Pak Dirman: Perempuan Akan Jadi Tulang Punggung Pembangunan Jawa Tengah

TRIBUN CELEBES.COM-SEMARANG – Calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said bertekad menjadikan perempuan sebagai tulang punggung gerakan pembangunan di Jawa Tengah. Pasalnya, peran perempuan sangat besar dalam ikut mendorong pengembangan ekonomi di Jateng.

Pria yang berhasil membubarkan praktek mafia migas ini mengungkapkan hal itu usai mengunjungi Pasar Jati di Banyumanik, Semarang, Selasa (7/3). “Kita lihat di pasar ini sebagian besar pedagangnya perempuan. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang ikut menopang ekonomi Jateng,” katanya.

Pak Dirman sangat terkesan dengan perempuan-perempuan tangguh yang berjuang sejak subuh hingga sore hari untuk membantu ekonomi keluarga.

“Bayangkan mereka subuh sudah siap-siap, berdagang sampai siang. Pulang pasti sudah beberes rumah kemudian masak mengurus anak suami nyuci. Malam masih harus meladeni suami,” katanya.

Jadi tidak salah, lanjutnya, jika salah satu programnya dengan Ida Fauziah ingin menempatkan perempuan sebagai tulang punggung gerakan pembangunan di Jawa Tengah.

“Karena mereka punya ketangguhan, kekuatan, dan keuletan. Mereka terbukti menjadi pahlawan keluarga,” katanya.

Hal tersebut akan direalisasikannya dengan mendorong sebanyak mungkin perempuan masuk ke sektor kewirausahaan dengan memberikan dukungan dari hulu ke hilir, berupa permodalan, pelatihan managemen keuangan, mendorong regulasi sampai pada meyakinkan akses pasar.

“Dan kami akan mendorong yang kecil menjadi menengah dan menengah jadi yang besar. Dengan cara memberi fasilitas dari hulu ke hilir. Terus menyediakan tempat mengadu atau tempat konsultasi serial usahanya,” tandasnya.

Dia juga mengatakan akan menggandeng organisasi perempuan untuk memikirkan hal tersebut.

“Sejak dulu kan di balik kisah bersejarah ada peran perempuan. Sebagai calon pemimpin Jawa Tengah satu-satunya, Ibu Ida ingin merealisasikan hal tersebut,” katanya.

Pria yang juga berhasil membongkar kasus papa minta saham tersebut mengakui, selama ini peran perempuan cukup  besar, namun belum disertai dorongan seimbang dari pemerintah.

“Kita ingin lebih mengapresiasi dengan memberikan dukungan lebih Memang sudah menjadi tulang punggung. Tapi kalau nanti semakin didukung tentu dampaknya semakin besar. Kan kami mencanangkan APBD yang Pro wong cilik dan pro perempuan. Dan itu menjadi salah satu program kami, dengan bertekad melahirkan gerakan setara sejuta wirausaha perempuan,” pungkas dia.(Usman)

Hari Kedua,Tafa’dal Kampanye Di Kecamatan Ajangale

TRIBUN CELEBES.COM-Bone-Hari Kedua,Masa kampanye dialogis Pilkada kabupaten Bone 2018, hari ini 06 Maret 2018 Dr.H.Andi Fahsar M.padjalangi dan H,Ambo Dalle bersama Tim Tafa’dal, hari ini berkampanye di kecamatan Ajangale,dengan titik lokasi kampanye tatap muka dan dialogis di desa Pacciro,desa Lebbae,desa manciri,desa Amesangeng serta desa Telle.

Kehadiran Tim Tafa’dal di kecamatan Ajangale mendapat sambutan meriah oleh warga Ajang ale, kampanye dialogis Tafa’dal  ini di mulai jam 10,00 siang di desa pacciro yang selanjutnya rombongan beranjak menuju desa Lebbae,yang di kawal oleh ratusan warga Desa Pacciro.

Dalam Dialog Tersebut H.Andi fahsar menyampaikan Terima kasih kepada warga atas kepercayaan dan partisipasinya selama ini dalam membangun Bone,hingga kesuksesan pembangunan dapat dinikmati oleh warga selama ini , dalam Sambutannya Fahsar menitip harapan kepada masyarakat untuk   Khadir di TPS. Untuk memilih dan pilihannya ke pasangan calon Tafa’dal.

