Arman, Pendamping Desa Kab Bone Sumbangkan Gaji Beli Masker Bagi 112 Siswa Mts

BONE- TRIBUNCELEBES.COM– Gerakan solidaritas sosial di masyarakat dalam memberikan bantuan bagi masyarakat di masa pandemi Covid-19 baik dari lembaga pemerintah ataupun kelompok masyarakat yang peduli dengan kondisi darurat kesehatan dan darurat kemanusiaan ini, adalah bukti kepedulian membangun kebersamaan menjaga sesama untuk tetap survive tetap bertahan hidup

“kami menyaksikan masih kurangnya kesadaran warga menggunakan masker di masa wabah ini, yang sangat berpotensi terpapar sebaran virus covid, maka saya dengan dana seadanya, yah, dari gaji pendamping Desa, merasa terpanggil karena saya memang warga disini, untuk turut membantu sesuai kemampuan, perhatian awal adalah Siswa Sekolah Madrasah, mereka ini perlu di support dan dicerahkan agar tertib yang memulai masa sekolahnya di era menuju Normal ini, semoga bantuan ini bermanfaat bagi mereka dalam menjalani masa masa sekolah nantinya, dan mudah mudahan saya mampu berbuat lebih banyak lagi nantinya” kata Arman kepada tribuncelebes.com

Penyerahan masker kepada Siswa Mts Desa Pongka – Jumat 05/06

Arman yang Pegiat Desa kecamatan Tellusiattingnge dengan dana sendiri memberikan bantuan masker kepada 112 Siswa MTs Pongka yang berlokasi di Dusun Tenngnga Tengnga Desa Pongka Kecamatan Tellusiattingnge- Bone, Giat solidaritas ini patut di teladani para pemuda di Negeri ini utamanya yang memiliki pengasilan sendiri yang masih mampu bertahan di masa pandemi, minimal meringankan beban warga yang membutuhkan.

Arman menyerahkan Sejumlah masker kepada 112 Siswa Mts Pongka kecamatan Tellusiattingnge

Arman yang kesehariannya memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai Pendamping Desa Pemberdayaan (PDP) pada Program P3MD Kab Bone, sangat paham dengan kondisi masyarakat dampingannnya hingga tergerak memberikan bantuan kepada Siswa MTs menuju kondisi New Normal. Dengan menggunakan biaya pribadi dari penghasilannya sebagai Pendamping Desa kecamatan Tellusiattingnge Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. (Diva)

Adakan Turnamen Volli, Pendamping Desa Gerakkan Anak Pribumi Masalle

TRIBUNCELEBES-TONRA-Syamsuriadi, pedamping Desa Kecamatan Tonra. Bahu-membahu bersama masyarakat Masalle Desa Bulu-Bulu, menjemput animo besar masyarakat Tonra terhadap olahraga Volli. Bersama komunitas APRIMA menggagas terlaksananya turnamen Volli APRIMA Cup 2020, berskala kecamatan.

Turnamen tersebut melibatkan seluruh instansi Desa, Kecamatan dan Organisasi kemasyarakatan yang ada di Kecamatan Tonra. Menurut Dicky panggilan akrabnya. Antusiasme masyarakat sangat besar mengetahui akan ada turnamen tersebut. Oleh karena itu, hampir seluruh elemen masyarakat Masalle yang tergabung dalam komunitas Anak Pribumi Masalle/APRIMA bergerak mensupport kesuksesan kegiatan.

“Alhamdulillah seluruh elemen ikut bergerak membantu, APRIMA ini punya struktur, ada dewan penasehat dan pengurus harian, saya sebagai ketua yang ditunjuk berniat mempersembahkan yang terbaik untuk insan Volli Masyarakat Tonra, bukan hanya pengurus, masyarakat bahkan turut terlibat mensupport kegiatan ini,” Ungkap Dicky yang berprofesi sebagai pendamping Desa tersebut.

