Antara Malu dan Gengsi Jadi Panutan

Penulis; Imran (Ime Tounru)

“Kerjalah Kawan!, Jangan hidup dari uluran tangan pejabat yang engkau kibuli”

Sudahlah, hentikan gaya Seolah-olah mu, nampak gagah namun rapuh hakikatnya Janganlah jadi benalu elitis buat Negeri ini.

Sudah cukuplah retorikamu atas nama kesejahtraan rakyat yang pada akhirnya engkau hidup dari uluran tangan pejabat yang engkau kibuli. Pulanglah ke Desamu, garap sawahmu dengan cangkul titipan Leluhurmu dan gemukkan sapi-sapi mu, Insya Allah tak kan kau temukan kegelisahan.

Harusnya generasi muda bangga dengan profesi petani, bukan menjadikannya stigma buruk. Suka tidak suka, kita hidup besar karena jasa para Petani yang selama ini kadang kita pandang sebelah mata meskipun sejatinya kita adalah ahli waris para petani.

Wahai pemuda Kembalilah membangun Desa, jangan malu karena gensi tidak mensejahterakan tapi justru menyesatkan.

..Jadilah Petani Berdasi ‘Sukses dengan keberkahan’, meski sepintas tidak ada penggarap sawah memakai Dasi.

Penulis
Imran (Ime Tounru)
Adalah Pendamping Desa Pemberdayaan (PDP) Kec. Tonra yang juga aktif sebagai Pembina Pramuka di Pangkalan STKIP Muhammadiyah Bone

NKRI Harga Mati vs Dega Jago

Harga mati berarti harga yang tidak dapat ditawar lagi. Dalam kebudayaan Bugis disebut Siri. Dan siri dimaknai sebagai harga diri, kehormatan, martabat, jiwa, dan malu.

Dalam pandangan orang Bugis, bahwa orang yang telah kehilangan harga diri/siri diibaratkan “sebagai bukan manusia melainkan bangkai hidup”. Demikian hinanya ungkapan itu, memacu masyarakat Bugis untuk bertingkah laku untuk harus menjaga dan mempertahankan dan menegakkan siri.

Usaha dalam menegakkan siri tergantung pada faktor yang menjadi sumber siri. Apabila sumbernya berkaitan ekonomi maka siri diekspresikan lewat kerja keras, ulet dan gigih dalam berusaha agar dapat diraih keberhasilan yang sebesar-besarnya. Hal ini berarti bahwa yang bersangkutan telah menegakkan siri-nya sendiri dan kehidupan keluarganya.

Apabila harga diri atau harga diri keluarganya tercemar, maka tindakan yang dilakukan adalah tindakan kekerasan. Tindakan itu bisa berupa pencederaan atau bahkan pembunuhan terhadap pihak yang melanggar dan yang dianggap sumber siri.

Sementara itu, jika siri menyangkut harga diri dan martabat kampung/daerah/negerinya mereka ekspresikan tindakan “dega jago” artinya tidak ada lagi yang dianggap jago musuh-musuhnya.

Dalam hal ini siri bagi orang Bugis merupakan daya pendorong untuk mengusir dan melenyapkan siapa saja yang dianggap telah menyinggung atau merendahkan martabat mereka.

Oleh karena itu siri bagi orang Bugis tidak sekadar slogan melainkan wujud pertahanan dan pengamanan serta tindakan demi mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang bermartabat.

Nah, bagaimana Slogan NKRI HARGA MATI? kemudian apakah ada perwujudan nyata dari slogan tersebut bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya generasi muda? Kemudian bagaimana perwujudan nyata dari slogan tersebut dari para generasi muda?

Jawabnya singkat, kenyataan slogan NKRI HARGA MATI sekadar Jargon belaka, hal itu terbukti dari semua lini kehidupan. Semua dengan lantang berteriak NKRI harga mati tapi berbanding terbalik dengan kenyataan. Slogan itu hanya milik kelompok-kelompok bukan milik NKRI. Artinya ternyata tidak ada yang jago memaknai NKRI HARGA MATI.

Setelah tujuh pariama merdeka, Indonesia bukan berarti aman dari ancaman keutuhan NKRI. Setidaknya ada tiga hal yang berpotensi dapat mengoyak NKRI, antara lain, pertama masalah kesenjangan, kedua runtuhnya moral, ketiga memudarnya keadilan.

Sejatinya, seperti dijelaskan sebelumnya slogan harga mati berarti harga yang tidak dapat ditawar lagi. Artinya
NKRI harga mati tentunya tidak hanya digaung-gaungkan tetapi butuh perwujudan nyata dari seluruh lapisan masyarakat. Terutama seluruh elemen bangsa.

Perwujudannya bisa dilakukan terutama bagi pemuda-pemuda penerus perjuangan.

Untuk mewujudkan slogan NKRI harga mati diperlukan sebuah dialog nasional yang melibatkan seluruh elemen bangsa, baik tingkat lokal maupun tingkat nasional untuk membahas langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di kehidupan seluruh masyarakat. Di samping itu, tentunya peran aktif dari seluruh masyarakat dan mahasiswa pada khususnya.