”Apa yang telah Tafa’dal lakukan dalam pencapaian selama kepemimpinan Tafa’dal ini bukan keberhasilan Tafa’dal secara pribadi akan tetapi ini adalah keberhasilan kita semua yang turut dalam bekerja sama dalam memperbaiki dan menata pembangunan kabupaten Bone,Bone kita semua”.

Fahsar juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam piilkada bulan Juni 2018 nanti, “Jangan Lupa datang ke TPS memberikan hak pilih ta pada tanggal 27 Juni 2018 nanti,dan jangan lupa memilih Tafa’dal”.

Penulis: Om Agu

Andi Mukhtar Petta Punna Tokoh Masyarakat Bone Nyatakan Dukungan ke IYL-Cakka

TRIBUN CELEBES-BONE – Dukungan tokoh masyarakat ke pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel nomer urut 4, Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) seolah tak ada habisnya.

Terbaru adalah tokoh masyarakat Kabupaten Bone, Andi Mukhtar Petta Punna mengikrarkan akan siap berada di barisan pemenangan pasangan yang dijuluki “Punggawa Macakka” itu.

Dukungan ini juga tercermin saat mengumpulkan keluarganya dan menghimbau kepada rumpun keluarga untuk memenangkan pasangan yang dikenal komitmen, tegas dan merakyat itu. Mukhtar menjelaskan alasan memilih pasangan IYL-Cakka, pertama karena tidak pernah sama sekali diisukan apalagi terlibat kasus korupsi.

“Pak Ichsan dan pak Cakka ini sama-sama mantan Bupati dua periode, sama-sama juga tidak pernah korupsi,” kata tokoh masyarakat Pattimpeng ini.

Tidak hanya Mukhtar, tokoh masyarakat lainnya, Rustam H. Wello juga menegaskan hal yang sama. Menurutnya, saat ini Sulsel membutuhkan pemimpin yang berintegritas untuk bisa melanjutkan prestasi dan capaian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

“Saya himbau kepada semua keluarga dan sahabat agar memilih pemimpin yang berintegritas. Punggawa Macakka,” paparnya.

Dukungan masyarakat di Bone memang mengalir ke IYL-Cakka. Itu terbukti dari sejumlah tokoh dan komunitas kini “pasang badan” untuk memenangkan pasangan ini

NCID : Dukungan Jokowi Menguat, Untuk Melanggengkan Politik Transaksional ?

TRIBUN CELEBES.COM-Jakarta, 28 Februari 2018 – Perbicangan hangat yang terjadi di acara Indonesia Lawyers Club mengenai “Jokowi Kian Menguat ?, banyak menjadi perhatian publik. Pasalnya, kian menguatnya Jokowi ini dipastikah soal tercukupinya syarat presidential threshold melebihi 20%, dan bahkan para partai pengusung Jokowi berbondong-bondong memberikan statement seragam dengan mengatakan, bahwa partai pendukung Jokowi sebagai Capres 2019 tanpa syarat. Hal tersebut justru membuat publik mempertanyakan pertanggung jawaban tersebut, karena faktanya pernyataan tersebut bertolak belakang dengan realitas saat ini. Menurut Direktur Eksekutif Nurajaman Center For Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman.

Banyaknya partai-partai pendukung Jokowi seperti Golkar, Nasdem, PDIP, PPP, Hanura dan PKPI, bukan sebab tanpa syarat. melainkan para partai dan relawan yang mendukung Jokowi. Justru mendapat kenikmatan politik bersyarat, seperti dapatnya bagian kue kekuasaan para partai penguasa, jatah menteri, Kepala Staft Kepresidenan dan bahkan menjadi dirut serta komisaris di BUMN, secara politik dapat diartikan partai pendukung dan relawan Jokowi menikmati posisi yang saat ini jadi bukan tanpa syarat akan tetapi bisa saja karena ingin mempertahankan jabatan yang sudah diterima.