Turnamen yang berlangsung mulai tanggal 27 Januari-15 Februari itu, diikuti oleh 33 kontingen. Pembukaan kegiatan berlangsung meriah dan dihadiri oleh seluruh tripika kecamatan tonra dan dibuka langsung oleh A. Muh. Awaluddin, S.Ip, selaku kepala kecamatan Tonra. Dalam sambutannya, dirinya mrnyampaikan apresiasi terhadap anak APRIMA, selaku penitia dan inisator kegiatan.

“Kami memberi apresiasi luar biasa terhadap masyarakat dan pemuda masalle yang tergabung dalam komunitas APRIMA, melaksanakan kegiatan ini. Tentu butuh kita support, beri ruang berkarya untuk kemajuan daerah. Turnamen ini adalah ajang silaturrahim masyarakat Tonra, menang dan kalah adalah hal biasa yang terpenting adalah kebersamaan, semua pihak harus saling menjaga kesuksesan kegiatan-kegiatan seperti ini,” ungkapnya.

Sementara itu, support juga mengalir dari kalangan Tokoh masyarakat Masalle, melalui ketua BPD Desa Bulu-Bullu, Abdul Hamid. Menurutnya kerja-kerja anak muda Masalle sangat luar biasa, dan berharap kedepannya bukan hanya pada segmen Olahraga, tetapi juga segmen keagamaan pemuda turut jadi penggerak.
“Luar biasa gagasan dan kinerja anak muda ini, saya berharap kedepan bukan hanya pada bidang olahrga, tetapi juga memajukan bidang-bidang lain, seperti organisasi keagamaan,” Ungkapnya.

Pada sambutan lain, kepala Desa Bulu-Bulu , Drs. Muhammada Arif menegaskan, inovasi masyarakat Masalle yang terlaksana melalui kerja pemudanya, perlu diberi ruang yang lebih besar untuk terus berkarya.

“Kebersamaan pemuda Masalle, melakukan sebuah inovasi di Desa ini harus diberi ruang untuk terus berkarya dan memajukan Desa, kami nyatakan sangat mendukung kegiatan ini,” Tegas Muhammad Arif selaku kepala desa setempat.

Dicky sendiri mengakui, selain mendapat support luar biasa dari seluruh elemen masyarakat, Tokoh, Instansi Desa, Intansi Kecamatan, kegiatan tersebut juga menjalin kerjasama dengan pihak luar. Bahkan menurutnya, pemanfaatan jaringan dati luar juga sangat menentukan terlaksananya kegiatan.

“Tak bisa kami pungkiri, sumberdaya kami di Desa-desa dan Kecamatan Tonra sangat terbatas, oleh karena itu kami tetap membangun kerjasama dan dukungan dari liar, dengan berbekal jaringan persahabatan dan organisasi yang kami punya. Terkhusus One Supporting, kami sangat berterima kasih atas dukungannya, ” Tutur Dicky menutup pembicaraan.

A. Adil Fadli Lura, SE. Pendamping Desa yang Melenggang ke Parlemen

tribuncelebes.com- BONE– Sosok Andi Fadli Lura, Pendamping Desa yang bertaruh di pilcaleg 2019 dapil 3 kabupaten Bone, ia dipastikan lolos dengan perolehan suara yang signifikan mengungguli rival internal partainya, Partai Kebangkitan Bangsa.

pembangunan jembatan Pelimpas Kec. Kahu

Sosok Andi Fadli lura ini populer di kalangan pendamping desa kabupaten Bone, ia begitu kharismatik, kepada pers ia menyampaikan tentang modal utamanya maju legislatif. Dirinya hanya menjawab, “modal kaderisasi ndi”. Simple dan sederhana.

Tak salah tagline “Pejuang Perdesaan”, terpampang nyata dalam setiap spanduk dan balighonya. Selama beberapa tahun terakhir Andi Fade, sapaan akrabnya. Berkutat dengan pembangunan perdesaan, mulai menjadi fasilitator PNPM hingga menjadi Pendamping Desa.

