI-FK MAI) dan menjadi suatu tantangan serta tanggung jawab moral bagi setiap insan Mahasiswa Arsitektur Indonesia sebagai suatu jiwa.
Pengertian jiwa Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Indonesia:a. Kebersamaan dan kekeluargaanb. Saling menghargaic. Rasa tanggung jawab
Berdasarkan uraian diatas Mahasiswa Arsitektur Indonesia telah sepakat untuk:1. Meningkatkan komunikasi dengan saling memperkuat serta tukar menukar pendapat antara Mahasiswa Arsitektur Indonesia.2. Turun memperkenalkan dunia arsitektur Indonesia kepada masyarakat.3. Mengambil bagian turun meberi sumbangih, menyumbangkan gagasan pemikiran dari pendidikan Arsitektur untuk masyarakat.4. Mencari dan menerima masukan-masukan dari semua unsur guna menunjang pendidikan Arsitektur yang berorientasi pengabdian masyarakat.

 

Ungkapan Cinta mahasiswa Arsitek makassar Univ.Bosowa (Univ 45)

Lets start with History…….
Apakah TKI itu? Dalam pembahasannya di Simposium, TKI secara ideal dapat di bedah melalui lafal penamaannya, seperti:• Temu Karya Ilmiah di bedah menjadi Temu, Karya, dan Ilmiah.• Temu merepresentasikan kegiatan bertemu-berinteraksi-berkomunikasi- seperti layaknya semangat yang ada pada awal-awal geraknya kita. Kegiatan ini di terjemahkan kedalam bentuk Forum Komunikasi, Komisi 1, 2, dan 3, serta Pameran.• Karya merepresentasikan aksi langsung-grounded-dan hasil nyata seperti layaknya semangat yang ada pada kisaran gerak kita yang kedua. Kegiatan ini diterjemahkan kedalam bentuk paket Pengabdian Masyarakat dan Klinik Arsitektur.• Sedangkan Ilmiah merepresentasikan unsur akademis-obyektifitas-dan potensi diri yang diterjemahkan kedalam bentuk Ekskursi, Diskusi Ilmiah, dan Seminar.• Secara konseptual, ketiga item diatas juga merepresentasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dalam bentuk fungsi atur (FK), fungsi pendidikan (Disil) dan fungsi Pengabdian Masyarakat (PengMasy).• Dan secara urutan penamaannya, Temu Karya Ilmiah seharusnya memiliki penekanan pada kegiatan ilmiahnya.!

Kenangan TKI MAI.2001

Apakah FK- MAI Itu? Pada dasarnya pertanyaan ini muncul dari sebuah dilematika tentang hubungan antara FK dengan TKI. Secara teknis, memang memasukkan FK kedalam paket TKI adalah cara paling efisien, tetapi secara konseptual, hal ini dapat menimbulkan pengaburan paradigma berpikir kita tentang hubungan keduanya. Hingga kitapun perlu untuk meng-clear-kan posisi keduanya, bahwa sebenarnya, diantara FK dan TKI, siapa yang lebih dulu ada? Siapa yang dapat mengatur siapa? Mengapa keduanya dilaksanakan pada saat yang bersamaan? Apakah hubungan keduanya seperti layaknya lembaga eksukutif dan legeslatif? Dalam sesi gugatan sejarah, terbukti bahwa TKI memang diawali dengan pameran yang diadakan di Jakarta. Dan pameran inipun tidak pernah diawali oleh sebuah forum komunikasi, karena sifatnya adalah sebuah undangan institusi. Baru ketika akan diadakan pameran kedua pada tahun berikutnya, ada forum bersama (yang menyerupai FK). Jadi, FK baru lahir pada TKI yang kedua. Sementara itu, dilain sisi, ada sebuah penekanan, bahwa sebenarnya TKI baru lahir di Bandung dan bukan di Jakarta. Pemberian nama TKI MAI I Jakarta, justru diberikan di Bandung, setahun setelah pelaksanaan pameran yang di Jakarta, dengan tujuan untuk menghormati pameran institusi yang ada di Jakarta tersebut, sebagai ujung tonggak sejarah berdirinya TKI, dan FK. Sehingga kalau FK memang lahir di Bandung, maka sebenarnya FK lahir sebelum TKI itu sendiri ada.