NKRI harga mati adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia harga mati yang harus kita bela, dijaga dan dilindungi kemerdekaan serta kedaulatannya.

Alasan kenapa NKRI harus dijaga adalah berkah rahmat Allah dan cita-cita bangsa yang terdapat di dalam pembukaan UUD 45 mensyukuri nikmat Allah atas kesatuan bangsa ini, kemudian ikrar sumpah pemuda, dan pengorbanan para pahlawan.

Banyak para pemuda yang menggaung-gaungkan slogan NKRI harga mati, tetapi pada kenyatannya masih banyak yang tidak tahu maknanya dan tidak ada perwujudan nyata pada dirinya maupun pada masyarakat sekitarnya.

Misalnya saja pemuda sekarang hidup individualisasi, sepertinya mereka tidak saling kenal antar tetangga rumahnya. Mereka juga lebih senang berpergian daripada gotong royong. Dan masih banyak permasalahan lainnya.

Slogan NKRI harga mati terdapat nilai-nilai yang luhur. Tertuang pada sila ke-2 Pancasila, yaitu kemanusian yang adil dan beradab.Yang mengandung arti, bahwasannya manusia di samping sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial. Jadi manusia tidak akan bisa hidup tanpa adanya mahluk lain.

Oleh karena itu, manusia harus saling tolong menolong, termasuk dalam melestarikan gotong royong antar sesama tetangganya.

Untuk mewujudkan slogan “NKRI harga mati” diperlukan peran aktif dari masyarakat, terutama dari kalangan cendekia, mahasiswa, karena mahasiswa sebagai tonggak utama nasionalisme bangsa.

Mahasiswa sebagai pelopor dalam jalannya sebuah pemerintahan. Karena mahasiswa sebagai kaum intelektual yang mempunyai pemikiran yang kritis dan mempunyai rasa semangat yang sangat kuat sekali.

Tanggung jawab ini bisa dijalankan oleh mahasiswa yang mempunyai rasa sosial yang tinggi yang memikirkan masa depan NKRI kita untuk lebih maju dan lebih baik lagi.

Aksi demo mengatasnamakan bela ini bela itu bisa menjadi faktor perpecahan di Indonesia. Bagaiamana tidak, karena mereka saling menyalahkan antar masyarakat yang pro dan yang kontra.

Jika perpecahan terjadi di NKRI kita maka akan berdampak besar pada Negara tercinta kita Indonesia. Jika perpecahan terus terjadi maka Negara yang diperjuangkan kemerdekaan oleh para pahlawan akan sangat memprihatinkan.

Untuk itu bagi penerus perjuangan para pahlawan terutama mahasiswa bisa melestarikan sikap nasionalisme di antaranya, yaitu menjujung tinggi hukum dan pemerintahan, berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional, menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar, menciptakan kerukunan umat beragama, dan memelihara nilai-nilai positif seperti hidup rukun, gotong royong dan lain sebagainya.

NKRI adalah sebuah Negeri yang sangat kaya akan berbagai hal, termasuk Suku, Ras, Agama dan Budaya, dan berbagai sumber alam yang sangat melimpah.

Untuk itu, NKRI harus dijaga dan diperjuangkan dengan asas keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia dan ini yang paling krusial.

Pemerintah juga harus berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan NKRI lagi-lagi dituntut memiliki kepekaan terhadap rakyatnya tanpa pilih kasih.

Jika NKRI tidak dijaga maka akan banyak negara asing yang ingin menjajah Negara tercinta kita Indonesia, sebab kekayaan alam dan kebudayaan yang kita miliki membuat mereka iri dan ingin menguasai Negara kita Indonesia.

Masih banyak lagi alasan kenapa kita harus menjaga NKRI kita. Kita sebagai generasi muda harus lebih cerdas dalam menyikapi permasalahan di negeri kita.

Kita sebagai generasi muda khususnya mahasiswa, generasi intelektual harus mampu membedakan mana yang salah dan mana tidak. HAI, MENGAPA TERSENDAT MAJU ANAK MUDA.

Penulis. Mursalim

Seniman dan sejarawan Kabupaten Bone

#Tulisan ini telah dimuat oleh Teluk Bone dengan penulis yang sama

Tuhan Mana yang Ia Sebut Tuhan

Tuhan, siapa sebenarnya yang mereka sebut tuhan?

Penulis : Subarman Salim

Tuhan, aku dengar, mereka membela-Mu, yang terjadi, aku hanya melihat luapan kemarahan.

Tuhan, aku pikir agama menentramkan, tapi mengapa mereka kepanasan lihat orang tak sejalan dengannya?

Tuhan, katanya mereka telah berjuang di jalan-Mu, di sana kok orang-orang saling serang, saling bunuh?

Tuhan, kan Kamu yang ciptakan semuanya, tapi kok mereka tak suka yang selain mereka? Mereka kok benci sekali dengan perbedaan?