“Kalau bukan model pemberdayaan, kita gak bisa apa-apa ndi. Nda cukup gaji fasilitator kita tabung untuk bertarung. Hanya jaringan persahabatan yang kita bangun, mengkader pemuda desa, kita aktifkan wadahnya, seperti Karang Taruna. Lihat rumahku, sampai saat ini nda bisaka bangunki”, tuturnya merendah.

Melalui Partai PKB, Andi Adil Fadli Lura, SE berhasil memperoleh suara hampir Dua Ribuan, tertinggi di internal partainya. Tetapi dirinya tidak mau jumawa, tahapan KPU belum usai. Masih butuh pengawalan hingga penetapan.

“Kita mengawal apa yang ada, KPU Bone belum pleno, belum ada penetapan. Miris terasa, kita serba terbatas, ibarat bertarung tanpa pedang”.ungkapnya

“Kita hanya mengandalkan kesolidan para kerabat dan sahabat, jangankan berpikir menyerang basis lawan, mengongkosi tim saja setengah mati, apalagi jika harus berbuat culas pada penyelenggara, kita tak punya cukup modal untuk kesana. Tetapi kita bersyukur, bekal pengalaman organisasi dikampus dan Karang Taruna, kita punya pengalaman me-managemen banyak orang untuk bekerja sesuai visi yang kita tetapkan. Insya Allah mereka akan menjadi pengingat saya, untuk bekerja sebaik mungkin di legislatif bukan terbebani mengembalikan modal yang telah dikuras”, tuturnya mengenang dinamika perhelatan politik yang baru saja ia jalani

Saban waktu sore itu, Andi Fade berusaha tersenyum. Mengingat pahit getir perjuangan. Sambil memandang gamacca dinding rumahnya, tampak usang dan penuh sarang laba-laba. Mungkin sudah waktunya kembali kerumah, membersihkan rumah kecilnya dan kembali bercanda bersama istri dan anaknya. Sambil menunggu kabar, namanya disebut mengisi satu kursi penyambung lidah rakyat dari Bone bagian Selatan.

Dirjen PPMD, Taufik Madjid: Pendamping Desa Dan Kawasan Pedesaan Harus Jaga Marwah Desa

tribuncelebes.com- BOGOR– Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Taufik Madjid tegaskan, Pendamping Desa dan Pendamping Kawasan Pedesaan harus siap menjaga marwah Desa sejalan dengan mandat UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Sebab, tak menutup kemungkinan arus informasi dan globalisasi yang mengalir deras di tengah-tengah masyarakat dapat menggerus marwah Desa dan ikut mempengaruhi pola pikir dan local wisdom masyarakat Desa yang tidak sejalan dengan mandat UU Desa tersebut.

Demikian rilis kegiatan Konsolidasi dan Evaluasi Pendamping Managemen dan Teknis Pembagunan Kawasan Pedesaan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Pedesaan di Hotel Ony Puncak Bogor, Selasa (2/04/2019)

Di hadapan Sekjen Kemendes PDTT, Anwar Sanusi, Dirjen PKP, seluruh jajaran PKP dan semua pendamping Desa dan kawasan pedesaan, Taufik juga ingatkan kepada seluruh stakehokder terkait Desa agar selalu memperkuat komitmen diri dan menggandeng kelompok-kelompok masyarakat dalam rangka peningkatan solidaritas dan soliditas sosial di Desa.

“Kita harus lakukan penguatan itu untuk percepatan pencapaian cita-cita berdesa dengan cara, antara lain meningkatkan pelayanan sosial dasar, ketahanan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan, mengurangi disparitas antar Daerah sehingga warga Desa benar-benar sebagai subyek pembangunan”, tegas Dirjen PPMD.