“Publik sudah mengenal tradisi politik di Indonesia, karena perumpamaan tidak ada makan siang gratis. Hal semacam ini juga sudah tidak akan membuat publik terbuai dengan retorika politisi, karena trend ketidaksukaan Jokowi menaik disebabkan oleh tidak terealisasinya janji kampanye Jokowi, salah satunya pembentukan kebinet ramping dan tidak akan bagi-bagi jabatan”, Ujar Jajat Nurjaman.

Jajat menambahkan,”Justru di era Jokowi ini tradisi kenegaraan dalam berpolitik mengalami kemunduran, karena baru kali ini ada Kejaksaan Agung dari parpol bahkan ketua DPD RI yang semestinya independen hari ini justru Ketua Umum partai politik, dan cara-cara seperti ini bukan sebuah prestasi yang selalu diagung-agungkan sebagai terobosan justru hal ini semakin memperkuat tradisi politik transaksional era demokrasi”,

“Publik justru hari ini mengapresiasi para partai yang ingin mengusung kadernya sendiri untuk mengikuti konstelasi Pemilihan Presiden, sebab dasar tersebutlah yang melandasi terbentuknya partai politik melahirkan kader-kader terbaik untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia”, tutup Jajat.

Penulis: Usman

Tan Malaka Menolak Parlemen,Tan Malaka Kehilangan Kepala

Penulis : Subarmin Salim
Penulis adalah pegiat literasi, essais dan peminum kopi

“Atau kita perlu mencontoh warga Ukraina, mereka melempar ke tong sampah, wakil-wakil parlemen yang tak becus bekerja.”

“Tragisnya, dia yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang dicintainya.”

Kurang dari lima tahun setelah revolusi kemerdekaan, Tan dieksekusi. Tapi, tidak ada yang tahu pasti bagaimana atau mengapa ia ditembak.

Padahal, di kalangan pejuang revolusi tak ada yang tak mengenal sosok pemikir legendaries ini. Bukan hanya pemikir, Tan adalah pejuang sejati.

Dalam beberapa hal, ia bahkan melewati Che Guevara, untuk perjalanan panjang, pidato di berbagai negara, menyamar dengan banyak nama, serta gagasan-gagasan revolusionernya.

Tan adalah revolusinoer sesungguhnya. Soekarno belajar banyak dari tulisan-tulisannya, “Naar de Republiek Indonesia” (1925) atau yang lebih taktis “Massa Actie” (1926).

Tapi Tan dihukum justru karena pemikiran revolusionernya. Rasanya sungguh ironis, seorang pewaris revolusi ditahan demi menjaga revolusi.

Ya, setidaknya itulah yang dilakukan oleh kabinet yang baru saja terbentuk. Bersama Sukarni, Tan harus melihat sejarah tak memihak orang yang berpikiran liar. Mungkin pula, Tan justru ditahan karena ia mengantongi selembar testamen revolusi.

Hanya Soekarno yang seharusnya punya jawaban yang lebih baik.

Begitulah kesalahan awal yang telah dilakukan negeri yang baru saja merdeka ini. Meminggirkan orang yang paling berjasa. Bahkan, tak sampai lima tahun, Tan ditembak mati, di sebuah tempat sunyi, jauh dari keramaian orang-orang yang sering mendengar pidatonya, jauh dari mata orang-orang yang mengagumi tulisannya.

Sebuah fakta, Tan mati dalam sejarah yang hening. Kesalahan fatal yang mungkin tak akan pernah termaafkan. Dengan alasan apapun, Tan telah menjadi tumbal, “revolusi memakan anaknya sendiri.”

Tan menyaksikan negara yang diidamkannya berdiri, dan keesokan harinya, ia pun melihat rombongan orang-orang bersepatu, membidikkan laras senapan ke tubuhnya yang ringkih dibungkus celana selutut, baju kaos kusam, dan kepalanya yang ditutup topi kumal.

21 Pebruari 1949, Tan dilenyapkan. Itu adalah bagian pilu dari sejarah revolusi negeri ini, dan harus diterima. Siapa yang mengenangnya kini?

Mungkin mahasiswa kini hanya mengenalnya sebagai sosok ‘kiri ekstrem’, seorang yang berseberangan dengan Muso dan DN. Aidit. Cukup untuk menerima alasan, mengapa Tan menolak pemberontakan PKI.