Tuhan, mereka maunya seragam, mereka sering menunjukkan telunjuk. Mereka maunya satu saja, seperti Diri-Mu. Rupanya mereka ingin menyerupai-Mu, hehe…

Tuhan, katanya Kamu Pemaaf, tapi mengapa mereka membunuh atas Nama-Mu?

Tuhan, bukannya Kamu adalah meliputi segalanya? Tapi mengapa kata mereka kamu tak suka patung? Kamu benci music? Apa iyya, itu betul Kamu, Tuhan?

Tuhan, kadang aku bingung, benarkah yang mereka maksud adalah Kamu, Tuhan? Ataukah ada yang lain?

Tuhan… seumpama Kamu tertawa, saya juga sebenarnya mau ngakak, tapi takut dosa…

*Subarman Salim adalah aktifis literasi dan penikmat kopi

MERDEKA ATAU MEDDE’KA (Bagian.1)

Oleh: Andi Irwandi Natsir

Nun jauh disana, di pelosok negeri ini, pelosok Bone ini. Hiruk pikuk kemerdekaan dirayakan dengan penuh sukacita. Berbagai perlombaan di gelar, juara tak juara mereka tertawa. Bahagia rasanya menyaksikan itu, di tempat kami di besarkan. Kebetulan saja, perayaan 17-an kecamatan Bontocani kali ini, di tempatkan di desa Watang Cani, desa jika ditarik garis lingkar luarnya telah berbatas Gowa dengan Maros, sudut Bone.

Ditengah sukacita warga itu, berbangga rasanya melihat semangat nasionalisme membumbung tinggi. Masih ada diantara mereka menjadi saksi, begitu susahnya hidup di zaman penjajahan Nippon dan Kolonial, cerita itu mengalir mensemangati generasi dalam ber 17-an. Tetapi taukah kalian, selepas perayaan itu di gelar, hidup mereka kembali dihantui oleh bayang kemiskinan apalagi di tengah musim kemarau, lahan pertanian susah di taklukkan, biasanya yang paling bersahabat adalah bertanam kacang tanah. Dan toh pun, jika kacang tanah yang mereka tanam di musim kemarau berhasil, jangan bandingkan dengan harga normal karena biaya transport memotong setengah harga, maklum tebing terjal dan licin. Ini baru satu contoh kasus, di negeri kita masih banyak yang demikian bahkan masih ada yang lebih parah, terkhusus di daerah kita tercinta, Bone ini. Sesungguhnya yang demikian itu, subtansi kemerdekaan belum mereka dapatkan.

Kemerdekaan banyak ditafsirkan dalam berbagai model, seperti kebebasan. Kebebasan sendiri bisa liar, seperti liarnya demokrasi yang kita rasakan saat ini. Tetapi dalam amanat pembukaan UUD 1945, jelas disebutkan subtansi kemerdekaan itu adalah, meningkatkan kecerdasan bangsa, membangun ketertiban dunia abadi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Poin terakhir masihlah menjadi “Pekerjaan Rumah”, tak tuntas dari sembilan Presiden telah berlalu…(lanjut ke ‘Merdeka atau Medde’ka bagian.2)

MERDEKA ATAU MEDDE’KA (Bagian.2)

MERDEKA ATAU MEDDE’KA (Bagian.3)

Edisi ‘Politik PDIP’

Edisi ‘Politiki PDIP’

Oleh: Agus Baldie

Ternyata dari 17 Provinsi PDIP hanya menangkan 4 Prov. Ini membuktikan, kampanye ‘Tenggelamkan PDIP’ dgn tdk memilih calonnya, relatif efektif. Ini terlihat dgn tdk maksimalnya kemenangan diraih PDIP dlm Pilkada serentak 2018. Hal lain, dapat dilihat dlm Pilkada Serentak ini, adalah keberuntungan calon2 dari Partai Golkar, Nasdem, Hanura yg mendapat limpahan dukungan pemilih karena mendukung calon yg menjadi lawan PDIP.

Sebutlah seperti Di Jatim, selama dua periode kemari PKS memenangkan pilgub, kini harus kalah, karena penolakan rakyat Jatim pada Gus Ipul krn PDIP ikut mecalonkannya. Jawa Barat Apalagi, calon PDIP hanya memperoleh dukungan paling belakang. Sebagian besar yg rakyat Jabar tdk Memilih calon dari PDIP. Pasangan Rindu yg juga menyatakan akan mendukung Jokowi 2 Periode, yg dinyatakan memperoleh suara terbanyak, kemungkinan besar juga akan gigit jari, karena reputasi beberapa lembaga survey yg makin tipis.

Kesalahan Quick Count yg disajikan oleh beberapa lembaga survey itu, ternyata mengulang kesalahan yg sama 5 tahun lalu. Di SulSel, walaupun calon PDIP menang, itu bukan menggambarkan supremasi PDIP. Sebab mayoritas pemilih pasangan NA ASS adalah umat Islam yg nota bene massa rill dari partai pendukung utama yakni PKS dan PAN. Artinya PDIP hanya pelengkap dlm syarat presentasi suara untuk pengajuan calon oleh KPU.