Keluar dari konteks sejarah, ada sebuah pemikiran, bahwa TKI adalah sebuah kegiatan. Ia adalah reaksi dari sebuah aksi pemikiran. Kegiatan ada karena ada pemikiran untuk mebuat kegiatan. Sehingga TKIpun ada karena ada FK yang merencanakannya, dan ini memberi hak kepada FK untuk mengawasi, mengevaluasi/mengkoreksi, dan memperbaiki TKI. Bukan dalam pola hubungan lembaga eksekutif-legeslatif, tetapi dalam hubungan bapak-anak, dimana FK berperan sabagai Bapak yang mendidik anaknya (TKI). Berangkat dari tiga poin diatas, maka memang seharusnya, secara teknis FK dipisah dari TKI, sebab FK tidak sama dengan TKI, apalagi menjadi bagian darinya. Secara ideal, mungkin justru seharusnya FK diadakan sebelum TKI. Tetapi apakah mungkin MAI berkumpul dua kali setahun? Tidakkah hal tersebut terlalu mahal cost kapital, dan akademiknya? Dalam menjawab pertanyaan diatas, ada sebuah konsep yang diadaptasikan dari Kesepakatan Padang, yang menyatakan bahwa secara teknis, tidak menjadi soal kalau FK dan TKI dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Asalkan ada pembedaan job description yang jelas. FK adalah forum, ia bertugas untuk mengkomunikasikan isu-isu nasional, dan mengkontrol jalannya TKI, dan merekomendasikan hal-hal baru untuk TKI berikutnya. Sedangkan TKI adalah kegiatan yang mengacu pada ketentuan FK tahun-tahun sebelumnya. Jadi seharusnya, FK yang sekarang ada di Palu, mulai membicarakan tentang perbaikan-perbaikan untuk TKI mendatang, sedangkan TKI di Palu, seharusnya sudah mengacu pada ketentuan-ketentuan yang kemarin ditetapkan oleh FK Padang. Satu hal lain yang menjadi alasan kenapa kita harus repot-repot memposisikan kedudukan FK dengan TKI, adalah bahwa sebenarnya, TKI hanyalah satu dari berbagai macam kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh FK. Oleh karenanya, urutan penyebutan nama seharusnya dilakukan dengan urutan: TKI FK MAI, atau gampangnya TKInya FK MAI. Sehingga FKpun dapat mengadakan kegiatan-kegiatan lain seperti Simposium FM MAI, atau mungkin Liga Sepak Bola FK MAI. Siapa tahu,