Tapi mahasiswa anti-kiri itu pun mungkin akan tetap menutup telinga, saat tahu Tan ternyata menghafal Al-Quran sejak muda. Jelas, ia lebih islami dari banyak penceramah kondang saat ini, yang hanya gemar menafsir hadist halal-haram, demi merebut simpatik jemaah yang ingin segera hijrah dari kebingungannya melihat dunia.

Harus diakui, bangsa ini kurang mampu memberikan pelajaran tentang ideologi. Bahkan nyaris gagal menjaga ruh para pahlawan yang seharusnya dipahat di dalam gedung-gedung akademik.

Para pahlawan diterima dan ditolak, bukan karena apa yang telah mereka lakukan, bahkan mereka dibenci karena mereka gagal dikenal.

Harusnya kita berterima kasih kepada Harry Poeze. Seorang penulis Belanda, yang mendedikasikan hidupnya meneliti Tan Malaka.

Poeze berhasil merumuskan tinggi badan Tan, menelusuri negara yang pernah Tan kunjungi, merinci ciri-ciri fisik, menemukan nama-nama samaran, sejumlah tulisan, dan foto-foto.

Sebuah pekerjaan yang langka, juga tak populer, tak ada kobaran api di sana, hanya lilin kecil. Poeze di tengah semangatnya menghidupkan Tan lewat tulisan, ia selalu menggumamkan protes, mengapa orang sekaliber Tan Malaka, justru berakhir tragis, dan tak dicatat sebagai pahlawan?

Apakah negara ini telah bertindak naïf untuk untuk tak mengakui peran Tan?

Harry Poeze menulis “Verguisd en Vergeten Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949”, mengulas tuntas, bahwa Tan ada di balik proklamasi yang menampik campurtangan Jepang.

Tan yang telah memberi petunjuk, mengapa Proklamasi harus disegerakan, dan Tan pula yang mendesak, mengapa itu harus digerakkan oleh kaum muda.

Menahan Tan adalah kesalahan awal. Membunuhnya adalah kegilaan. Mengabaikan peran pentingnya dalam proses revolusi adalah pengkhianatan.

Dan menghilangkannya dalam catatan sejarah revolusi mungkin menjadi jawaban, mengapa hingga kini bangsa ini masih belum mampu keluar dari penjara kebingungan.

Tan tak menyetujui parlemen

Tan adalah wujud ‘language game’: “jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala.” Seorang yang berpikir Marxis namun bertindak nasionalis.

Tan berpikir simpel namun visioner untuk urusan negara. Republik Indonesia menurutnya, tak seharusnya menganut Trias Politikanya Montesquieu.

Ia memang tak percaya dengan parlemen. Menurutnya, keberadaan parlemen justru menjadi sekat rakyat dengan negara. Parlemen adalah orang-orang yang jauh dari persoalan, katanya.

Tan berpikir, seharusnya mereka tak berhak disebut wakil rakyat. Parlemen tak lebih dari warung kopi tempat orang-orang berdebat. Karena jauh dari rakyat, mereka akhirnya berselingkuh dengan eksekutif, perusahaan atau perbankan, kata Tan.

Hari ini kita melihat, kegilaan negeri ini dengan membiarkan UU MD3 diketuk oleh anggota DPR. Tampaknya, anggota dewan yang berkantor di Senayan itu perlu diberi kuliah khusus tentang kiprah Tan.

Itu lebih baik bagi mereka yang sibuk mengurus citra lembaga korup namun begitu bersemangat membentengi diri dengan aturan-aturan absurd. Padahal, kursi dan gedung tempat mereka berkantor seharusnya menahan mereka untuk tidak keluar dari amanah rakyat yang diwakilinya.

Atau kita perlu mencontoh warga Ukraina, mereka melempar ke tong sampah, wakil-wakil parlemen yang tak becus bekerja.

Akhirnya, kita tahu, Tan dilenyapkan salah satunya karena parlemen, yang memang tak pernah ada di dalam kepalanya

Pemimpin (Kesepian)

Penulis: Subarmin Salim

Penulis adalah pegiat literasi, essais dan peminum kopi

Percayalah, tak ada faktor genetis dalam kepemimpinan. Semua kita punya gen dari kakek dan nenek yang sama.