Dijawa tengah sendiri, walau calon PDIP menang, tapi sekaligus menyampaikan pesan bahwa kadang banteng di Jawa Tengah sedang terancam. Sudirmam Said yg jadi lawan dgn dukungan PKS Gerindera, mendapat suara 40% lebih. Ini berarti lampu kuning buat PDIP, apalagi jika Gubernur tepilih calon PDIP ini sampai nyangkut di KPK karena kasus E-KTP, bisa jebol kandang banteng yg digadang gadang sebagai benteng PDIP terakhir dipulau Jawa.

Dua provinsi lainnya yg dimenangkan PDIP dlm pilkada serentak 2018 ini adalah Maluku dan Bali. Namun dlm peta perolehan suara nasional, dua daerah ini hanya berposisi hanya sebagai support perolehan suara nasional. Dari gambaran diatas, jelas posisi PDIP secara Nasional sedang berada diujung tanduk. Partai partai pendukung Jokowi seperti Golkar yg matang, Nasdem yg mulai bertumbuh, serta Hanura yg sedang mendapat udara segar, tentu membaca keadaan ini, dimana SiMoncong Putih terus mengkerut .

Pada level inilah politisi dari masing2 partai pendukung diatas, diukur kepiawaiannya dlm berpolitik cerdas. Keuntungan politik apa bisa diciptakan partainya dalam melihat sibanteng sekarat. Dan kondisi ini kemungkinan akan terus berlanjut hingga pileg. 2019 Ini berarti partai partai pendukung yg tadinya sebagai follower, akan sangat memungkinkan. Mengevaluasi dukungannya pada koalisi sekaligus pada Jokowi.

Baik pada pilpres 2019 nanti, ataupun beberapa pekan setelah Pilkada serenta ini. Kita tahu Golkar adalah pemain yg piawai. Nasdem walaupun kategori Partai baru, tapi org orgnya bukan baru kemarin berpolitik. Demikian juga Hanura, PPP PKB dan lainnya.

Melihat banteng makin tersudut oleh blunder2 yg dilakulan kadernya, yg berakibat keringnya suara dukungan rakyat terutama umat Islam, bukan tidak mungkin PDIP dan Jokowi akan kesepian ditinggal partai followernya Apalagi jika peta analisanya dibuka pada lembaran kemarin.

Berbagai survey terbaru menyebutkan elektabilitas jokowi terjun bebas. Setelah kekalahan yg menyakitkan di Banten dan DKI kemarin,

Fakta terkini, PDIP sebagai Partai Pengusung Jokowi makin mengkerut dgn hanya menang 4 dari 17 provinsi dlm pilkada serentak 2018.

Artinya wilayah kekuasaan makin. Mengecil. Yg tentu akan dibarengi dgn perolehan suara yg juga akan menghilang. Yang lain, pemaksaan pemilu legislatif berbarengan dgn pilpres, cukup. Memberi gambaran akan ketakutan PDIP, yang tdk akan cukup mendulang suara dlm pileg 2019.

Sebaliknya dlm Pilgub serentak ini, partai pendukung seperti Partai Golkar, Nasdem, Hanura dll, sedang terbamgun kepercayaan dirinya lewat kemenangan besar di banyak daerah. Partai Demokrat dlm Pilkada serentak kali ini sungguh memperlihatkan kematangan politik sekaligus kalkulasi yg sgt efektif dlm setiap langkahnya.

Kondisi yg tergambar diatas adalah atlas yg sangat terbuka ia masuki, dimanapun ia mau. Tapi yg terpenting adalah, dari peta politik yg tercetak dlm pilkada serentak ini, umat Islam kembali memperoleh kesempatan tuk mengembalikan kepercayaan dirinya, yg selama ini direnggut oleh sikap permusuhan rezim penguasa.

Apakah ingin memperkuat konsolidasi untuk. Membangun back politik buat umat Islam, atau kembali menggadai Islam hanya untuk keuntungan sesaat. Semua berpulang pada mereka yg menjadi tokoh yg dipercaya umat Islam saat ini.

Akhirnya kita dpt berkesimpulan bahwa ternyata PDIP bukan apa apa tanpa umat Islam. Dan jokowi bukan siapa siapa tanpa Partai Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, dan PKB. Jika bisa jadi leader, untuk apa jadi vollower PDIP dan Jokowi? Ayo Golkar, Nasdem, Hanura, tumbuhlah jadi pohon yg tegak berdiri sendiri. (Baldi)