Oleh karena itu, lanjut Taufik, dibutuhkan pejuang-pejuang Desa yang tangguh. Pendamping Desa dan Kawasan Pedesaan merupakan lokomotif perubahan di Desa.

“Mereka harus mampu menyesuaikan diri dgn perubahan paradigma pembangunan dan pengelolaan desa yang sejalan dengan mandat UU Desa”, tegasnya.

Terkait dengan itu, Taufik mengajak semua pihak, terutama Pendamping Desa dan Kawasan Pedesaan agar menjadi garda terdepan, sekaligus menjadi barisan yang kokoh, punya visi dan perspektif masa depan yang lebih optimistik.

“Semua harus solid dan menjaga komitmen dan idiologi sebagai pejuang dan pelaku pemberdayaan Desa. Harus dijaga skill dalam berkomunikasi dan handal dalam pengorganisasian masyarakat”, katanya.

Di akhir pengarahannya, Dirjen Taufik mengingatkan,
tujuan dari semua ikhtiar tersebut adalah terwujudnya kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan rakyat Desa.
(Ar

Jalan Sunyi Pendamping Desa

Penulis. Arbit Manika

Saat UU no 6 Thn 2014 tentang Desa di Putuskan dan di Tetapkan Oleh DPR RI menjadi Payung Hukum Negara Desa, Tdk banyak rakyat di desa yg bergembira, yg terasa ada getaran kegembiraan itu hanya pada Pemerintah desa dan Aparatnya, serta para aktivis yg merasa selama ini bergerak di program pemberdayaan.

Sementara pejuang kemerdekaan desa, yg bertahun2 menyelami suasana batin rakyat desa dan mengawal gagasan besar itu, hanya sesaat berpesta kegembiraan, karena dia sadar pembajak sdh siap dengan berbagai logika kebenaran miliknya sendiri. Tapi merekapun di ujung pesta kegembiraannya, menyadari bahwa perjuangan mereka bukan untuk dirinya, dan percaya bahwa masi banyak org baik di republik ini yg peduli dan merasa bertanggung jawab atas nasib rakyat desa yg sekian lama dipinggirkan dan menjadi alat paduan suara kekuasaan.

Karena itu di dalam naskah kemerdekaan desa, dia titipkan harapan dan spirit berdesa pada org baik yg mereka beri nama Pendamping Profesional. Tentang siapa mereka, dari mana mereka, dan berapa banyak pengalaman dan pengabdiannya di desa, biarlah proses yg menentukan, karena mereka hanya berharap mereka org baik, yg peduli dan tulus mendampingi warga desa yg sedang letih ditengah keputusasaannya menanti kehadiran negara untuk memanusiakan mereka.

Mengawal gagasan besar, bukan perkara mudah, sepintas kita bisa terjebak pada sesuatu yg tekhnis, yg sesungguhnya bukan itu tujuan utama, melainkan itu hanya alat main menuju tujuan utama. Karena itu pendamping profesional selayaknya memahami alur sejarah perjuangan desa, perlakuan negara dan dampaknya, serta mimpi besar naskah UU Desa.

Kata penyair Perubahan tdk pernah hadir sebagai sebuah hadiah, tapi Perubahan hadir karena proses perjuangan yg panjang. Tidaklah mudah memahamkan pada Pemerintah Desa, Aparat desa, dan Rakyat desa, bagaimana Spriti mereka, dan jalan yg mereka sudah pilih yg telah dituangkan dlm UU Desa, dengan bahasa teknokratik, agar semuanya terukur dan dapat dipertanggungjawabkan oleh mereka dengan baik. Dan tidaklah mudah memahamkan pada Supra Des, pada Naskah yg di dalamnya bercerita angka angka.

Dibutuhkan kecerdasan multi talenta, dan sedikit keberanian, untuk memahamkan pada Supra Desa yg sebahagian angkuh krn pangkatnya. Pendamping desa bukanlah siapa siapa, dia hadir karena diberi mandat oleh negara melalui kementrian desa, yg berbekal apa adanya. Mereka juga menyadari bahwa mereka masi butuh proses belajar karena itu mereka ingin berbaur dengan rakyat desa sebagai salah satu guru mereka.