Apa itu MAI? Dalam pencarian jati diri-nya, eksplorasi identitas diarahkan dengan pengenalan ‘Arsitektur Nusantara’. Bahkan dalam pelaksanaannya, Arsitektur Nusantara yang secara teori tersebar dari Madagaskar hingga Oceania, dikerucutkan ke apa yang disebutkan dengan ‘Arsitektur Indonesia’ dalam bentuk sebuah Ideologi MAI di Padang, dan telah muncul sebagai sebuah paket independen di Palu. Karenanya dalam menyikapi pertanyaan ‘Apa MAI itu?’, Maka jawabnya jelas, Mahasiswa yang bergelut dengan Identitas Arsitektur Indonesia),sesuai dengan Ideologi MAI.
Periodesasi dalam sejarah ‘gerak’ MAI Sebelum kita berbincang-bincang mengenai ideologi MAI itu sendiri, ada satu hal yang perlu dibedah terlebih dahulu, yaitu latar belakang sejarah yang telah melahirkan ideologi MAI, sehingga penyikapan pasca-pencetusan tersebut dapat berjalan secara kontinyu.Dalam pembahasan identitas MAI di Simposium Nasional MAI, seingat saya pernah ada lontaran yang kurang lebih berbunyi seperti ini:‘Kesepakatan Padang sebagai acuan pelaksanaan TKI-MAI adalah pendokumentasian konseptual acara yang sangat rapi hingga dapat dijadikan sebagai sistem pengatur rangkaian acara tersebut. Tetapi janganlah sampai kita men-sakral-kannya, hingga kitapun tidak berani menggubahnya sesuai dengan perkembangan zaman’.
Kutipan tersebut diatas keluar ketika sidang FKK di Simposium sedang membahas tentang akan dirombak-tidak-nya Kesepakatan Padang sebagai acuan operasional TKI-MAI. Dan pelajaran yang dapat kita ambil disini adalah: bahwa sebenarnya, ideologi MAI-pun –secara individu- bukan merupakan aturan sakral, justru sebaliknya, ideologi MAI hanyalah bagian dari sebuah gerak atau pergerakan yang dilakukan oleh MAI. Hanya saja, kalau kita bedakan gerak tersebut kedalam beberapa periode pergerakan, maka seperti halnya Kesepakatan Padang, Ideologi MAI adalah salah satu titik kulminasi yang mengawali sebuah periode baru dalam gerak kita. Dan hal ini terjadi ketika FK sebagai wujud sebuah komunitas, telah mengalami pergeseran visi dan misi yang notabene secara formal sebenarnya belum pernah kita cetuskan. Untuk lebih memahami tentang gerak MAI ini, marilah kita tengok beberapa periodesasi yang pernah terjadi:
Periodesasi dalam ‘gerak’ MAI
Jakarta (1982)Kesatuan pendapat mahasiswa Arsitektur Indonesia yang menjadi Landasan awal tata atur pelaksanaan teknis kegiatan TKI MAI.Padang (1989)Disusunnya Kesepakatan Padang ( yang mengacu pada poin poin utama Tri Darma Perguruan Tinggi , Ruang Lingkup Arsitektur, dan Mahasiswa Arsitektur Indonesia sesuai dengan kesatuan pendapat MAI 1982, yang memuat aturan aturan teknis pelaksanaan TKI MAI  untuk tahun tahun selanjutnya

Saat sukses hal yang paling berkesan adalah ngopi bareng,berbagi cerita banyak hal.

1. Periode Nasionalisasi Forum Informal.Secara gamblang, gerak diawali oleh Pameran Arsitektur di Jakarta, yang kemudian di pameran serupa di Bandung yang dilaksanakan setahun kemudian dianggap sebagai tonggak sejarah berdirinya TKI MAI, dan diberi slogan TKI MAI pertama. Berangkat dari modal pameran tersebut, semangat yang diusung adalah pembudidayaan kegiatan cangkruk (kumpul-kumpul) sebagai forum tukar-pendapat, dan berbagi (sharing) ilmu antar Mahasiswa Arsitektur. Dan trend yang berjalan adalah untuk me-nasional-kan kegiatan tersebut, hingga pada tahun-tahun berikutnya, muncullah rayon-rayon baru yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.2. Periode Rekonstruksi Aksi.Periode ini mencapai klimaksnya dengan dikeluarkannya Kesepakatan Padang sebagai landasan operasional pelaksanaan TKI-MAI. Disini telah terjadi pergeseran semangat dengan adanya keinginan untuk pembakuan forum melalui pengeluaran aturan-aturan main, sehingga TKI-MAIpun tidak menjadi sekedar forum kumpul-kumpul saja. Selain itu, trend yang terjadi adalah dengan adanya pembakuan tema umum diskusi ilmiah: permukiman, maka arah gerak yang tadinya mengacu pada forum tukar-pendapat, mulai bergeser pada pengabdian masyarakat.