Disruption Menebar Ketakutan

Penulis: Renald Mangkaue .Mahasiswa Pasca Sarjana MSDM UMI Makassar

Sore hari saya membaca artikel dan membuat saya tergelitik bagaimana tidak,membaca tulisan tulisan Prof Rhenald Kasali Guru Besar Universitas Indonesia dan juga Founder Rumah perubahan membuat saya merinding dan jatuh hati dengan tulisan tulisannya, ahhaay….!!
bukan berarti karena beliau adalah seorang Ekonom dan saya juga punya disiplin ilmu ekonomi sebagai mahasiswa di kampus, akan tetapi dari dulu saya simpatik dengan artikel Prof Rhenald yang menurut saya layak di kunyah bagi para pembacanya.
Tak berhenti sampai disitu, saya menonton ceramah Prof Renald Kasali lewat Youtube.lewat ceramahnya, Prof.Rhenald mempersentasikan dengan jelas dari fase ke fase hingga pada “ERA DISRUPTION”

Apa itu Disruption?

akhir-akhir ini, disruption menjadi topik yang marak diperbincangkan
Meski banyak orang awam yang belum tahu bahkan mungkin baru pertama kali Mendengar kata disruption namun membuat banyak orang bahkan perusahaan di landa ketakutan.
Pada dasarnya,disruption itu bukan sekedar fenomena hari ini (today), melainkan fenomena “hari esok” (the future) yang dibawa oleh para pembaharu ke saat ini, dan ke hari esok.
Situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear,perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.
Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah.

kita mungkin masih ingat kehadiran sistem aplikasi Android yang merupakan titik awal kematian ponsel Nokia yang dulu begitu berjaya hingga akhirnya terpental karena inovasi dan persaingan. Kemudian dunia bisnis perhotelan, digemparkan dengan hadirnya Aplikasi traveloka yang menyediakan aplikasi yang memudahkan manusia memesan tiket pesawat, tiket kereta api dan Check-in hotel, Contoh lain kehadiran penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi, seperti Go-Jek ,Grab dan Uber menimbulkan perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat. Supir angkot dan metromini penghasilannya menurun drastis, ojek-ojek pangkalan melakukan demo karena kehilangan penumpang, dan bahkan perusahaan taksi besar sekelas Blue Bird pun mengalami penurunan profit yang fantastis akibat kehadiran pemain-pemain baru tersebut. Namun, masyarakat beranggapan bahwa kehadiran Go-Jek, Grab dan Uber justru memberikan kemudahan bagi mereka,Ya, teknologi telah mematikan jarak dan mengubah kebiasaan manusia yang lebih mementingkan waktu daripada jarak.
singkat kata,Disruption terjadi ketika suatu pihak hadir menawarkan layanan yang lebih praktis dengan harga yang lebih rendah dari yang tersedia saat ini, sehingga masyarakat banyak yang beralih ke layanan baru tersebut. Singkatnya, disruption merupakan
Inovasi (Kasali,2017)

DISRUPTION FAKTA ATAU ILUSI BELAKA?

Mengupas disruption tentunya menggiring pikirkan kita antara sebuah kenyataan ataukah hanya sebuah ophini yang di bangun lantas membuat kita pesimis dan panik dengan era yang menakutkan itu.

Pertama, Kepanikan dan ketakutan di era disruption Ini jelas mengancam tenaga kerja, betapa manusia akan kehilangan pekerjaan dan di gantikan oleh teknologi,misalnya para pengamat ekonomi memperdiksikan masa depan tenaga kerja akan punah digantikan oleh robot pun dengan perusahaan perusahan kelas dunia akan berguguran dengan geliat inovatif dan persaingan.
melihat fakta betapa masyarakat diberikan kemudahan,bayangkan berapa banyak rumah warung makan yang tumbuh subur seperti jamur di musim hujan yang memanfaatkan aplikasi go-food dengan alplikasi jasa transportasi tersebut, berapa banyak manusia milenials yang menggunakan aplikasi berbelanja di Tokopedia,Buka lapak dan sejenisnya,tanpa harus repot belanja ke supermarket,pasar tradisional, bukankah itu menandakan bahwa kebiasan manusia lebih mementingkan waktu dari pada jarak
Berapa banyak warnet yang harus gulung tikar karena ketidakberdayaanya menghadapi persaingan, munculnya gadged yang bisa mengakses internet kapan saja tanpa harus antri di warnet.

Kedua, apa jangan jangan kita hanya salah kaprah memahami, Betapa kita harus optimis di era disruption era dimana kita harus memebekali diri dengan Skilled worker dan SDM yang kompetitif. bukan dengan takut dan pesimis mengadapi arus perubahan itu. bukankah Mark Zuckerberg Ceo Facebook berangkat dari ketakutan juga, ketakutan akan masa depannya di drop out (do) dari Harvard, dan Bill Gates dengan ketakutannya akan masa depan namun terinsipirasi sekali dengan menemukan Microsoft.

 

Prihatin: Kebutuhan Sapiku dan Tanggung  Jawab Pendampinganku

Penulis : Ceceng Rusmana/PLD.Kecamatan Dayeuhluhur Kab.Cilacap-Jawa Tengah

Saya hanya Prihatin Dan sekedar bertanya, mengapa diantara mereka banyak yang ditempatkan dilokasi yang jauh dari domisilinya.