Hanya karena faktor kelamaan berjemur dan sering lupa mandi, kulit, rambut dan bentuk hidung ber-evolusi dan membuat perbedaan mencolok, wkwkwk…

Kekuatan fisik bukan syarat jadi pemimpin. Buktinya, Mike Tyson. Lihatlah, Jokowi secara fisik dibawah Prabowo, kan?

Banyak uang pun bukan jaminan bakal jadi pemimpin. Uang bisa membeli apapun, tapi tidak dengan kepemimpinan. Buktinya, juragan sapi tetangga di kampung, tak lolos verifikasi Cabup.

So, untuk jadi pemimpin menurut rumus para leluhur Sapiens itu sangat simpel: kemampuan bekerja sama dan membangun jaringan yang luas.

Tanpa upaya membangun kerja sama dan memiliki ‘kawanan’ yang loyal, tak butuh waktu lama seorang (calon) pemimpin akan ditinggalkan dan lalu kesepian.

PNS.Dilarang Berpolitik, Tapi,…

Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilarang berpolitik, itu sudah lama diatur Undang-undang, hingga diawasi agar jangan like dan beri komentar di gambar para politisi.

Ini seperti makan simalakama, dimakan salah tak dimakan juga salah.

Hehehe…

Kalau mau serius, baiknya mulai dari atas. Lagi pula pengguna facebook tidak seberapa dibanding pemilih potensial yang diarahkan oleh pejabat-pejabat…

Bisa dihitung jari pejabat yang mampu menahan godaan untuk tidak ikut mensosialisasikan calonnya yang memang umumnya incumbent.

Malah, mereka sudah mendapatkan tools khusus untuk bergerak menyisir PNS bawahannya (plus keluarga dan para tetangganya), dengan cara-cara yang biasanya pun tak bisa dielakkan oleh PNS level bawah.

Jelang Pilgub dan Pilgub kita sudah menyaksikan langsung, bagaimana pengumpulan KTP dijadikan katalisator untuk ‘mutasi’ jabatan tertentu…

Seorang Kepsek pun akhirnya harus merelakan jabatannya, meski di waktu yang sangat tidak tepat (bukan di awal tahun ajaran).

Seharusnya, pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidak boleh terganggu dengan urusan mutasi. Ada proses penyesuaian administrasi, struktur organisasi juga gesekan psikologi, tak terelakkan saat mutasi.

Karenanya, sulit untuk mengabaikan indikator politis dalam mutasi itu. Dan, pimpinan yang mendapat promosi itu tidak bekerja sendiri, ia tentu dibantu beberapa orang kawan dan bawahannya untuk mengejar target dari sang atasan.

Lalu, apa guna larangan berpolitik bagi PNS?

Ayolah… demokrasi kita sebenarnya sudah bagus, hanya saja sebagian dari kita suka pura-pura.

PNS dilarang berpolitik? bagi saya sama saja melarang anak-anak makan permen…

Tafaddal Jilid II Mendaftar Ke KPU.Ribuan Pendukung Mengawal

Tribuncelebes.com.Watampone-Ribuan pendukung Tafaddal Jilid II mengawal Andi Baso Fahsar M.Padjalangi-Ambo Dalle hari ini senin 8 januari 2018.


Setelah mendapat 11 dukungan dari Partai Politik, Pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati Bone periode 2018-2023.Andi Fahsar dan Ambo dalle.

 

Ketua KPU Bone, Aksi Hamzah dalam sambutannya berharap dalam pemilihan kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 ini, masyarakat tidak boleh dibangun dengan karakter negatif untuk memilih salahsatu Calon.

“Masyarakat jangan dibangun dengan karakter negatif dalam berpilkada,”kata Aksi.

Dia menambahkan, pencalonan Fahsar dengan dukungan 11 partai merupakan catatan tersendiri dalam perjalanan sejarah demokrasi di kabupaten Bone.

Sementara itu Bakal Calon Bupati Bone, Andi Fahsar M Padjalangi mengatakan janji politik yang dicanamgkn pada periode sebelumnya di nilai sebahagian besar sudah direalisasikan, namun untuk merealisasikan seratus persen dengan keterbatasan kemampan dn kondisi Daerah.