Pendamping Desa khususnya Pendamping Lokal Desa, sangat menyadari bahwa ada keseriusan yg terputus dari pihak yg menghadirkannya di desa, bahwa mereka di hadirkan dengan bekal yg terbatas, dari tupoksi yg tak sanggup mereka menghapalkan satu persatu karena begitu banyak.

Dalam setiap perenungannya mereka menemukan jawaban yg samar tapi cukup menyejukkan hatinya dan tetap semangat. Bahwa menjadi pendamping desa, khususnya Pendamping Lokal Desa, adalah sebuah Anugrah terbaik yg Tuhan berikan padanya, karena Baginya P3MD adalah Sekolah Pemberdayaan. Mereka berharap setelah Lulus Nanti, mereka telah menemukan banyak keluarga baru di Desa, dan Guru2 Kehidupan yg tak ternilai. Mereka juga akan bangga di suatu saat nanti, karena mereka telah menguasai banyak keterempilan dan pengetahuan Berdesa yg mereka dapatkan dari gurunya dari program dan yg ada di desa. yg akan menuntunnya menjadi Sosok pemberdaya sejati.

Harapan terbaiknya yg selalu mengganggu tidurnya adalah Semoga desa desa dampingannya menemukan Wajah Kemandirian dan Kedaulatannya dalam Dalam Gelora Berdesa yg tak pernah menyererah.

Salam Berdesa dan Tetap Semangat

Pendamping Desa, Mimpi Jadi Kenyataan

Penulis. Arbit Manika

Amanat UU no 6 thn 2014, menegaskan dibutuhkan pendamping profesional dalam mengawal desa dalam rangka implememtasi UU desa, agar Spirit dan Mandat UU desa yg begitu kompleks tentang Desa dapat di jabarkan dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat desa

Kehadiran Pendamping desa awalnya banyak mendapat sorotan, karena kementrian desa, PPDT dan Transmigrasi yg diberi mandat oleh UU untuk mengurus desa pada sisi pembangunan dan pemberdayaan Masyarakat, diragukan karena mentrinya seorang kader Partai. Untuk menjawab keraguan itu, kementrian desa yg di pimpin oleh Marwan Jafar, melakukan terobosan dalam seleksi pendamping desa, dengan memberikan mandat pada perguruan Tinggi sebagai pelaksana rekrutmen pendamping desa, yg di bantu oleh Pemerintah Daerah Propensi termasuk kementrian desa sendiri.

Belum pernah Ada sejarah Rekrutmen fasilitator program pemberdayaan yg menyerahkan pelaksanaanya pada Perguruan Tinggi. Anggarannya pun tidak tanggung tanggung puluhan Milyar. Terlepas dari kekurangan yg ada, kementrian desa, PPDT dan Transmigrasi telah menunjukkan niat baik dan kesungguhannya untuk memghadirkan pendamping sesuai kebutuhan desa.

Proses seleksipun berlangsung, pada tahun 2016, hasilnya hanya 45% dari kebutuhan pendamping desa. Karena Sistem rekrutmen mensyaratkan Passingret atau batas nilai yg dibutuhkan untuk dinyatakan lulus. Baik, Tes Tulis, maupun Tes Psikologi sebelum masuk tahap Seleksi administrasi.

Karena itulah kementeiaan desa, PPDT dan Transmigrasi setiap tahun melakukan Rekrutmen pendamping profesional untuk memenuhi kebutuhan pendamping profesional.
Sampai di tahun 2018.