Pendamping mesti  bertugas di Wilayah kampungnya Sendiri,akan lebih akrab dengan warga, lebih mudah memahami Pelaku pemerintahan didesa, bahkan memang telah memiliki hubungan emosional yang dekat dengan warga.

Pendamping akan lebih memiliki loyalitas yang tinggi dibanding dengan bertugas diwilayah lain yang baru berusaha membangun hubungan baik dengan warga dan pemerintah, belum lagi kondisi lain.

Seoraang pendamping pria atau wanita memiliki dua tanggung jawab mendasar yang tak dapat dipisahkan, pertama tanggung jawab Keluarga dan kedua Adalah Tanggung jawab Pekerjaan.ketika keduanya terpisah maka akan ada salah satu yang tidak atau kurang terpenuhi entah tanggung jawab keluarga yang terabaikan atau tanggung jawab pekerjaan yang terbengkalai.

Seorang pendamping memiliki tanggung jawab tidak sama dengan seorang pekerja buruh pabrik, tidak sama dengan pola kerja seorang Pegawai negeri Sipil, Seorang pendamping adalah tenaga ‘pemberdaya’ yang tidak memiliki jam kerja yang teratur tersistematis,karena menghadapi pola pikir masyarakat mesti harus hidup dalam nalar dan pikiran amsyarakat itu sendiri, kulture dan sosialitas mesti mendapat perhatian dasar dari seorang pendamping.

Seorang pendamping pemberdaya masyarakat mestilah tumbuh dan mengakar dan menjadi panutan dalam masyarakat, bukan sekedar kurir data,bukan sekedar check list share location and twitter,namun ia adalah pelaku pemberdaya yang mesti hidup,tumbuh dan panutan dalam msayarakat.

Saya telah Jadi Tukang Ngarit dan Sebagai Ketua Kelompok Tani adalah Referensi kerjaku waktu sebelum menjadi Pendamping Lokal Desa (PLD).

Aku Melamar PLD karena ada ketentuan bahwa PLD ditempatkan di Desa Sendiri atau Didesa terdekat Dengan Domisili..

Dan Aku kebetulan Ditempatkan Di Desa Sendiri..

Tetapi Aku terkadang Merasa ikut Prihatin dengan Kondisi Para PDP PDTI dan TA yang selalu di rooling ditempatkan di daerah Domisilinya.dengan alasan alasan tertentu  katanya  yang aku sendiri tidak tahu alasannya apa.

Tapi Kalo sampe ada PLD yang lintas kecamatan, waah itu sungguh Malang Sekali..

Jujur Brow, kalo aku sendiri ditempatkan jauh dari domisili baik sebagai PLD PD Atau TA, aku Akan memilih Sapi Sapi aku yang Harus aku Kasih Makan Tiap sore dan aku bersihkan kandangnya sebelum Bekerja.. sorry aku ngak bisa jauh2 dari mereka..

Aku Akan memilih Sapi Karena Masa depanku dan keluargaku Ada Di Sapi. Bukan di Pekerjaan Pendamping Desa.. Apalagi kalo aku Harus jauh dari keluarga..

Walau di kontrak ada kata-kata  bersedia  ditempatkan di mana saja, yaa aku bersedia dimana saja asal tidak jauh dari Sapi sapi aku..haha ha

Kenapa, karena Masa Depanku ada di Sapi..

Karena Sebelum jadi PLD aku sudah punya Sapi .. empat ekor.. sedang kan bayaran  untuk PLD setahun walau 50% nya ditabung itu ngak cukup untuk Membeli Seekor Sapi..

Jadi yaa mending melepaskan PLD nya daripada harus meninggalkan 4 sapi..

Lho Kalo Gitu.. kenapa ngak fokus aja ke Sapi, malah Repot repot mau Jadi PLD segala? Seorang Tukang komplen bertanya..

Aku santai aja.. Kalo kamu Bisa Jadi PLD yang Lebih baik dari aku Untuk Desaku, Yang Lebih Kenal Desa aku, yang Lebih diterima sama Masyarakat Desa aku.. Silahkan jadi PLD di desaku dan aku akan Fokus ke ngingu Sapi..

Aku Hanya prihatin dan  Sekedar Bertanya.

Rekan-rekan  yang kerjanya jauh dari Domisili Baik apapun tingkatan anda di Pendamping Desa,

PLD PD TA kira-kira berapa tahun anda butuh untuk membeli Seekor Sapi..

Maaf Cuma Bertanya Saja.

Potensi Desa Bana Bontocani,Antara Madu,Kopi dan Izin Industri

Penulis : Dika Prasetyo

Tenaga Ahli Teknologi Tepat Guna P3MD.Kabupaten Bone

Kecamatan Bontocani yang terletak diwilayah bagian selatan Kabupaten Bone merupakan wilayah pegunungan yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Komoditas unggulan yang menjadi primadona disana adalah madu dan kopi.

Desa Bana,salah satu dari 10 desa di Kecamatan Bontocani yang berkomitmen untuk mengelola dan mengembangkan madu dan kopi sebagai produk unggulan desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Sipakarennu miliknya.