“Tidak ada satupun janji politik yang tidak kami laksanakan, cuma harus dimaklumi tidak bisa kita penuhi seratus persen mengingat keterbasan kemampuan dan kondisi di Bone,”kata Fahsar.
Penulis: sahar_om Agu

Edisi: Dingin Desember

Penulis: Agus Baldie


Wajah tegas menapak eksistensi, jari mengepal menohok langit, pekik suara memenuhi atmosfir menghujat rezim penghasil derita bagi ibu pertiwimu. seringai serakah barisan serigala pirang dan siluman sungai kuning berpesta dibalik derita dan darah bumi putra saudaramu

Aktifis, praktisi, akademisi, hingga ningsi si penjual es kelapa ikut menunggu mengharap laku sejarahmu kembali tergelar tuk mengantitesa laku siluman dan serigala yg melintah dan hampir mengisap habis kehidupan dinegeri warisan para syuhada ini.

Apa yg terjadi wahai agen perubah dan pengontrol sosial? Apakah kampusmu telah memenara gading dan memenjara pedulimu?

Apa yg terjadi wahai kelompok intelek? Kemana suara dan lakumu yg selama berpuluh tahun menjadi momok para perompak berdasi yg menyamun hak hak ulayat negerimu.

Kemana kalian ketika harga harga itu berlari menyeret leher ayah ibumu diatas aspal impor diterik siang. Betulkah kalian penerus bangsa, telah mengabaikan dogma ilmiahmu hingga barisan buas berseragam itu dgn mudahnya mengabaikan atribut hukum yg melekat utuh diseragam mereka.

Demikian rendahnyakah kelembagaan pendidikanmu dimata mereka?

Dunia yg konon adalah sumber peradaban, komunitas yg bergelar Maha dimasyarakat, kini tak lagi bernilai. Jatuh dibawah laras2 penista pendidikan.

Mungkin itu semua juga bersumber darimu sang perubah zaman. Langkahmu tak lagi logis. Sikapmu menjadi abai, kumpulanmu tak lagi dr kalanganmu. Hingga kalian dgn mudah mencipta alasan serigala bersergam menerkam aspirasimu yg membumbung langit.

Belum kering luka didunia terdidikmu, langit mks kembali dipeluk mendung. Dunia pendidikan mks kembali tercoreng moreng oleh tindakan amoral sebagian alumnimu.

Ah …. Makassar, dukamu tak usai, terus dirundung penistaan. Mengkristalkan image masyarakat terdidik yg tak terdidik. Entah kemana engkau menghindar diusai pesta akademikmu nanti. Saat sekarang saja, dunia kerja hampir bersepakat menolak asal usulmu.

Desember ini, yg harusnya hujan berarak menuju sambutan yg telah tak sabar, menyegarkan dahaga, menyuburkan bumi yg mengering lama, kini malah membubarkan sambutannya, menundukkan hati yg sempat sumringah.

Semua kini dirundung resah nan gelisah. Digalau nilai yg terlanjut digadai. Hujan Desember yg harusnya jadi awal masa subur, berubah jadi awal masa berkabung.

Edisi:Kerusakan Akibat Pilkada

Penulis:Agus baldie
Sekedar Bertahan tuk tak jenuh mengingatkan kaum cerdik pandai yg masih bertahan digaris edukasi bangsa, mengingatkan aktivis sosial yg masih berjalan linear dikanal pendampingan dan pemberdayaan, mengingatkan penggiat berita agar tetap berdiri berimbang digaris industri dan inspirasi.
Mengingatkan kita semua agar tdk tergiring menjadi alat pemenangan pilkada yg cacat bawaan#
Fakta Pertama.
Jika pilkada diibaratkan pesta, siapakah sesungguhnya pemilik pesta itu?
Saya yakin hampir semua kita akan menjawab pesta itu milik rakyat.