Kementrian desa, PPDT dan Transmigrasi melalui Tenaga pendamping Profesional tingkat pusat, selain melakukan Regrutmen pendamping profesional, juga melakukan pelatihan peningkatan kapasitas baik yg baru bergabung di P3MD maupun yg sedang menjalankan Tugasnya sebagai pendamping profesional

Berbagai Treatmen yg dilakukan secara nasional untuk menggenjot kemampuan pendamping agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat desa dalam menjalankan mandat UU no 6 tentang Desa.

Kementrian Des PPDT dan Transmigrasi Menyadari sepenuhnya, bahwa mengelolah program sebesar ini tidaklah mudah, selain karena keterbatasan anggaran, juga karena tupoksi pendamping desa sangat kompleks, sebagaimana kompleksnya mandat UU DESA.

Pada Awalnya penolakan pendamping desa terjadi dimana mana, baik karena ada muatan politis, atau mis komunikasi dengan pemerintah Daerah, juga karena masi adanya pendamping desa yg belum serius menjalankan tupoksinya sebagai pendamping desa.

Waktupun berjalan, seiring dengan berjalannya proses berdesa sebagai sesuatu yg tak bisa dihentikan, pendamping desa dengan berbagai kritikan bahkan cemoan, tdk menghalangi langkahnya yg semakin pasti untuk memberikan yg terbaik pada desa.

Di Tahun 2018 dapat dikatakan tdk ada lagi suara penolakan atau cibiran pendamping yg berlebihan, namun kritikan dimana mana tetap ada, karena hanya dengan itu pendamping desa akan lebih matang dalam menjalankan tupoksinya. Satu persatu Apresiasi bermunculan, pengakuan akan peran pendamping dalam mengawal implememtasi UU DESA, Termasuk Bapak Presiden Jokowi, ikut memberikan Apresiasi dengan menaikkan Gaji pendamping lokal desa pada tahun ini, sebagai ujung tombak dalam mengawal mandat UU DESA.

Kementrian Desa, PPDT dan transmigrasi sebagai Markas pendamping desa mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Presiden Jokowi, dan beberapa negara tetangga, Karena sukses mengawal dana desa secara khusus dan implementasi UU desa pada umumnya. Capaian kementrian desa, PPDT dan Transmigrasi tdk dapat dipisahkan atas karya dan pengabdian pendamping desa khususnya Pendamping Lokal Desa.

Terlepas dari Pujian yg ada, kita masi menyisahkan banyak agenda program yg belum berjalan secara maksimal, Tapi ada Harapan besar untuk menjawab itu semua ketika kita telah menjadikan P3MD sebagai Kampus Pembelajaran kita, untuk menemukan Spririt Pengabdian demi kemandirian dan kedaulatan desa.(*)

Salam Berdesa dan Tetap Semangat.

Mustari Soba: Pendamping Desa Harus Lebih Inovatif

TRIBUNCELEBES.COM-Makassar– Drs.H Mustari Soba Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Sulawesi Selatan Membuka Pelatihan Pendamping Desa (PD) dan Pendamping Desa Teknik Infrastruktur PDTI) di hotel Claro hari ini 19 November 2018.

Penyematan atribut tanda peserta pelatihan oleh Drs H Mustari Soba kepala dinas PMD Sul Sel

Kegiatan ini berlangsung selama 6 hari tanggal 19 hingga tanggal 24 November 2018. Yang di ikuti oleh pendamping profesional PD dari 24 kabupaten sulsel.
Dan selaku pelatih dilaksanakan oleh Tenaga Ahli (TA) dari setiap kabupaten Sul Sel.

Peserta pembukaan peningkatan kapasitas pendamping profesional PD,PDTI Se Sul Sel

Dalam Sambutannya Mustari Soba Menekankan agar Pendamping Desa PD/ PDTI. dalam melakasanakan tugasnya pendamping harus memberdayakan potensi lokal desa dengan pola pikir yang lebih inovasi.
” Pendamping Desa PD dan PDTI harus lebih inovasi dalam mengembang tanggung jawabnya mendampingi desa, masih banyak potensi desa yang bisa dimanfaatkan guna mensejahterakan masyarakat desa seperti halnya kemandirian ekonomi desa yg telah di capai beberapa desa di jawa seperti Desa Ponggok di Jawa Tengah”,pungkas Mustari Soba didepan 60 Orang Pelatih dan sekitar 580 peserta Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pendamping Desa di hotel Claro Makassar.