BUM Desa Sipakarennu didirikan sejak tahun 2016 yang oleh Ernawati sebagai Ketua, Irpan sebagai Sekretaris, Sutarni sebagai Bendahara. Kurniati sebagai pengelola Unit Usaha Simpan Pinjam, dan Akmal sebagai pengelola Unit Usaha Perdagangan.

Kepala Desa Bana, Ishak,pada tahun 2016 BUM Desa Sipakarennu mendapatkan penyertaan modal melalui dana desa sebesar Rp. 23.000.000 sebagai modal awal untuk usaha simpan pinjam.

Selanjutnya di tahun 2017, dengan adanya penambahan unit usaha Perdagangan maka digelontorkan kembali melalui dana desa sebesar Rp. 50.000.000 sebagai modal untuk usaha pengelolaan kopi, madu hutan, dan madu Trigona. Dana tersebut dipakai untuk pengadaan beberapa sarana pengolahan kopi dan madu seperti mesin sangrai, mesin pengering, mesin penggiling, mesin pengemas, serta alat-alat pengemasan madu.

Sebenarnya Warga desa Bana sudah lama mengelola kopi dan madu, namun pengelolaanya masih dengan cara tradisional dan pengemasannya juga masih sederhana, contohnya madu masih dikemas menggunakan botol-botol bekas air minum kemasan yang tidak higienis”. Dengan adanya BUM Desa Sipakarennu, yang mampu mengelola komoditas madu dan kopi ini secara profesional dan modern, diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Dengan harapan, hasil produknya dapat diterima oleh masyarakat luas dengan penjualan melalui gerai-gerai resmi atau supermarket di kota-kota besar se-Sulawesi Selatan.

Namun, perizinan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) masih dalam proses sehingga sampai Unit Usaha Perdagangan BUM Desa Sipakarennu belum dapat berproduksi. Setelah keluar no PIRT-nya baru bisa cetak label kemasan dan mulai berproduksi,

Ketika Pilkada ‘Membunuh’ (Sifat Baik) Manusia

Penulis : Dray Vibrianto

Wakil Ketua MPO.Pemuda Pancasila Bone

Pagi ini membuka laman medsos, pada wall teman teman yg terpampang rata rata adalah postingan tentang hiruk pikuk pesta demokrasi pilkada serentak 2018. Layaknya sebuah pesta hiruk pikuk adalah lumrah sebagai ekspresi kebahagiaan yg penuh senyum,tawa dan penuh kekeluargaan, namun yg aneh dari hiruk pikuk pesta demokrasi ini jauh dr suasana bahagia.
Yang ada justru sebaliknya yang muncul adalah ekspresi kebencian, kemarahan, saling serang bahkan caci maki.
Tidak peduli latar belakang yang mempostingnya mulai rakyat biasa, mahasiswa, cendekiawan,politisi, tokoh agama,ormas. semua terbawa euforia sisi gelap “kemanusiaan” dari sebuah hajatan yang disebut pesta demokrasi..

Itu di dunia maya, di dunia nyata lain lagi. Masyarakat yg di daerahnya sedang mengadakan PILKADA hampir kehilangan nilai nilai silaturahmi, persatuan, persaudaraan dan sisi humanis sebagai mahluk sosial.
Ada yg sampai bertahun tahun tidak saling sapa karena berbeda pilihan dan dukungan.
Bahkan fenomena pilkada 2018 ini lebih aneh lagi ajaran agama dan menjadi Nilai dari Pancasila mengenai silaturahmi dan persaudaraan menjadi barang yang langka. Kebiasaan masyarakat indonesia yg saat ketemu saling sapa,saling salam menjadi barang yg langka.
Mereka cenderung akan menghindari orang yg berbeda pilihan politik. Hal ini jg terjadi dgn ASN,POLRI,TNI serta aparat birokrasi lainnya.
Mereka berusaha menghindari kontestan PILKADA dan tim suksesnya utk menghindari dampak hukum yg bisa terjadi. Ada pengalaman lucu saat seorang aparat birokrasi sementara sholat di masjid lalu tiba tiba masuk salah satu kontestan PILKADA sholat disebelahnya,saat sampai waktu salam aparat tersebut kaget melihat ada ‘calon kontestan PILKADA’di sampingnya. Tanpa menyelesaikan salamnya, aparat tersebut terburu buru meninggalkan sholatnya. Lain lagi kejadian seorang penceramah saat menyebut ‘Qul huwallahu ahad’ saat mengangkat jarinya harus sibuk mengklarifikasi makna jarinya saat reflek terangkat.
Di tempat lain sebuah keluarga harus menunda acara pernikahan sampai selesai PILKADA karena takut akan ada kontestan PILKADA yg hadir.
PILKADA berubah nilai dari perwujudan demokrasi untuk mewujudkan tujuan negara dari mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menjadi ‘hanya sekedar perebutan kekuasan’ dengan mengorbankan banyak nilai nilai PANCASILA itu sendiri. Padahal kita sepakat bahwa demokrasi kita adalah demokrasi PANCASILA, kita juga pahami PANCASILA adalah sumber dari sumber hukum yang berlaku artinya semua produk hukum di negara ini harus tunduk dan sejalan dengan Nilai Pancasila.