Namun mari melihat fakta, dalam setiap pilkada siapakah yg memenuhi seluruh kolom pemberitaan media? Siapakah yg memenuhi ruang diskusi diskusi publik? Siapakah yg menjadi pusat perhatian seluruh elemen daerah?
Jawabnya adalah para calon yg sdg berkompetisi.
Ini fakta jelas bahwa pilkada cacat wacana
Fakta Kedua.
Jika kita mendudukan Pilkada dlm polarisasi kepentingan daerah, sesungguhnya hanya ada 2 kutup kepentingan. 1. Kepentingan Rakyat untuk sejahtera dibawah kepemimpinan kepala daerah yg tepat kompetensi dan tepat orientasi. 2. Kepentingan para
Calon untuk dipilih oleh rakyat.

Namun seperti apa polarisasi yg terbentuk setiap pilkada yg kini telah masuk periode ketiga? Polarisasi yang ada hanya polarisasi antara kepentingan menang para calon. antara kepentingan calon A, Calon B dan seterusnya.
Dampak pertama dlm polarisasi yg cacat ini, menyebabkan rakyat tdk mampu melihat substansi kepentingan dan urgensi haknya sebagai pemilik pesta.
Dimana posisi rakyat sebagai pemilik pesta, dlm polarisasi itu?
Rakyat hanya menjadi obyek mobilisasi. Rakyat hanya berposisi sub ordinat dlm meriah pesta itu.
Dampak selanjutnya, rakyat pemilih kemudianterbagi tiga kelompok sifat. kelompok pertama, adalah rakyat yg semata jadi obyek mobilisasi. Kelompok ini yg kemudian potensial terjebak dalam fanatisme dukungan buta.

Kelompok kedua, adalah mereka yg tdk memiliki hasrat politik rivalitas. Mereka memilih bersikap pasif, bahkan apatis. Kelompok ini nyata kita lihat dlm statistik pemilih terdaftar yg tdk menyalurkan suara. yg jumlahnya 30 hingga 40 persen disetiap pilkada didaerah.
Kelompok terakhir adalah pemilih buta politik, yg merasa cukup mengambil remah remah roti yg bertebaran. Tanpa peduli siapa yg akan memimpin mereka esok.
Dari dialektika kepentingan sosial ekonomi rakyat dgn kepentingan politik calon, kemudian merangsang munculnya praktek praktek yg kontra produktif terhadap tujuan pilkada itu sendiri.
1. Kampanye para calon relatif hanya berisi dua macam materi kampanye, yakni informasi ttg kebaikan diri sendiri, dan kejelekan rival politik.
2. Dr model kampanye para calon diatas, pemilih bukan saja tdk menjadi cerdas politik, malah pilkada menggiring rakyat kearah sebaliknya.
3. Dari level manajemen pemenangan para calon, kemudian lahir praktek praktek kampanye hitam, yg semakin merusak nalar politik setiap pemilih.

Realitas pilkada yg demikian diatas. Secara faktual kemudian menjadi penyebab kerusakan terstruktur dan masive ditengah tengah masyarakat daerah.
Pada periode pertama pilkada, tercatat banyak kasus pembakaran dan pengrusakan infrastruktur pemerintahan dan KPU. Terhitung, banyuwangi, maluku utara, probolinggo, kaltara, palopo dst.
Pada periode kedua, pilkada telah masuk dan merusak struktur sosial masyarakat. Silaturahmi terputus, saudara bermusuhan, anak ortu bertengkar dan yg paling mencengankan, pasca pilkada DKI antara Fausi Bowo dan Adang Dorojatun thn 2007, Dirjen Kementerian Agama merilis data, 157 pasangan suami Istri bercerai gara gara beda pilihan politiknya.

Kini, diperiode ketiga Pilkada kerusakan itu sdh masuk ke ruang ruang keagamaan. Agama dijadikan komoditi, hingga agama dinistakan hanya krn kehendak menang dlm rivalitas politik itu.
Dan tahukah kita, apalagi kerusakan yg bisa terjadi selanjutnya?
Ketika infstruktur pemerintahan sudah bisa dirusak, ketika struktur sosial masyarakat yg terbangun ribuan tahun itu telah hancur, ketika agama tak lagi menjadi agama dlm pilkada?
yg tersisa untuk dirusak selanjutnya adalah persatuan Indonesia. Sila ke kedua pancasila. Dan tahukah kita ketika pancasila tak lagi kuat menjadi dasar bernegara? Maka Indonesia tdk akan jadi Indonesia lagi.