Ini merupakan kegiatan rutin untuk memaksimalkan dan meningkatkan skill pendamping profesional desa, sebagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan intelektual pelaku pendampingan dalam melaksanakan tupoksinya dalam Program Pemberdayaan Masyarakat dan Desa utamanya program Inovasi Desa atau PID untuk tahun 2018 dan 2019 kedepan, Hal ini dijelaskan oleh Rusdi Idrus Tenaga Ahli Madya Peningkatan Kapasitas P3MD Sulawesi Selatan. Selaku koordinator kegiatan.

Penulis. Om Agu

Prihatin: Kebutuhan Sapiku dan Tanggung  Jawab Pendampinganku

Penulis : Ceceng Rusmana/PLD.Kecamatan Dayeuhluhur Kab.Cilacap-Jawa Tengah

Saya hanya Prihatin Dan sekedar bertanya, mengapa diantara mereka banyak yang ditempatkan dilokasi yang jauh dari domisilinya.

Pendamping mesti  bertugas di Wilayah kampungnya Sendiri,akan lebih akrab dengan warga, lebih mudah memahami Pelaku pemerintahan didesa, bahkan memang telah memiliki hubungan emosional yang dekat dengan warga.

Pendamping akan lebih memiliki loyalitas yang tinggi dibanding dengan bertugas diwilayah lain yang baru berusaha membangun hubungan baik dengan warga dan pemerintah, belum lagi kondisi lain.

Seoraang pendamping pria atau wanita memiliki dua tanggung jawab mendasar yang tak dapat dipisahkan, pertama tanggung jawab Keluarga dan kedua Adalah Tanggung jawab Pekerjaan.ketika keduanya terpisah maka akan ada salah satu yang tidak atau kurang terpenuhi entah tanggung jawab keluarga yang terabaikan atau tanggung jawab pekerjaan yang terbengkalai.

Seorang pendamping memiliki tanggung jawab tidak sama dengan seorang pekerja buruh pabrik, tidak sama dengan pola kerja seorang Pegawai negeri Sipil, Seorang pendamping adalah tenaga ‘pemberdaya’ yang tidak memiliki jam kerja yang teratur tersistematis,karena menghadapi pola pikir masyarakat mesti harus hidup dalam nalar dan pikiran amsyarakat itu sendiri, kulture dan sosialitas mesti mendapat perhatian dasar dari seorang pendamping.

Seorang pendamping pemberdaya masyarakat mestilah tumbuh dan mengakar dan menjadi panutan dalam masyarakat, bukan sekedar kurir data,bukan sekedar check list share location and twitter,namun ia adalah pelaku pemberdaya yang mesti hidup,tumbuh dan panutan dalam msayarakat.

Saya telah Jadi Tukang Ngarit dan Sebagai Ketua Kelompok Tani adalah Referensi kerjaku waktu sebelum menjadi Pendamping Lokal Desa (PLD).

Aku Melamar PLD karena ada ketentuan bahwa PLD ditempatkan di Desa Sendiri atau Didesa terdekat Dengan Domisili..

Dan Aku kebetulan Ditempatkan Di Desa Sendiri..

Tetapi Aku terkadang Merasa ikut Prihatin dengan Kondisi Para PDP PDTI dan TA yang selalu di rooling ditempatkan di daerah Domisilinya.dengan alasan alasan tertentu  katanya  yang aku sendiri tidak tahu alasannya apa.

Tapi Kalo sampe ada PLD yang lintas kecamatan, waah itu sungguh Malang Sekali..