Kenapa kita tidak menjadikan pesta demokrasi ini seperti menonton sepak Bola, kt berhak berbeda dukungan, berbeda atribut saat mendukung klub kesayangan kita namun saat Klub berubah menjadi Tim nasional maka kita melebur dengan semangat nasionalisme mendukung sepenuh hati terhadap Timnas kita dengan melupakan semua yang terjadi di kompetisi liga.
Bukankah siapapun yg terpilih menjadi gubernur kelak adalah gubernur ktita semua? Baik yang memilih atau yang tdk memilih.
Siapapun yg terpilih menjadi Bupati/walikota adalah bupati/walikota seluruh masyarakatnya baik yang suka ataupun yang tidak suka. Yang memilih ataupun yang tidak memilih.
Namun siapapun yang terpilih sebagai pemimpin mempunyai tugas dan kewajiban yang sama yaitu membawa masyarakatnya kepada tujuan negara yang di atur dalam preambule UUD 1945.

PILKADA tidaklah sekedar berbicara tentang menang kalah atau tentang kekuasaan tetapi lebih dari itu. Jika PILKADA ‘hanya tentang kekuasaan’, maka yang terjadi adalah membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
Semua jalan akan ditempuh untuk mencapai kekuasaan tidak peduli seberapa salah jalan itu.
Tetapi sekali lagi PILKADA adalah jalan konstitusi untuk memilih pemimpin dalam rangka mencapai tujuan negara disitu ada nilai nilai berdasarkan PANCASILA yg menjunjung tinggi nilai nilai Ke Tuhanan, kemanusiaan, Persatuan dan Keadilan serta Kesejahteraan.
Janganlah pesta demokrasi yang bernama PILKADA ini membuat kita menjadi manusia manusia robot yang kehilangan sisi humanismenya, jangan membuat kita saling merusak sendi sendi bermasyarakat dan bernegara.

Jangan karena PILKADA membuat kita menjadi masyarakat yang pemarah merusak silaturahmi serta melupakan nilai nilai agama, nilai nilai PANCASILA serta local whisdom yg selama ini telah berakar kuat.

Ahhh.. tiba-tiba kopiku terasa hambar.

*tulisan ini sebelumnya telah di muat oleh Bonepos online

Antara Nurdin Abdullah,Helikopter dan Black Campign

Penulis : Chandra Utama

Beberapa hari ini Prof. Nurdin Abdullah banyak menuai sorotan karena penggunaan Helikopter. Bahkan ada yang menghubungkannya dengan kesehatan beliau.

Salah satunya adalah mantan Ketua PKC PMII SUL_SEL Syarif Hidayatullah yang dengan gamblang mempertanyakan motif penggunaan Helikopter dalam prosesi sosialisasi. Bahkan, dengan ‘menuding’ Prof Nurdin Abdullah dalam kondisi ‘sakit’.

Justru, yang menjadi pertanyaan adalah apa motif kritikan yang bernada sinis itu? Apakah ia telah mengabaikan rasionalitas demi menyerang kredibilitas kandidat lawan politiknya?.

Seharusnya si pengeritik memahami, bahwa untuk menjadi seorang kepala daerah para kandidat diwajibkan untuk mengikuti beberapa tahapan sebelum dinyatakan layak sebagai kontestan dalam pemilihan.

Salah satu tahapan yang wajib diikuti oleh bakal calon Gubernur sul-sel itu adalah pemeriksaan kesehatan. Semua kandidat yang siap bertarung dalam momentum pilkada 2018 dinyatakan layak, tak terkecuali Prof. Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman.

Pemeriksaan kesehatan bagi para calon kepala daerah dilakukan oleh para ahli kesehatan dan tak tanggung-tanggung penyelenggara melibatkan 33 dokter ahli.

Selain dari itu penyelenggara juga melibatkan Himpunan Psikologi Indonesia untuk melaksanakan Psiko tes bagi para kandidat.

Momentum politik memang selalu menarik untuk dibicarakan, pro dan kontra selalu hadir sebagai upaya menyempurnakan demokrasi di negeri ini hal itu pun terjadi dalam momentum pemilihan calon gubernur sul-sel.

Pada dasarnya penggunaan helikopter merupakan solusi untuk menjangkau daerah yang sulit dikunjungi jika menggunakan akses darat dan disisi lain penggunaan helikopter harusnya dipandang sebagai solusi efisiensi waktu, karena masing-masing kita menyadari bahwa intensitas kunjungan para kandidat calon gubernur sangatlah padat.

Tapi, alih-alih membangun demokrasi, sepertinya, beberapa pendukung dan simpatisan memilih menyerang personal untuk membangun citra buruk.

Kata imam Al-Gazali, “sakit fisik mudah disadari oleh penderita, tapi sakit psikis, biasanya disadari oleh orang lain, bukan si penderita.”