3. Periode Pelembagaan.Periode ini diawali di Medan dan Bandung pada awal dekade 90-an, dan terus berlanjut hingga berbuntut pada keluarnya Rayon 4 Yogyakarta dari FK-MAI. Pada periode ini, pergeseran gerak mungkin telah mencapai puncaknya, dimana semangat berkumpul yang tadinya hanya berdasarkan pada keinginan untuk sekedar bertukar-pikiran, mulai bergeser dengan diadakannya pembakuan dan perubahan arah gerak menuju ‘areal pengabdian masyarakat’. Yeng kemudian secara drastis, pergeseran ini kembali di geser menuju pembentukan lembaga formal guna mendapatkan kekuatan legalitas dalam ber-aksi (secara arsitektural tentunya).

4. Periode Pencarian Jati Diri.Dengan berlalunya titik klimaks pergeseran gerak, dan terjadinya ‘missing-link’ sebagai imbas dari vakumnya FK MAI pada awal era reformasi, dan dengan keluarnya Rayon 4, FK seakan mulai kehilangan gaungnya. Secara teknis, telah terjadi keterputusan transfer wacana tentang bagaimana seharusnya TKI MAI dilaksanakan. Dan lebih parah lagi, secara transendental, semangat perjuangan yang dulu sudah menasional, kini mulai padam.

Semangat Persatuan Tak Pernah berubah,
Serasa masih mahasiswa|Kiri ke kanan|Ayan Inten Bandung, Denny ISTN, Lubis ISTN, Lusi (Ambon) Unija, Joyo univ. Jayabaya, Alfian (Gopal) Tadulako-Palu, Atho Tadulako-Palu, Sarkia Tadulako-Palu, adi UPI Bandung, Igun UPI Bandung

Terbukti dengan mulai sepinya TKI, dan makin susahnya FK untuk tampil full-team dengan seluruh rayon-rayon yang dimilikinya. Bahkan, acara-acara pokok seperti Diskusi Ilmiah-pun mulai sepi peminatnya. Hal ini semua telah mebuat FK dan TKI serasa seperti rutinitas saja. Acara reuni para senior, dan debat kontes para juniornya, tidak kurang dan tidak lebih.
Dengan kembalinya Badan Pekerja Rayon yang diawali dari TKIMAI Jawa Barat ‘BDG26’ sebagai cikal bakal perbaikan terhadap tubuh TKIMAI yang terus berlanjut sampai dengan TKIMAI 32 Medan 2016 dengan tidak mengabaikan hal-hal kritis baik kedalam dan keluar TKIMAI untuk keberlangsungannya. hingga kembalinya rayon yang dilakukkan ada periode ini diawali dari kembalinya rayon 7, rayon 4 pada TKIMAI 29 (Jateng),

di bentuknya rayon 19 Lampung pada TKIMAI 30 dan di tandai sebagai aktifnya kalimantan, pada TKIMAI 31 Jatim, kembalinya rayon 6 Bali serta pada TKIMAI 32 Sumut menjadi penanda kembalinya rayon 9 Riau,

Tentu TKIMAI 33 Jakarta 2018 tak luput menjadi penanda aktifnya Papua dan sebagai penggenap rayon 20 Kalimantan. Seiring perkembangan pendidikan arsitektur dengan kembalinya tergabung kekeluargaan TKIMAI yang kini terdiri dari 20 rayon, idealnya cita-cita ulung perihal keilmuan yang mengakar,

Kolektif dan mandiri dengan DNA arsitektur negeri yang dikenal dengan ‘Nusantara’ pada ruang-ruang pendidikan dapat tercapai. Ini menjadi tanggungjawab bersama sekiranya dapat dijangkau TKIMAI hingga pada akar dengan semakin terbangunnya ruang-ruang diskursus dan ragam praktek arsitektur sebagai wujud pengetahuan.

Penulis:
Abd. Shalim tehupelarsury
adalah;Alumni TKI.MAI.angk.28,29,30,31,32Universitas Haluoleo Sulawesi Tenggara

Editor; Om agu|agus mumar Univ.45 makassar