Jujur Brow, kalo aku sendiri ditempatkan jauh dari domisili baik sebagai PLD PD Atau TA, aku Akan memilih Sapi Sapi aku yang Harus aku Kasih Makan Tiap sore dan aku bersihkan kandangnya sebelum Bekerja.. sorry aku ngak bisa jauh2 dari mereka..

Aku Akan memilih Sapi Karena Masa depanku dan keluargaku Ada Di Sapi. Bukan di Pekerjaan Pendamping Desa.. Apalagi kalo aku Harus jauh dari keluarga..

Walau di kontrak ada kata-kata  bersedia  ditempatkan di mana saja, yaa aku bersedia dimana saja asal tidak jauh dari Sapi sapi aku..haha ha

Kenapa, karena Masa Depanku ada di Sapi..

Karena Sebelum jadi PLD aku sudah punya Sapi .. empat ekor.. sedang kan bayaran  untuk PLD setahun walau 50% nya ditabung itu ngak cukup untuk Membeli Seekor Sapi..

Jadi yaa mending melepaskan PLD nya daripada harus meninggalkan 4 sapi..

Lho Kalo Gitu.. kenapa ngak fokus aja ke Sapi, malah Repot repot mau Jadi PLD segala? Seorang Tukang komplen bertanya..

Aku santai aja.. Kalo kamu Bisa Jadi PLD yang Lebih baik dari aku Untuk Desaku, Yang Lebih Kenal Desa aku, yang Lebih diterima sama Masyarakat Desa aku.. Silahkan jadi PLD di desaku dan aku akan Fokus ke ngingu Sapi..

Aku Hanya prihatin dan  Sekedar Bertanya.

Rekan-rekan  yang kerjanya jauh dari Domisili Baik apapun tingkatan anda di Pendamping Desa,

PLD PD TA kira-kira berapa tahun anda butuh untuk membeli Seekor Sapi..

Maaf Cuma Bertanya Saja.

Lolos PPK Pendamping Desa Terancam Di Pecat

tribuncelebes.com_Setelah Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada Pendamping Desa (PD) dan  Pendamping Lokal Desa (PLD) yang terlimbat langsung sebagai penyelenggara atau pengawasan pemilihan umum (Pemilu). Hal ini juga di realisasiakan Oleh Tenaga Ahli (TA) Kabupaten Bone. Selasa 5 Desember 2017.

Tenaga Ahli Kabupaten Bone, Agus Mumar yang ditemui mengatakan, saat ini dirinya sudah mengantongi nama pendamping Desa yang terlibat dalam Penyelenggaraan dan Pengawasan Pemilihan pada Pilkada Mendatang, tentu Kata Agus, pihaknya akan melaporkan ke Kemendes sesuai dengan Aturan.

“Sudah ada laporan masuk, jika Pendamping Desa yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pengawasan pemilihan umum, kita akan berkoordinasi dengan KPU jika terbukti kita kita Laporkan ke Kemendes untuk diberikan sanksi, karena dalam Edaran Kemendes PD dan PLD tidak boleh menerima Gaji dengan 2 Mata Anggaran,”kata Agus.

Agus menambahkan, sejauh sudah ada beberapa laporan byang masuk terkait keterlibatan PD dan PLD pada pemilihan, namun tentunya pihaknya akan terus menunggu laporan dari Masyarakat untuk dijadikan sebagai acuan dalam pelaporan ke Kemendes.

“Kita selalu menunggu laporan dari Warga jika ada PD dan PLD yang terlibat dalam Pemilihan Umum, Karena pendamping desa tidak boleh double job, pendamping desa memiliki tanggung jawab professional purnawaktu itu akan,” Lanjutnya.

Agus menegaskan akan memberikan pilihan kepada PD dan PLD yang terlibat untuk memilih berhenti terlibat di Penyelenggaraan atau pengawasan Pemilihan umum atau dipacat di pendamping Desa‎

SAHAR